Langkanya Elpiji 3 Kilogram, Warga Beralih ke Tungku

Masyarakat menggunakan tungku karena elpiji susah didapatkan di pangkalan. (F. Natha/ Gorontalo Post)

Hargo.co.id Gorontalo – Kelangkaan elpiji 3 kilogram kembali melanda Gorontalo. Bahkan, sudah hampir sepekan lamanya, masyarakat kesulitan untuk mencari gas elpiji bersubsidi tersebut. Akibatnya, tak sedikit masyarakat yang kesulitan memasak kembali menggunakan cara tradisional yaitu dengan memanfaatkan tungku kayu bakar.

Pantauan Gorontalo Post, Jumat (24/11), di daerah Bone Bolango, sejumlah pangkalan gas elpiji kosong sehingga membuat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan elpiji. Bahkan di daerah Kota Gorontalo pun turut mengalami kelangkaan.
Linda Danial salah seorang warga Desa Toto Utara, Kecamatan Tilongkabila ketika diwawancarai kemarin menjelaskan, sudah tiga hari keluarganya mempergunakan tungku, karena tidak ada elpiji.

“Kami berharap agar ini bisa diantisipasi sedini mungkin. Kasihan kami pak, harus gunakan tungku. Padahal ini adalah program pemerintah. Kami pun berharap agar mereka yang menimbun elpiji bisa diproses,” ungkapnya dengan nada emosi.

Sementara itu, sebelumnya dari tim gabungan yang terdiri dari pihak pertamina, Dinas Perindustrian Gorontalo, telah menyita kurang lebih 80 tabung gas ukuran 3 kilogram di tiga usaha rumah makan yang ada di Kota Gorontalo. “Ini menjadi salah satu penyebab kelangkaan gas elpiji 3 kilogram karena banyak digunakan oleh tempat-tempat usaha seperti rumah makan.

Untuk itu kami langsung mengambil tindakan tegas dengan menyita 80 tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram dan kami menggantinya dengan ukuran 5,5 kilogram agar tidak menyusahkan tempat usaha pula,” kata Yanto, Staf Diskopperindag.

Sales Executive Elpiji Sulut-Gorontalo, Parrama R. Amyjaya sebelumnya menjelaskan, distribusi elpiji 3 kg di sejumlah pangkalan sedikit mengalami gangguan disebabkan akhir akhir ini, kapal gas elpiji sulit untuk sandar. “Akhir akhir ini memang mengalami gangguan karena cuaca, menyebabkan kapal tak bisa sandar,” katanya.

Selain itu, kelangkaan bisa saja semakin parah disebabkan oleh banyaknya usaha usaha besar di Gorontalo yang menggunakan elpiji subsidi untuk keperluan bisnis. Sebagaimana hasil sidak tim penyalahgunaan elpiji 3 kg, cukup banyak usaha rumah makan dan laundry yang menggunakan elpiji 3 kg untuk menjalankan usaha tersebut. “Bahkan penggunaanya dalam jumlah banyak, ini menjadi perhatian kami.

Akan terus kita terlusuri sampai ke pangkalan. Apabila terjadi permainan antar pangkalan dan pelaku usaha, pangkalan akan kita tindaki.

Baru baru ini saja, satu pangkalan kita tutup karena ternyata menyalahgunakan elpiji 3 kg untuk keperluan usaha laundry-nya. Elpiji dipakai untuk jalankan mesin laundry,” tegas Parrama.(kif/dan/hg)