Kisah Mengharukan Sang Juru Foto yang Mengabaikan Kamera demi Kemanusiaan

TENGAH KONFLIK: Abd.Alkader Habak saat menggendong seorang anak korban ledakan bom. (Twitter via Bussiness Insider)

Hargo.co.id – Bagi fotografer, apa yang tidak dapat diungkapkan lewat kata-kata bisa mereka suarakan melalui jepretan kamera. Tetapi, tidak demikian halnya dengan Abd. Alkader Habak. Ketimbang mengabadikan tragedi kemanusiaan seperti yang tersirat dalam foto Alan Kurdi pada 2015 atau gambar diam Omran Daqneesh tahun lalu, dia lebih memilih beraksi.

’’Semua yang terjadi di depan mata saya sangat mengerikan. Bayangkan, anak-anak meratap dan sekarat di hadapan Anda,’’ kata Habak kepada CNN tentang peristiwa Sabtu lalu (15/4).

Melihat pemandangan seperti itu, fotografer yang juga aktivis Syria itu memilih mengabaikan kameranya. Dia tidak membidik gambar bocah-bocah yang terkapar bersimbah darah di lokasi kejadian, tetapi malah berlari menghampiri para korban.

Habak dan belasan fotografer yang lain awalnya berada di pinggiran Kota Aleppo untuk meliput proses evakuasi warga sipil dari empat kota. Saat itu penduduk dari dua kota pro pemerintah sedang beristirahat di area pro-oposisi. Anak-anak yang lelah berkendara di dalam bus pun menggunakan waktu istirahat tersebut untuk bermain-main. Saat itulah, sebuah bom meledak. Sedikitnya 126 nyawa melayang.

Habak yang ketika itu berada di lokasi kejadian pun shock. Setelah ledakan yang memekakkan telinga itu, pemandangan bocah-bocah yang ceria bermain di dekatnya berubah menjadi kengerian. Serpihan tubuh manusia, genangan darah, serta bangkai mobil dan bus yang gosong. Bagi fotografer, semua yang tersaji saat itu adalah gambar-gambar ’’menarik’’. Gambar yang akan membuat media mereka laris manis.

Tetapi, akhir pekan itu, hati Habak tergerak untuk menolong. Dia tidak mau menjadi fotografer yang mengabadikan Alan Kurdi atau Omran Daqneesh dalam ketidakberdayaan mereka. ”Bersama beberapa teman, saya memilih menolong para korban. Karena itu, saya mengabaikan kamera saya dan mengulurkan tangan untuk mereka,’’ ungkap pria berambut gondrong tersebut.

Habak berlari menghampiri bocah lelaki yang terbaring tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia buru-buru memeriksa si bocah. Tidak ada napas. Tidak ada denyut nadi. Ajal sudah menjemput bocah itu dengan cara yang brutal. Mata Habak berkaca-kaca. Segera dia mengalihkan pandangan ke lokasi lain. Seorang bocah lelaki terkulai lemas di sekitar sana. Dia berlari lagi ke arah si bocah.

Saat Habak berlari, teman-temannya sesama fotografer meneriakinya. Mereka mengatakan bahwa bocah itu pun sudah tewas. Orang-orang di sekitarnya juga mengatakan hal yang sama. Tetapi, Habak tidak percaya begitu saja. Dia tetap berlari ke arah si bocah untuk memeriksa secara langsung. Benar saja, bocah berusia sekitar enam tahun itu masih hidup. Dia masih bernapas meski tidak berdaya menggerakkan tubuhnya.

Tanpa basa-basi, Habak langsung mengangkat si bocah. Dia membopong bocah itu sambil berlari menuju ambulans. ’’Bocah itu mencengkeram lengan saya sambil memandangi saya,’’ katanya. Sesampai di ambulans, dia membaringkan bocah tersebut. Tim medis segera bertindak. Sementara itu, Habak kembali ke lokasi ledakan tanpa tahu bagaimana nasib bocah yang ditolong tersebut.

Dia kembali menghampiri bocah-bocah yang tergeletak di lokasi ledakan. Beberapa di antara mereka sudah tidak bernyawa. Tetapi, sebagian yang lain masih hidup. Habak segera membawa lari bocoah tersebut ke ambulans. Kamera Habak yang dicangklong di lengan dalam posisi on merekam pemandangan mengerikan di sekitarnya.

Jika kamera Habak menjepret gambar para korban dan kekacauan setelah ledakan, ada kamera lain yang mengabadikan aksi Habak secara candid. Si pemilik kamera adalah Muhammad Alrageb. Fotografer yang juga teman Habak itu menjepret gambar yang kini menjadi perbincangan hangat publik. Dalam gambar itu, tampak Habak membopong seorang bocah lelaki seraya berlari menuju ambulans.

Kepanikan tergambar jelas di wajah Habak. Seperti pengakuannya kepada CNN, dia begitu emosional saat itu. Bahkan, saking emosionalnya, dia sampai terjatuh ke tanah setelah berkali-kali membopong bocah-bocah yang menjadi korban ledakan bom tersebut. Dalam foto jepretan fotografer yang lain, Habak terlihat menangis sambil bersimpuh. Di dekatnya terlihat mayat seorang bocah.

Alrageb yang mengabadikan aksi heroik Habak mengatakan sengaja memotret temannya itu sebagai bukti. ’’Saya ingin menjadikan foto itu bukti (kekejian perang). Saya bangga karena masih ada jurnalis muda seperti dia yang bersedia mengulurkan tangan,’’ ujarnya. Saat itu, sebenarnya Alrageb juga sedang menolong bocah-bocah yang terluka. Tetapi, melihat Habak berlarian menolong-bocah-bocah itu, dia bergegas mengambil kamera dan  memotretnya.

Total, 86 anak kehilangan nyawa dalam ledakan bom mobil Sabtu lalu. Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan bahwa pelaku ledakan yang menyetir sendiri mobil berbahan peledak itu memanggil anak-anak yang sedang bermain. Dia mengiming-imingi mereka dengan keripik kentang. Saat anak-anak berkumpul itulah, dia meledakkan mobilnya.

Kabar tentang ledakan yang menuai kutuk dunia itu memang simpang siur. Demikian juga halnya dengan kepastian jumlah korban. Tetapi, aksi Habak akhir pekan lalu jelas merupakan sebuah inspirasi. ’’Apa yang saya dan teman-teman saya saksikan tidak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata,’’ ujarnya. Seperti pepatah kuno Inggris a picture is worth a thousand words, foto Habak telah berbicara banyak. (CNN/hep/c4/any)