Lahan Kritis Kabgor Makin Luas

RUSAK - Lahan tanam milik masyarakat yang kurang memahami cara mengolah lahan tanam sehingga menyebabkan rusaknya bukit dan gunung. (Foto: Riyan/GP)

LIMBOTO BARAT Hargo.co.id – Kondisi Danau Limboto yang semakin hari semakin dangkal sungguh sangat memprihatinkan. Pasalnya, kedalaman Danau yang dahulunya mencapai 30 meter itu kini bahkan sudah tidak mencapai 3 meter lagi.

Hal ini disebabkan oleh tingginya sedimentasi akibat erosi yang terjadi di beberapa wilayah hulu, menyebabkan banyaknya material yang dibawa oleh sungai-sungai hingga mengendap di Danau. Inilah mengapa tanaman eceng gondok semakin subur dan sudah hampir menutupi seluruh wilayah Danau Limboto ini.

Pantauan Gorontalo Post, terlihat sejumlah wilayah pegunungan yang kondisi lahannya tak lagi terjaga. Bahkan di salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Desa Daenaa Kecamatan Limboto Barat, tepatnya di Dusun Marisa, kondisinya semakin parah.

Pohon-pohon rimbun yang seharusnya menghiasi wilayah ini sudah jarang ditemui, akibat pembebasan lahan yang dilakukan oleh para petani yang menanam jagung.

Kepala Balai Pengelolaan DAS, Hutan Lindung (BPDAS), Provinsi Gorontalo, M Tahir, saat dikonfirmasi mengatakan, dari total luas DAS di Kabupaten Gorontalo yakni 90,029 ha, sekitar 43% atau 40 ha sudah masuk dalam kategori lahan kritis.

“Jika ini dibiarkan, maka suatu saat danau Limboto akan tinggal menjadi kenangan karena akan semakin banyak sedimentasi yang menumpuk disana. Olehnya kami menghimbau kepada masyarakat terutama para petani yang menanam pada kemiringan di atas 30 derajat, agar mengubah sistem penanaman dengan menerapkan metode berbasis Konservasi tanah dan air. Yakni dengan membuat teras pada setiap lahan yang akan ditanami jagung maupun sayuran dan menyisahkan sebagian wilayah untuk ditanami pohon,” ujarnya. (tr-55/hargo)