Penyakit Katastropik, Gagal Ginjal Jadi Beban BPJS Nomor Dua

Ilustrasi (doc Jawa Pos.com)

Hargo.co.id – Penyakit gagal ginjal merupakan salah satu penyakit katastropik. Penyakit degeneratif akibat gaya hidup itu menelan biaya banyak untuk pengobatannya. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan semakin banyak menanggung beban biaya cuci darah atau hemodialisis para pasien gagal ginjal.

Koordinator Wilayah Jakarta Pernefri (Perhimpunan Nefrologi Indonesia), dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH menyebutkan saat ini gagal ginjal menjadi penyakit nomor dua yang beban biayanya ditanggung oleh BPJS. Gagal ginjal nyaris menyusul penyakit kanker yang masih bertengger di nomor satu.

“Iya katastropik. Akan tetapi perlu dipahami, dulu mengapa tak banyak penderitanya? Mungkin dulu biayanya tak ditanggung BPJS, sehingga pasien tak datang. Saat ditanggung BPJS, barulah pasien datang,” tegas Tunggul, Sabtu (19/8).

Penyebab utamanya adalah diabetes, hipertensi, sumbatan, hingga obat-obatan analgesik dan lainnya. Pada tahap awal memang tak memberikan gejala yang khas, namun penderitanya baru merasakan sakit ketika fungsi ginjalnya sudah anjlok.

“Banyak pasien coba-coba pergi ke orang pintar dulu dan lainnya. Padahal gagal ginjal penyakit seumur hidup. Statistik justru terlihat, orang meninggal dengan gagal ginjal lebih banyak meninggal karena seramgan jantung. Jadi bukan karena ginjalnya tapi karena strokenya karena tubuh ini satu kesatuan,” tegasnya.

Tunggul menilai penyakit ginjal bisa dicegah dengan gaya hidup yang baik. Jika sudah terkena bisa diperlambat, dan jika sudah buruk bisa diobati dengan terapi.

“Seseorang pasti ada yang menjadi high risk grup. Potensial gagal ginjal. Bisa karena diabetes, hipertensi, obesitas, autoimun dan lainnya. Karena itu selalu jaga pola makan dan berat badan,” ungkapnya.

(ika/JPC/hg)