Mengintip Perjuangan Fatmah Pakaya Perempuan Bentor

Fatmah Pakaya dan sejumlha anaknya tinggal di sebuah rumah berdinding pitate atau anyaman bambu di Lingkungan II Tapadaa, Kelurahan Polohungo, Limboto.

Lazimnya, pengemudi bentor adalah kaum Adam. Tapi itu tidak berlaku bagi Fatmah Pakaya (38). Warga Kelurahan Polohungo, Limboto, Kabupaten Gorontalo ini terpaksa harus menarik bentor menafkahi keluarga kecilnya.

FRANCO BRAVO DENGO – LIMBOTO

Hargo.co.id – Kemarin pagi, sekitar pukul 09.00 Wita, tampak sebuah rumah berdinding pitate atau anyaman bambu di Lingkungan II Tapadaa, Kelurahan Polohungo, Limboto. Di depannya, diparkir sebuah bentor dengan nomor polisi DM 6858 BN. Sekilas memang tampak biasa.

Ketika Gorontalo Post masuk dan memberi salam, munculah seorang ibu, yang belakangan diketahui bernama Fatmah Pakaya. Dia berperawakan agak kurus. “Waalaikum salam,” ucap Fatmah yang membalas salam. Ibu yang akrab disapa Ta Elen ini rupanya merupakan single parents atau orang tua tunggal dari anak-anaknya. Suaminya, Sukarni Pilomonu, sudah meninggal dunia lebih dari setahun yang lalu. Tak banyak yang diwariskan oleh sang suami, melainkan rumah dan bentor.

Setelah ditinggal suami, praktis hampir tak ada lagi yang bisa menafkahi keluarganya. Tak ingin hidup meminta-minta, Fatmah pun tak punya pilihan lain selain mencari nafkah dengan bentor yang ditinggalkan mendiang suaminya.

Ibu tiga anak ini harus berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi. Meski pekerjaan mengemudi bentor ini tidak lazim dilakukan oleh seorang perempuan, Fatmah tak bergeming. Tak ada pilihan lain. Setelah mengantar anak-anaknya di sekolah, Fatmah kemudian lanjut mencari nafkah. “Alhamdulillah, setiap hari saya bisa dapat Rp 30 Ribu sampai Rp 60 Ribu. Pernah juga sehari tidak dapat apa-apa. Tapi itu sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Fatmah.

Selain sebagai tukang bentor, Fatmah juga memanfaatkan waktu senggang untuk menjadi pembantu rumah tangga di salah satu rumah di Desa Pentadio, Telaga Biru. “Habis antar anak-anak, saya langsung ke Pentadio mencuci, memasak dan menyetrika,” kata Fatmah. Setelah itulah, kemudian Fatmah kembali melanjutkan dengan mencari penumpang dengan bentornya, hingga malam hari.

Aktivitas itulah yang setiap hari dilakukan seorang Fatmah tanpa mengenal letih dan sakit demi keluarga tercinta. “Sering ti mama jaga sakit, tapi tetap ba paksa mancari nafkah,” terang Pratiwi anak sulungnya. Pratiwi bersama adik-adiknya, Zulkifli dan Riski sering diajarkan kesederhanaan oleh sang ibu. Bahkan, mereka mengaku sangat bahagia hanya dengan melihat senyum dari ibunya.

Saat ini, mereka tinggal di rumah pitate dengan satu kamar yang sangat sederhana. Sekitar tahun 2015, pernah aparat dari Pemerintah Provinsi Gorontalo datang melakukan pendataan untuk bantuan rumah layak huni (Mahyani). Namun hingga saat ini bantuannya belum juga terealisasi. “Untuk mandi dan air minum, kami numpang di rumah tetangga. Itu sudah kami syukuri,” pungkasnya.(hg)