Penanganan Anthrax Belum Maksimal, Daging Sapi Beredar Luas, Masyarakat Diminta Waspada

Ilustrasi

Hargo.co.id GORONTALO – Dalam sepekan terakhir masyarakat Gorontalo dikejutkan dengan wabah anthrax yang terjadi di Kabupaten Gorontalo. Berdasarkan Hasil pemeriksaan Balai Besar Veteriner (BBVet) terhadap sampel darah dan daging sapi menyebutkan positif Anthrax. Menariknya, meski telah ditetapkan positif namun penanganan masalah ini, dinilai belum maksimal. Terutama dalam hal penetapan  Kejadian Luar Biasa (KLB) Anthrax, yang terjadi justru tarik ulur antara  Pemprov Gorontalo dan Pemkab Gorontalo.

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo Sunandar Bokings melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner Agustina Kilapong mengatakan, kasus Anthrax di Kabupaten Gorontalo bisa ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Menurutnya, penetapan KLB Antrax penting agar penanganan lebih terarah dan wabah tidak segera meluas. “Dalam ketentuan, satu ekor saja yang positif, itu sudah bisa KLB. Apalagi Gorontalo sebelum-sebelumnya tidak ada kasus Anthrax,”ujarnya.

Sedangkan yang berwenang menetapkan KLB, lanjut Agustina Kilapong adalah Bupati/walikota. “Pak Bupati (Prof Nelson, Bupati Kabgor) yang berwenang menetapkan,” tandasnya. Bila telah ditetapkan KLB, Agustina mengatakan daerah bisa memanfaatkan anggaran pada pos bencana untuk pencegahan.

“Kalau KLB, maka itu sudah bencana. Ini bencana non alam,”paparnya. Gubernur Gorontalo Rusli Habibie lanjut Agustina Kilapong telah mengeluarkan surat edaran yang meminta seluruh Bupati/Walikota waspada anthrax dan berkoordinasi dengan BBVet.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo Haris Tome menegaskan, kendati telah ditemukan kasus Anthrax namun pihaknya belum menetapkan KLB. Alasanya, kasus anthrax belum ditemukan menyebar ke daerah lain selain di empat 4 desa di Telaga Biru, yakni Desa Ulapato A, Pentadio, Lupoyo dan Bulota.