Membangun “Bancmark” Pariwisata Gorontalo

Membangun “Bancmark” Pariwisata Gorontalo

PEMBANGUNAN ekonomi mensyaratkan perlunya perubahan struktur ekonomi dari sektor tradisional yang mengandalkan hasil sumber daya alam ke sektor hasil pengolahan dan jasa. Secara empiris negara yang belum (tidak) melakukan perubahan struktur ekonomi sulit mengalami pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Selama tahun 2015 – 2017 pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengalami tekanan akibat kinerja ekspor menurun, dimana ekspor komoditi (hasil sumber daya alam) memiliki peran signifikan di dalamnya.

Sementara perekonomian Gorontalo selama 17 tahun semenjak kelahirannya sektor pertanian non olahan merupakan penyumbang terbesar, sekitar 40 persen terhadap pembentukan PDRB, itupun tidak luput dari besarnya anggaran digelontorkan. Dari sisi kebijakan anggaran, sektor pertanian mendapatkan jatah besar di luar sektor pendidikan dan infrastruktur.

Dengan sendirinya diasumsikan bahwa sektor pertanian menjadi buffer ekonomi Gorontalo, namun seiring perkembangan waktu jika diilustrasikan dalam kurva, pada awalnya mengalami increasing (naik) lambat laun mendatar, dan jangka panjangnya mengalami decreasing (menurun) bilamana tidak ditopang oleh biaya dan subsidi yang besar sebagai stimulan. Pertanyaannya sampai kapan model intervensi kebijakan seperti ini dilakukan? Ataukah pemerintah selamanya memberikan stimulan pada satu sektor saja?, tentu perlu dilakukan evaluasi, bagaimana memperlakukan sektor pertanian dan produknya agar lebih produktif dan memiliki nilai tambah, serta perlu memikirkan pengembangan sektor lainnya diluar sektor pertanian.

Tulisan ini tidak dimaksudkan merekomendasikan agar sektor pertanian dikurangi subsidi atau malahan dihapus, namun yang perlu dipikirkan nilai tambah serta rasio kontribusinya diharapkan menurun seiring dengan meningkatnya kontribusi sektor non primer, pada saat yang bersamaan terjadi pergeseran struktur tenaga kerja. Sebab tenaga kerja di Gorontalo lebih dari 50 persen merupakan pekerja di sektor pertanian, dan kelompok pekerja ini pula paling besar angka kemiskinannya. Sumbangan sektor pertanian untuk menopang pertumbuhan ekonomi Gorontalo merupakan kenyataan, dan pertumbuhan ekonomi tumbuh di atas rata-rata nasional, hanya saja pertumbuhannya cenderung kurang berkualitas, sebab sekalipun tumbuh tinggi namun efeknya terhadap penurunan angka kemiskinan kurang signifikan, demikian juga angka pengangguran (catatan, angka setengah pengangguran cukup tinggi).

Tidak ada jalan lain perekonomian Gorontalo harus “dipaksakan” melompat atau “big push“, ini dimaksudkan untuk melakukan diversifikasi pertumbuhan baru. Idealnya sektor industri pengolahan menjadi prime mover ekonomi namun kendalanya begitu banyak, termasuk terbatasnya pasar. Disinilah dibutuhkan lompatan ke sektor tersier (jasa), sektor pariwisata salah satunya paling potensial. Mengapa pariwisata?, alasannya; a) Memiliki potensi (sumber daya alam, budaya dan sosial). b) Prioritas pembangunan pemerintah pusat ada lima (maritim, energi, pangan, pariwisata dan industri (KEK/kawasan industri)). c) Pariwisata ressilent, menyumbang pertumbuhan terhadap PDB/PDRB) dan lapangan pekerjaan (labor insentive). d) investasi dan devisa, dan e).

Sektor ril memiliki lingkage dengan ekonomi kerakyatan dan berkontribusi langsung menggerakaan dan memanfaatkan (commodities, industries dan sources spending)
Mencermati pariwisata sebagai sektor potensi ekonomi, Indonesia terbilang lambat menjadikan prioritas
karena terlena dengan kekayaan komoditas (tambang dan produk pertanian), sementara negara tetangga
seperti Singapura, Malaysia dan Thailand sudah lama menempatkan pariwisata sebagai unggulan.

Efeknya kemudian competitiveness sektor pariwisata Indonesia relatif tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia dan Thailand. Ada empat indikator competitiveness, yakni (enabling environtment,
travel and torism policy and enabling condition, infrastructure,
natural and cultural resources), satu-satunya indikator yang dimenangkan
Indonesia yakni natural and cultural resources berada pada posisi 17 di atas tiga negara ASEAN lainnya.
Bagaimana Pariwisata Gorontalo?

