Melihat Aktivitas Hari Raya Nyepi umat Hindu di Wonosari, Boalemo

Pelaksanaan pawai Ogoh - Ogoh yang dipusatkan di Desa Bongo III Kecamatan Wonosari (7/3). Kemarin (8/3) masyarakat Desa Bongo III, Trirukun dan Desa Raharja melakukan ritual Nyepi dengan tidak ada aktivitas sama sekali. Foto Felix Idrus / Gorontalo Post).

Suka cita menyambut gerhana matahari di Gorontalo, Rabu (8/3) dilakukan sebagian masyarakat Gorontalo. Dengan berbagai peralatan sederhana, masyarakat ketempat-tempat stragis menyaksikan langsung fenomena alam yang jarang terjadi itu. Tapi bagaimana dengan umat hindu, yang kemarin merayakan Nyepi tahun baru saka 1938.

Felix Idrus-Boalemo

Rata-rata rumah warga terkunci rapat, di halaman rumah terlihat hanya ternak unggas seperti bebek dan ayam yang lalu lalang. Suasana sangat lengang, jalanan sepi. Nampak seperti perkampungan mati yang sama sekali tidak ada aktivitas.

Potret ini menggambarkan suasana Desa Trirukun, Desa Raharja, dan desa Bongo III Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Rabu (9/3) kemarin. Di tiga desa ini memang dihuni warga transmigrasi asal Bali yang beragama hindu.

Bagi umat hindu, (9/3) kemarin adalah tahun baru saka, hari raya Nyepi, hari besar umat Hindu. Hari raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup.

Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Dalam kepercayaan Hindu Nyepi suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa.

Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).