Kondisi Sudah Tua dan Pengap, Desak Pembangunan Lapas Baru

Komisi III DPR RI saat melakukan kunjungan di Lapas Kelas IIA Gorontalo, Rabu (13/12) (F. Yudhistirah Saleh/ Gorontalo Post)

Hargo.co.id, GORONTALO – Anggota Komisi III DPR RI Muhammad Nasir Djamil langsung dibuat terperanjat. Legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu hanya bisa mengeleng-geleng kepala saat melihat kumpulan pria yang menumpuk di balik jeruji besi. Saking padatnya, beberapa di antaranya hanya bisa berdiri bersandar di tembok melihat kedatangan Nasir Djamil selaku ketua rombongan.

Tak hanya penghuni yang padat. Udara di dalam ruangan juga terasa pengap. Ya, seperti itulah kondisi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gorontalo saat dikunjungi Komisi III DPR RI, Rabu (13/12). Komisi yang membidangi Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) serta Keamanan itu datang ke Gorontalo melaksanakan serangkaian agenda berkaitan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang diemban. Di antaranya peninjauan Lapas Gorontalo, Kantor Imigrasi serta pertemuan bersama jajaran Kanwil Kemenkumham serta Pengadilan Tinggi Gorontalo.

Menurut Nasir Djamil, meski secara umum masih cukup memadai, kondisi Lapas Gorontalo sudah memprihatikan. Penghuni lapas khususnya di sel tahanan cukup padat. Selain itu bangunan lapas terlihat usang dan tua.

“Dikhawatirkan kondisi ini bisa membuat para penghuni lapas tidak tenang dan memicu perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan,” ungkap politisi asal Nangroe Aceh Darussalam (NAD) itu.

Karena itu Nasir Djamil menekankan pentingnya penangan lanjut. Yakni pembangunan gedung/fasilitas lapas yang baru.

“Memang permasalahan over kapasitas terjadi di hampir seluruh lapas di Indonesia. Tidak hanya di Lapas Gorontalo,” kata Nasir Djamil.

Untuk mengurai permasalahan over kapitas, mengemuka gagasan untuk pemindahan tahanan. Khususnya dari lapas yang overkapasitas ke lapas yang tak overkapasitas. Namun Nasir Djamil menilai langkah tersebut berpotensi menimbulkan permasalahan baru.

“Pemindahan tahanan ke Lapas lain juga sejauh ini masih dilema dilakukan, karena tahanan pastinya lebih memilih berada di Lapas yang over kapasitas, dibandingkan harus dipindahkan ke Lapas lain yang notabonenya akan membuat mereka jauh dari keluarga, sementara kunjungan keluarga sendiri merupakan salah satu spirit kepada para narapidana untuk berubah ke arah yang lebih baik,” tutur alumi IAIN Ar-Raniri Banda Aceh tersebut.

Pria 44 tahun itu mengatakan, pihaknya masih terus mencari solusi yang pas untuk mengatasi persoalan over kapasitas.
“Kita akan terus berupaya agar permasalahan overkapasitas di hampir seluruh lapas di Indonesia bisa mendapatkan solusi terbaik,” kata Nasir Djamil.

Sementara itu Kalapas Gorontalo Widodo yang coba dimintai keterangan terkait kunjungan Komisi III DPR RI memilih tak berkomentar. Termasuk persoalan pengap di dalam Lapas Gorontalo. Usai mengantar rombongan Komisi III, Widodo memilih untuk masuk ke dalam ruangan. (tr-45/hargo)