Ada 10 lokasi destinasi pariwisata prioritas yang dicanangkan oleh pemerintah dalam RPJMN, Gorontalo tidak termasuk (di Sulawesi hanya Wakatobi). Sekalipun demikian, kita tidak perlu berkecil hati, sebab Gorontalo memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah jauh dari Wakatobi atau destinasi pariwisata prioritas lainnya di Indonesia. Berdasarkan portofolio pariwisata maka ada dua hal yang dapat perhatian, yaitu produk dan pelanggan. Produk yang paling diminati oleh wisatawan berkaitan dengan culture (60 %), kemudian nature (35 %) dan buatan manusia (5 %). Dalam konteks itu, pengembangan sektor pariwisata penting menentukan “positioning” serta perlunya “bancmark” pariwisata Gorontalo. Menurut hemat saya, “bancmark” pariwisata Gorontalo dikedepankan adalah nature, sekalipun culture juga punya potensi, namun bila culture (budaya + sejarah, kuliner + wisata belanja dan wisata kota + desa) agak sulit menggeser persepsi orang (wisatawan) bila menyebut wisata culture tidak jauh dari Yokyakarta, Bandung, Malang dan Sumatera Barat.

Mengapa wisata alam atau nature perlu dijadikan “bancmark? sebab nature (bahari, ekowisata dan petualang) di Gorontalo cukup banyak, misalnya taman laut Olele tidak kalah elok dibandingkan dengan Bunaken, Wakatobi, Togean, dan dari segi aksesibilitas jauh lebih gampang digapai Olele. Di luar itu ada Pantai Biluhu, Pulau Saronde dan bahkan wisata petualang untuk daerah Pinogu dapat diperkenalkan ke dunia luar. Potensi pariwisata nature tersebut belum dapat dieksplorasi secara optimal, sebab sinergitas antara pemerintah provinsi dan kabupaten belum terbangun dengan baik untuk mengembangkan sektor pariwisata.
Event dan promosi kepariwisataan masih dilakukan secara parsial, jalan sendiri-sendiri dan “bancmark” kurang fokus.

Pada akhirnya pariwisata dalam batas tertentu baru dimaknai sebatas
event seremoni (festival), menjadi bagian program dinas pariwisata.
Namanya program kedinasan bagaimana kegiatan (event) dapat terlaksana dan anggarannya terserap, tidak diperhitungkan dengan matang perbandingan anggaran program yang dibelanjakan dan return yang didapatkan dari event pariwisata?.
“Bancmark” pariwisata yang tidak fokus dipastikan tidak akan berkelanjutan,
misalnya membangun sarana pariwisata (buatan manusia) yang kurang strategis dan aksesibilitasnya jauh. Pada akhirnya sarana yang telah
dibangun tidak dimanfaatkan, apalagi menjadikan sumber pendapatan
daerah.

Disinilah pentingnya membangun dengan konsep, bukan membangun dengan landasan common
sense semata, pada akhirnya uang negara habis membangun sarana pariwisata tetapi tidak memberikan
efek terhadap perekonomian
daerah, dan minim dampaknya untuk peningkatan ekonomi kreatif
masyarakat di lokasi wisata. Atas pencermatan itu, “bancmark” pariwisata
Gorontalo perlu diperkuat, sembari menyusun strategi dan kebijakan pengembangan pariwisata melalui; a. Kajian dan pembuktian pentingnya pariwisata sebagai basis perencanaan, b. Pengembangan dan perencanaan memiliki konsistensi dengan penganggaran, baik ditingkat kabupaten/kota maupun provinsi, c.

Demand analisisnya, dan d. Persaingan dan perbandingan, standar (SDM dan objek wisata). Sejalan dengan itu pemerintah daerah
perlu memfokuskan melakukan perbaikan tiga hal, yakni infrastruktur pendukung lokasi wisata, membangun
fasilitas dan membangun manusianya, sebab ini menjadi keluhan wisatawan yang pernah berkunjung disalah satu lokasi wisata (Olele) yang saya kutip sebagai berikut “This city has potentials in terms of natural resources, but facilities and accessibility is far from ready. Not to mention the poor hospitality”.
C’mon Gorontalo!! Wake up!!.

 

Penulis Muh. Amier Arham

Ekonom Fakultas Ekonomi UNG