Parah! Tujuh Sipir dan Enam Napi di Boalemo Postif

BNNK Boalemo melakukan tes urin terhadap pegawai Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Boalemo kemarin (8/4). ( Foto Felix Idrus / Gorontalo Post).

Hargo.co.id BOALEMO – Mengejutkan. Setelah terbongkarnya kasus peredaran narkoba dari dalam Lapas Gorontalo beberapa waktu lalu. Kini tujuh orang sipir Lapas Boalemo dinyatakan positif urine mengandung Benzodiasepine saat dilakukan tes urine oleh BNN Kabupaten Boalemo, Jumat (8/7).

Selain tujuh napi, terdapat juga enam nara pidana yang merupakan warga binaan lapas positif urine.
Pantauan Gorontalo Post, pukul 08.30 wita, petugas BNNK mendatangi Lapas Boalemo dan langsung menuju aula Lapas. Tujuanya melakukan tes urin terhadap seluruh pegawai Lapas berjumlah 54 orang, serta 52 warga binaan dari total jumlah 153 warga binaan yang berada dilapas.

Dengan demikian BNNK Boalemo berhasil melakukan tes urin 106 orang dilapas Boalemo yang melibatkan pimpinan Lapas hingga narapida. Kalapas Bolaemo Syarifudin Nakku, mengatakan kendati terdapat 7 Napi dan 6 warga binaan yang positif, namun pihaknya memastikan bila lembaga yang ia pimpin tidak ada peredaran narkoba.

“Jadi yang positif keran pengaruh obat -obatan yang dikonsumsi, sementara untuk positif Narkoba tidak ada,” tandasnya. Lanjut katanya bahwa pihak lapas sering melakukan razia rutin setiap bulannya. Penggeladahan sering dilakukan oleh pihak lapas minimal dalam sebulan 2 kali. Sebagimana SOP didalam lapas barang barang seperti handpone disita dan sanksi diberikan.

Sementara Kepala BNNK Boalemo Agus Anwar didampngi Kepala Seksi Rehabilitasi Ahmad Intihan menjelaskan bahwa dari hasil tes urin tercatat ada 7 sipir yang positif golongan III yang mengandung Benzodiasepine setelah dilakukan asesmen ternyata ke 7 sipir tersebut menggunakan obat – obatan yang diresep oleh dokter.

Selain itu ada 6 narapidana yang tercatat positif diantaranya 3 orang positif golongan III mengandung Benzodiasepine, sementara 3 lainnya positif golongan I mengandung Amphetamine jenis sabu dan methamphetamine jenis ekstasi.

“Golongan III merupakan narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi ringan ketergantungan, sementara golongan I merupakan narkoba yang hanya digunakan untuk tujuan pengembangan dan tidak dapat digunakan dalam terapi serta memiliki potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Sehingganya golongan III tidak berbahaya karena hanya jenis obat obatan, hanya saja untuk golongan I perlu kita tindak lanjuti kembali dnegan melakukan tes urin pekan depan,”ujarnya tanpa menyebut siapa saja yang positif tersebut.

Sementara itu, Tak genap sepekan. Polres Gorontalo Kota kembali membekuk jaringan pengedar narkoba. Ini menyusul ditangkapnya AS alias Zis (36) warga Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulondhalangi, Kota Gorontalo, tadi malam (8/4). Zis ditangkap di kompleks Lapangan Taruna Remaja, Kota Gorontalo saat akan bertransaksi narkoba bersama Kabo Malango (34) warga Kelurahan Limba B, Kota Selatan, Kota Gorontalo.

Baik Zis maupun Kabo keduanya memang telah menjadi target operasi (TO). Gelagat mereka terlibat dalam kasus barang haram ini sudah sejak tiga bulan lalu tercium petugas. Semalam, keduanya tak berkutik ketika disergap.
Modus keduanya yang diduga sebagai pengedar sabu ini sangat rapi.

Pertama Zis menyerahkan satu paket sabu seharga Rp 200 ribu kepada Kabo di halaman hotel Saronde, kompleks lapangan taruna remaja. Oleh Kabo, barang laknak itu kemudian diletakkan disalah satu sudut halaman hotel Saronde. Diduga barang tersebut akan dijemput pemesan di tempat itu.

Zis ketika langsung meninggalkan Kabo dan menunggunya di pasar kuliner lapangan taruna. Tak mengira, aksi keduanya telah dipantau polisi. Usai meletakkan narkoba dan menemui Zis di pasar kuliner, keduanya langsung dibekuk. Oleh petugas, mereka diminta menunjukan tempat diletakkanya narkoba oleh Kabo.

Benar saja, narkoba jenis sabu yang diletakan di dalam bungus rokok itu langsung diamankan dan dijadikan barang bukti. Polisi kemudian mengembangkan dengan melakukan penggeledahan di rumah zis. Di tempat ini petugas tidak menemukan narkoba, hanya terdapat plastik tempat sabu sisa pemakaian.

Kepada Gorontalo Post tadi malam, Zis mengakui bila narkoba tersebut miliknya. “Saya dapat barang itu dari teman saya yang berada di Palu, proses kirimanya ke Gorontalo melalui darat.”kata Zis. Ia mengaku telah dua kali menjual narkoba dengan harga Rp 200 ribu dan Rp 300 ribu.

Kapolres Gorontalo Kota AKBP Rony Yulianto,SIK melalui Wakapolres Gorontalo Kota Kompol Jibrael Bataawy, membenarkan adanya penagkapan dua pelaku yang terlibat kasus narkoba jenis itu. “Kami menangkap 2 orang yang di duga pengedar sabu. Keduanya sudah kami incar selama 3 bulan ini,”ujarnya yang mengaku akan segera memproses kasus tersebut.(tr-30/tr-49/hargo)