“Minta Uang Rp 20 Ribu” Nyawapun Melayang

Ilustrasi Pembunuhan (Gorontalopost/hargo.co.id)

Hargo.co.id MARISA – Aksi pemalakan dan premanism, selain meresahkan warga, aksi ini juga kerap menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban. Bahkan berujung tindak kekerasan/penganiayaan.

Seperti yang terjadi di Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Pohuwato, Sabtu (5/3) pukul 12.30 wita. Seorang kernet bus AKAP Gorontalo-Palu, Rahman Butulo (41) meregang nyawa lantaran usai ditikam IM alias Ino warga Desa Botubilotahu, Kecamatan Marisa, Pohuwato.

[Baca: Begini Kronologis, Korban Sopir yang Dipajak Uang Rp 20 Ribu itu]

Ironinya, warga Desa Dunggala, Kecamatan Tapa, Bone Bolango itu tewas hanya lantaran uang Rp 20 ribu.

Informasi yang dirangkum Gorontalo Post(grup hargo.co.id), sebelum kejadian, Ino yang diketahui residivis kasus penganiayaan sedang duduk bersama empat rekannya di sebuah pangkalan angkutan umum di Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Pohuwato.

Masing-masing Neds, Andi, Syaiful dan Yahya. Ino dan empat rekannya duduk sambil mengkonsumi miras. Beberapa saat kemudian, Neds dan Yahya meninggalkan lokasi. Sehingga di tempat itu duduk Ino, Andi dan Syaiful.

[Baca: Usai Membunuh Pelaku Sempat Bertanya kepada Korban]

Sekitar pukul 12.30 wita, melintas bus AKAP DN 7833 C jurusan Gorontalo-Palu. Bus tersebut bergerak dari Kota Gorontalo menuju Palu. Bus yang dikendarai Fauzy Abdullah itu dicegat Ino. “Minta uang Rp 20 ribu, mau pake tambah-tambah bagate (mabuk,red),” ujar Ino.