Marten Mengadu ke DPP, Pertanyakan Legalitas Pencopotan

Marten Taha

Hargo.co.id GORONTALO – Keputusan rapat pimpinan harian (Pinhar) DPD I Partai Golkar Gorontalo, Selasa (12/9), yang memtusukan menunjuk pelaksana tugas (Plt) ketua DPD II Golkar Kota Gorontalo, menggantikan Marten Taha, langsung direspon Marten Taha. Kendati belum menerima salinan atas putusan tersebut, kemarin (13/9 Marten langsung bertolak ke Jakarta untuk menemui Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar.

Langkah Marten tersebut untuk mempertanyakan sekaligus mengklarifikasi pencopotan dirinya sebagai Ketua DPD II Golkar Kota Gorontalo. Khususnya berkaitan dengan legalitas keputusan DPD I atas penunjukan Plt Ketua DPD II Golkar Kota Gorontalo.

Marten Taha saat berbincang dengan Gorontalo Post mengaku sangat kaget dengan putusan DPD I Golkar dalam rapat yang dipimpin ketua DPD I Rusli Habibie itu. Sebab, selama ini, kata Marten pihaknya selalu berupaya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Salah satu di antaranya memberikan klarifikasi terkait permasalahan yang terjadi di internal DPD II Partai Golkar Kota Gorontalo. “Saya sudah memberikan klarifikasi kepada tim 5. Demikian pula rapat konsolidasi sudah saya lakukan,” ungkap Marten.

Hanya saja, pria yang menjabat Walikota Gorontalo itu menyayangkan keputusan tim lima yang dianggap terburu-buru dalam menentukan sikap. Alasannya menurut Marten, tim lima tak memertimbangkan hasil klarifikasi yang disampaikannya.

“Justru hasil temuan tim lima atau informasi yang mereka dapatkan dari PK (Pimpinan Kecamatan), itu yang dilaporkan tim lima dalam rapat DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo. Harusnya tim lima mempertimbangkan klarifikasi saya,”kata politisi senior Partai Golkar itu.

Ketika ditanyakan apakah keputusan DPD I Partai Golkar terhadap dirinya sudah direncanakan sejak awal? Marten dengan spontan tak ingin suuzon terhadap keputusan sepihak yang diambil oleh DPD I Partai Golkar Gorontalo.

“Sudah direncanakan? Saya tidak berpikir sampai disitu. Saya tidak tahu itu direncanakan atau tidak, sehingga diambil keputusan seperti itu,” sambung Marten.

Dengan keputusan DPD I Golkar terhadap pergantian Marten sebagai ketua DPD II Partai Golkar Kota Gorontalo, kini mantan ketua DPRD Provinsi Gorontalo itu menunggu keputusan DPP Partai Golkar terhadap nasibnya sebagai ketua DPD II Golkar.

Menurut Marten, ketetapan final pencopotanya sebagai pimpinan partai Golkar Kota Gorontalo berada di tangan DPP.

Marten pun mengaku bahwa hinggta kemarin, ia belum menerima surat hasil rapat DPD I tersebut. “Saya menunggu dulu tim lima untuk membicarakan alasan kenapa saya digantikan. Karena sampai hari ini saya belum menerima surat.

Itu berarti saya masih ketua DPD II, kecuali saya sudah menerima surat tersebut, maka saya akan menerima itu. Karena keputusan ada ditangan DPP. Saya rencana kalau bukan sore ini (kemarin-red), besok pagi (hari ini) saya ke Jakarta untuk bertemu dengan DPP,” jelas Marten.

Marten pun akan menerima keputusan tersebut, jika sudah sesuai dengan mekanisme yang prosedural. “Kalau DPP menganulir surat keputusan itu, berarti tidak bisa dijalankan dan bukan menjadi keputusan final.

Legawa atau tidaknya itu bukan suatu pilihan. Sebab ini adalah keputusan,” papar mantan ketua KONI provinsi Gorontalo itu. Sebelumnya, Marten Taha hendak menemui Ketua DPD I Golkar Gorontalo Rusli Habibie, kemarin. Hanya saja, Rusli terlebih dahulu berangkat ke Jakarta dengan penerbangan pagi.

Seperti diketahui, pencopotan Marten Taha dari ketua DPD II Golkar Kota Gorontalo karena gejolak internal yang terjadi belakangan ini.

DPD I Golkar menyikapi mosi tidak percaya yang dilayangkan lima PK dan kurang lebih 30 pimpinan kelurahan (PL) Golkar di Gorontalo. Adanya mosi tidak percaya mengindikasikan terjadi perpecahan di tubuh Golkar Kota, apalagi desakan terakhir dari PK adalah meminta DPD I untuk segera melakukan Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) untuk menggantikan Marten Taha.

Hanya saja, DPD I tidak langsung mengambil sikap, terlebih dahulu dibentuk tim lima untuk mengklarifikasi laporan para PK. Keputusan tim lima, adalah memberikan kesempatan kepada Marten Taha untuk marjut seluruh PK dan melakukan konsolidasi internal, hanya saja hal itu tidak berjalan maksimal. (ndi/hg)