Mobil, Meja, Kursi, dan Ayunan di Bawah Laut

MEMUKAU : Wartawan Jawa Pos Eko Priyono mengibarkan bendera merah putih di taman bawah laut Pulau Rubiah (14/8) lalu. Sepeda motor itu terbawa arus tsunami pada 2004 lalu dan menjadi rumah karang. (Eko Priyono/Jawa Pos)

MEMUKAU : Wartawan Jawa Pos Eko Priyono mengibarkan bendera merah putih di taman bawah laut Pulau Rubiah (14/8) lalu. Sepeda motor itu terbawa arus tsunami pada 2004 lalu dan menjadi rumah karang. (Eko Priyono/Jawa Pos)

Hargo.co.id – Kalau hanya dilihat dari satu sisi, Pulau Weh, seperti halnya berbagai tapal batas lain, adalah ’’anak tiri” Indonesia. Akses tak gampang, fasilitas pendukung minim.

Tapi, dari sisi yang lain, inilah salah satu ’’surga tersembunyi’’ Indonesia. Nun di ujung paling barat negeri ini, ada hamparan pantai bening dengan pasir putih nan lembut. Yang dikelilingi balutan hutan lindung menghijau.

Ada 14 pantai wisata di sekitar Pulau Weh yang bisa dikunjungi dengan bebas dan gratis. Warga setempat yang mengelola kawasan wisata dan menyediakan fasilitas wisata. Misalnya, perahu, peralatan menyelam, snorkeling, rumah makan, dan cenderamata.

Pemerintah Kota Sabang memang tidak mengelola pantai itu sebagai sumber pendapatan daerah. Pajak dari sektor pariwisata hanya diambil dari pengelola rumah makan dan penginapan.

Salah satu yang wajib dikunjungi wisatawan ketika berkunjung ke Sabang adalah Pulau Rubiah. Pulau itu berada di sebelah barat laut Pulau Weh. Dari bibir Pantai Iboih, pulaunya terlihat sangat jelas. Hanya dipisahkan hamparan laut yang airnya sangat bening.

Banyak yang menjuluki pantai di sekitar Pulau Rubiah dengan sebutan surga taman laut. Terumbu karang yang indah dan ikan beraneka warna menjadi panorama yang tidak terbayarkan. Pemandangan menawan hingga ke dasar laut bisa dinikmati meski hanya dengan snorkeling.

Bagi yang suka menyelam, ’’prasasti’’ tsunami yang berada di bawah laut layak dikunjungi. Yaitu, benda-benda yang tenggelam di sana karena terseret saat terjadi malaise besar pada 26 Desember 2004 itu. Ada sepeda motor, mobil, meja, hingga kursi. Ada juga ayunan yang bisa digunakan.

Jangan khawatir, peralatan menyelam sudah tersedia lengkap di sekitar pantai. Meski belum pernah menyelam atau tidak bisa berenang, Anda tetap bisa menikmati pemandangan bawah laut bak penyelam sejati.

Ada pemandu yang bisa menemani hingga selesai. Biasanya, pemandu itu memberikan pelatihan dasar selama 20 menit untuk mengenalkan peralatan selam.

Lokasi lain yang wajib didatangi adalah Tugu 0 (Nol) Kilometer. Prasasti penanda batas itu berada di ujung Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya dan Sukajaya. Dari Kota Sabang, jaraknya 29 kilometer. Bisa ditempuh selama 45 menit.

Jalannya mulus, tapi tidak terlalu lebar. Jalan berkelok dan naik turun, melewati hutan wisata yang rimbun dan perawan.

Kendaraan kadang harus diperlambat ketika ada kera yang bermain di atas aspal. Atau ada ular yang menyeberang. ”Tidak boleh dikasih makan Mas. Biar tidak berharap terus,” kata Budiman, pengemudi asli Sabang.

Rasa waswas karena jalan basah dan sesekali menukik terobati oleh pemandangan pantai yang biru dan memanjang di sisi kanan jalan. Rumah-rumah penduduk sangat jarang. Kalaupun ada, lokasinya berjauhan.

Budiman mengatakan, kondisi jalan mulus gara-gara didatangi Presiden Jokowi pada 2015 lalu. Dulu jalan hanya cukup untuk satu mobil. Jika berpapasan, mobil harus melambat dan salah satu mengalah. ”Dulu sering mobil jatuh ke jurang setelah tabrakan,” ucapnya.

Saat ini Tugu Nol Kilometer tidak bisa dinikmati utuh. Wisatawan tidak bisa menaiki tangga tugu tersebut dan hanya bisa melihat dari luar. Sebab, tugu yang diresmikan Wakil Presiden Try Sutrisno pada 9 September 1997 itu kini sedang ditinggikan.

Awalnya, tinggi tugu tersebut 22,5 meter. Pemerintah Kota Sabang meninggikannya menjadi 75 meter. Tapi, rencana itu berubah. Kini tugu dipugar untuk diubah menjadi 45 meter. ”Kalau sesuai rencana semula terlalu tinggi,” kata Wali Kota Sabang Zulkifli H Adam.

Dia menjelaskan, perubahan rencana itu dilakukan karena mempertimbangkan lokasi. Tugu itu berada di tepi laut. Jika terlalu tinggi, dikhawatirkan tugu roboh karena longsor atau terkena angin kencang dari arah laut.

Sayangnya, pada peringatan HUT Ke-72 RI ini, tugu itu belum jadi seratus persen. Pekerja bangunan masih memasang keramik dan membenahi banyak sisi bangunan. Kayu penyangga juga masih melekat pada bangunan dengan mahkota lingkaran raksasa itu. Kalau mau foto-foto, pengunjung hanya bisa melakukannya dari bawah.

Dari lokasi tugu itu, kita bisa melihat pulau terluar Indonesia. Namanya Pulau Rondo. Jaraknya sekitar 9 kilometer dari Tugu Nol Kilometer. Pulau itu tidak berpenghuni. Hanya pasukan marinir penjaga perbatasan yang menempatinya.

Jawa Pos berusaha menjangkau pulau tersebut. Tapi, tidak ada pemilik boat yang berani lantaran ombak sedang tinggi dan angin cukup kencang. ”Kalau ke sana, lebih aman naik kapal besar. Kalau enggak, naik helikopter. Kalau mau bulan sembilan (September, Red),” ucap Zarkasyi, penyewa kapal di Gampoeng Iboih.

(eko/c17/ttg/hg)