Lulusan Perguruan Tinggi Indonesia Lemah Bersaing

Puan Maharani (Foto JPNN)

Hargo.co.id MALANG – Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani menyatakan,Lulusan perguruan tinggi (PT) Indonesia masih lemah dalam persaiangan untuk melakukan inovasi.

Kelemahan itu berdampak pada kesiapan kesiapan teknologi, riset dan infrastruktur.Indonesia masih belum bisa bersaing di pasar global

”Karena itu, pemerintah berupaya untuk memacu pembangunan manusia terutama melalui jalur pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.

Dalam menghadapai tantangan yang cukup berat di masa mendatang kita harus menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang memiliki keterampilan dan berdaya saing tinggi,” tegas Puan Maharani dilansir Indopos (Jawa Pos Group), Senin (29/2).

Menurutnya, dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) sangat dibutuhakn tenaga kerja terampil.

Berdasarkan data BPS, tingkat pendidikan pekerja di Indonesia sekitar 65 persen didominasi oleh pekerja berpendidikan SMP ke bawah dan sekitar 25 persen oleh pekerja berpendidikan menengah.

Lulusan perguruan tinggi kontribusinya kurang dari 10 persen.

“Tingkat pendidikan tenaga pekerja yang rendah berdampak pada rendahnya produktivitas dan daya saing. Padahal persaingan global menuntut tenaga kerja yang berdaya saing, terampil dan kompeten,” ujar politisi PDIP itu.

Melihat persoalan ini, kata Puan, perlu melakukan penataan ulang terhadap orientasi pendidikan tinggi nasional.

Dia menyebutkan, ke depan Indonesia lebih banyak membutuhkan sarjana dengan kemampuan teknik yang memadai. Sayangnya sebagian besar pendidikan tinggi saat ini menghasilkan sarjana non teknik.

Kondisi tersebut dipandang tidak ideal.”Orientasi pendidikan tinggi di negara kita perlu ditata kembali. Di Indonesia diduga sekitar 75-85 persen lulusan perguruan tinggi berasal dari bidang non teknik.

Hal yang sebaliknya terjadi di Korea Selatan, dengan lulusan sarjana sebagian besar di bidang teknik,” katanya.

Banyaknya lulus perguruan tinggi dari bidang non teknik tidak terlalu kondusif untuk mendukung penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan peningkatan daya saing.

Dalam rangka peningkatan daya saing di MEA ini, imbuhnya, pemerintah mengalokasikan lebih dariRp 5.000 triliun untuk pembangunan infrastruktur.

”Hal itu tentu membutuhkan banyak tenaga kerja dari bidang teknik. Jangan sampai peluang ini nantinya hanya dinikmati oleh pekerja asing,” tegas Puan.

Dia juga juga mengungkapkan, selama ini pihak swasta berperan besar dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia.

Setidaknya saat ini ada 3.958 perguruan tinggi swasta atau lebih dari 95 persen. Sementara jumlah perguruan tinggi negeri kurang dari 5 persen. (adn/iil/JPG/hargo)