Kisah Menkopolhukam Jenderal (Purn) Wiranto yang Lebih Dikenal Tentara Asal Gorontalo

Menkopolhukam Jenderal (Purn) Wiranto ketika berkunjung ke Gorontalo. (Foto Natha/Gorontalo Post)

Menumpang Kapal dari Bitung, Tiba Gorontalo Malah Disuruh ke Botumoito

Nama Wiranto sangat familiar di Gorontalo, pendiri Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang kini menjabat Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) pada kabinet kerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini, memiliki kisah menarik dengan Gorontalo, seperti apa ?

TIBA di Gorontalo dengan Batik Air, Sabtu (15/4) pagi, Jenderal (Purn) TNI Dr.H. Wiranto, langsung menuju hotel, ia beristirahat beberapa saat sebelum menghadiri acara seminar nasional yang dihelat pagi itu, di Hotel Damhil UNG.

Kendati menjabat sebagai Menteri Koordintor Polhukam, mantan Panglima ABRI ini tak mendapat pengawalan yang super ketat. Itu karena Wiranto seperti pulang kampung. Gorontalo memang tak bisa lepas dari kehidupan Wiranto.

Di daerah berjuluk serambi madinah ini, Wiranto memulai karirnya sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI). Setelah lulus Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang tahun 1968, Wiranto yang kala itu berpangkat letnan dua, ditugaskan ke Gorontalo.

Sebagai aparatur negara, ia menerima mandat itu. Lalu berangkatlah ia ke Gorontalo dengan kapal luat yang berlabuh di Bitung. Dari Bitung, barulah Wiranto ke Gorontalo, juga dengan menggunakan kapal laut.

“Setelah sampai di Gorontalo, saya lapor kepada atasan saya, bahwa saya sudah siap tugas di Gorontalo. Tapi, atasan saat itu bilang tugas saya bukan di Gorontalo, tapi di Tilamuta,”ujar Wiranto saat memulai sambutanya pada seminar, di UNG Sabtu (15/4).

Ketika itu akses ke Tilamuta masih sangat sulit. Ia lalu menuju Tilamuta, setibanya di sana, Wiranto kembali melapor ke atasanya di Tilamuta.

“Namun atasan saya bilang kalau tugas saya itu di Botumoito,”ungkapnya.

Menuju ke Botumoito, ia menumpangi roda sapi milik warga. Roda adalah alat transportasi paling ‘canggih’ kala itu. Di Botumoito, ia lalu ditugaskan di Desa Totulo. Beberapa tahun tugas di wilayah yang kini menjadi bagian Kabupaten Boalemo itu, Wiranto lalu ditarik ke Batalyon Infanteri 713 Gorontalo, ia menjabat sebagai komandan peleton.

Menkopolhukam Jenderal (Purn) Wiranto ketika berkunjung ke Gorontalo. (Foto Natha/Gorontalo Post)

Suatu ketika, Pemda Kabupaten Gorontalo menyelenggarakan pemilihan Nou- Uti, Wiranto lantas jatuh cinta degan salah satu peserta, Rugaya Usman asal Suwawa yang saat itu masih bagian dari Kabupaten Gorontalo. Hingga pada 22 Februari 1975, Wiranto mempersunting Rugaya Usman. Pada tahun 1982, Wiranto dipindah ke Manado dan menjabat Komandan Yonif 712/Wiratama.

Setelah dari Manado, Wiranto dipindahkan ke Markas Besar TNI selama dua tahun, sebelum akhirnya bergabung di Kostrad sebagai Kepala Staf Brigade Infantri IX Jawa Timur. Dua tahun di sana, pada 1987 ia dialihtugaskan kembali ke Jakarta sebagai Deputi Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad.

Ia lalu dipilih sebagai ajudan Presiden Soeharto pada 1989-1993, berturut-turut kemudian tokoh kelahiran 4 April 1947 ini lalu menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Jaya, 1993-1994, Panglima Kodam Jaya 1994-1996, Panglima Kostrad 1996-1997, Kepala Staf TNI-AD 1997-1998, dan akhirnya mencapai karir militer tertinggi sebagai Panglima TNI pada Februari 1998 yang dijabat sampai 1999.

About Admin Arifuddin

Senang menulis dengan nuansa kesederhanaan

View all posts by Admin Arifuddin →