Kreativitas Tanpa Orisinalitas

Hargo.co.id, Zetizen-GP Generasi Z pasti tahu dong soal yang namanya PLAGIARISME. Bahkan mungkin kita adalah salah satu dari sekian banyak pelaku plagiarisme. Bagaimana tidak? di Zaman menjamurnya Internetholic ini, pastinya plagiarisme juga sudah menjadi hal lumrah tanpa kita sadari. Mulai dari nyari tugas sampai bikin caption medsos pasti ada unsur plagiarismenya. But, tahu gak sih kalau plagiarisme itu adalah kebiasaan buruk yang harusnya kita tinggalkan? Let see this quote

“People who copy you, will always be one step behind” -Wayne Gerard Trotman

Seharusnya quote yang satu ini bisa menjadi pukulan telak buat kita dong. Kalau kita terbiasa plagiat, kapan mikirnya? kalau kita terbiasa plagiat, kapan berkaryanya? (ZT-11)

Tahu gak sih, ada salah satu kasus plagiarisme beberapa bulan lalu yang cukup menyita perhatian. Hal ini dilakukan oleh pejabat di Sulawesi Tenggara (Sultra). Mereka dianggap telah memplagiat disertasi saat menempuh program doktoral. Bahkan, dampak dari kasus tersebut,rektor kampus tempat mereka kuliah terancam diberhentikan dari jabatannya. Miris kan?

Tapi, plagiarisme nggak cuma terjadi di dunia pendidikan loh. Bahkan, kalau nggak berhati-hati, kita pun bisa melakukan tindakan plagiarisme tanpa sengaja. Masih ingat Afi Nihaya? Remaja asal Banyuwangi itu sempat viral setelah tulisannya yang berjudul Warisan di-repost ribuan pengguna Facebook. Sayangnya, setelah beberapa saat, terungkap fakta bahwa tulisan tersebut sebenarnya lebih dulu ditulis dan di-publish orang lain. Setelah itu, dalam status Facebook-nya, Afi mengaku bahwa plagiarisme sebenarnya sering dilakukan banyak orang tanpa disadari. ’’Ya, kita semua pernah. Siapa yang tidak pernah melakukannya? Mulai tugas sekolah sejak SD, makalah kuliah, ujian, sampai caption foto di media sosial,’’ ujar Afi.

Yap, statement dari Afi itu sekaligus menjelaskan bahwa plagiarisme juga terjadi pada hal-hal disekitar kita. Misalnya, melakukan copy and paste(copas) tugas dari internet tanpa mencantumkan sumbernya. Berdasar polling tim Zetizen, 91 persen Zetizen pernah meng-copas tugas. Parahnya lagi, 60 persen Zetizen di antaranya nggak menuliskan sumber tulisannya.

“Aku pernah plagiat. Apalagi pas mau ngerjain tugas, banyak materi yang aku ambil dari internet tanpa mencantumkan sumbernya,” ucap Aip, Zetizen asal salah satu Universitas di Gorontalo.

Bukan cuma tugas juga guys. Kita juga bisa kena tuduhan plagiarisme kalau bikin caption atau status berupa quote di medsos tanpa
mencantumkan sumbernya. Sebab, kalau nggak terima, pemilik quote bisa menuntutmu loh. Selain itu, meniru lagu atau karya seni juga termasuk plagiarisme.

So, Friendly remind you, plagiarisme punya banyak dampak buruk. Sebagai pemilik karya, si kreator pasti sangat dirugikan saat kamu memplagiat karyanya. Nah, kalau kamu ketahuan, ada hukum pidana yang menanti. Belum lagi sanksi sosial dari masyarakat yang bakal bikin kamu malu. So, stop plagiarism! Yuk, hargai karya orang lain! (may/c14/als/ZT-11/hargo)

Defri Hamid
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Gorontalo

Plagiator Pantas Dihukum
Pelaku plagiat (plagiator) atau pencuri karya sangat mencederai iklim kompetitif dalam berkarya. Mereka melakukan kecurangan dan orang curang sudah sepantasnya dihukum. Apalagi jika terjadi dalam dunia pendidikan, sudah seharusnya si pelaku plagiat dikeluarkan atau dicabut gelar akademiknya. (ZT-10)

 

Arif Lamusu
Mahasiswa PGSD, Universitas Negeri Gorontalo

Meningkatkan Kesadaran Diri
Setiap orang harus menanamkan rasa menghargai karya orang lain. Memplagiat sama saja dengan merendahkan diri kita sendiri karena tidak mampu membuat sesuatu yang baru, dan orang-orang yang melakukan plagiat perlu diberikan hukuman atas perbuatan mereka. Selain itu bagusnya dari pihak pemerintah terkait mulai mensosialisasikan atau mengkampanyekan gerakan anti plagiarisme. (ZT-10)

 

Plagiarisme Merusak Moral

Plagiarisme adalah ketika seseorang ingin menulis sesuatu namun hanya mengambil referensi dari satu sumber saja dan menyalin sepenuhnya sesuai dengan apa yang tertulis pada sumber aslinya, dan tanpa mencantumkan alamat atau nama sumber. Hal ini benar-benar tidak dibenarkan secara moral maupun akademis.

Taufik R. Talalu, S.Pd, M.I.Kom. Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo

Fenomena ini memang sering terjadi di zaman sekarang, misalnya karena kebutuhan mengejar deadline tugas. Namun pada dasarnya ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari plagiarisme, yaitu dengan mengembangkan budaya riset. Contohnya, ketika diberikan suatu tugas atau suatu topik, maka cobalah untuk mencari dari beberapa sumber, kemudian sarikan kembali dengan bahasa dan redaksi kalimat yang berbeda. Dan yang terpenting, cantumkan semua alamat atau nama sumber yang digunakan sebagai referensi. Dengan begitu, yang namanya plagiarisme dapat terhindari. Bahkan cara seperti ini justru sangat dianjurkan untuk menambah wawasan dan referensi.

Memang, ada segelintir orang yang menganggap bahwa plagiarisme itu adalah hal biasa dan lumrah. Tapi saya berharap remaja Gorontalo tidak seperti ini. Namun jika saja ada beberapa orang yang secara tidak sengaja masuk ke lingkungan yang berfikiran seperti itu, maka menjauhlah, karena itu berarti kalian berada dilingkungan yang tidak tepat.

Harapan saya, tidak ada lagi plagiarisme di Gorontalo, terutama bagi kalangan remaja, karena fenomena ini benar-benar harus dihentikan. Dan selain dengan adanya bantuan para guru atau dosen, saya berharap dalam diri para remaja pun harus tumbuh kesadaran bahwa plagiarisme itu adalah bad behavior yang harus ditinggalkan, karena ada cara yang lebih baik selain itu.

Do some research, do not be lazy, and STOP PLAGIARISM!!!