Menkes Tak Respon RSJ, Meski Penderita Sakit Jiwa Gorontalo Membludak

Menkes dr. Nila Moeloek ketika berkunjung ke Gorontalo. (foto andi arifuddin/gorontalo post)

GORONTALO Hargo.co.id – Kedatangan Menteri Kesehatan Dr.dr. Nila Djuwita F. Moeloek ke Gorontalo, Minggu (16/4) kemarin, diharapkan bisa membawa angin segar untuk mendukung penyelesaian sejumlah persoalan kesehatan yang sedang dihadapi sekarang ini. Seperti kecenderungan jumlah penderita gangguan jiwa yang terus bertambah tapi tidak diimbangi dengan pembangunan rumah sakit jiwa (RSJ) untuk memulihkan para penderita.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menunjukkan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ditemukan pada 2016 sebanyak 660 orang dan dipasung 104 orang. Diperkirakan dari total jumlah penduduk Gorontalo sebanyak 1.165.839 jiwa, orang dengan gangguan jiwa berat mencapai 1.650 orang dan dipasuk 303 orang.

Namun angka yang cukup fantastis ini rupanya belum mampu mengetuk hati Menkes untuk mendorong pembangunan rumah sakit jiwa di Gorontalo.

Hal itu tercermin dari pernyataan Menkes dr. Nila Moeloek saat diwawancarai usai membuka rapat kerja kesehatan daerah (Rakerkesda) dan rapat koordinasi teknis program kesehatan masyarakat dan pencanangan Gerakan Hidup Sehat tingkat Provinsi Gorontalo, Minggu (16/4) di Maqna Hotel.

Menurut dr. Nila pembangunan RSJ harus melalui tahap penilaian dulu. Apakah Gorontalo layak dibangun RSJ atau tidak. Jika belum terlalu dibutuhkan, maka pemerintah harus mengedepankan pelayanan kesehatan yang memadai untuk masyarakatnya. “Jangan semuanya main bikin-bikin. Nanti mubajir lah. Nanti kita nilai cukup nggak. Terutama dari kesiapan pemerintahnya dalam menyiapkan sarana prasarana. Serta dokter kejiwaan itu sendiri,” ucapnya sembari berjalan menuju lobi luar.

Namun dr.Nila mendukung dokter di Gorontalo untuk dapat mengambil dokter spesialis jiwa. “Kayaknya memang dokter jiwa hanya sedikit. Banyak dokter yang jarang mengambil spesialis ini. Makanya kita siapakan semuanya, termaksuk saya mendorong dokter di Gorontalo untuk mengambil spesialis jiwa,” terang Nila.

Lanjut dikatakan dr. Nila, pada masa Millennium Development Goals (MDGs) seluruh issue kesehatan dapat diintegrasikan dalam satu tujuan yakni good health and well being yang berarti menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Meski begitu ada 9 target yang menjadi tantangan dalam menyelesaikan issue kesehatan. Yaitu lanjutan MDGs (unfinished bussines) diantaranya MMR,IMR, HIV/AIDS, TB dan Malaria, akses kesehatan reproduksi.

Sementara untuk perhatian baru yaitu kematian akibat PTM, penyalahgunaan narkotika dan alkohol, kematian akibat cedera dan kecelakaan lalu lintas, universal health coverage, kontaminasi dan polusi air, udara tanah serta penanganan krisis dan kegawatdaruratan. “Disamping itu kita perlu adanya terobosan untuk penurunan angka kematian ibu dan bayi. Meski angka kematian ibu ‘absolut’ telah berhasil kita turunkan.