Petani Padi di Bonbol Mulai Panen

Para petani di Kecamatan Tilongkabila, Bone Bolango mulai memanen padi sawah yang ditanam pada awal musim kemarin. (FOTO OBI/GP)

Hargo.co.id BONBOL – Hasil produksi padi sawah untuk wilayah Kabupaten Bone Bolango menurun drastis. Penurunan produksi padai sawah ini dipengaruhi oleh cuaca yang tidak menentu, sehingga para petani yang menanam padi pun tidak serentak,  yang pada akhirnya berdampak pada hasil panen.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu melakukan panen serentak, namun untuk kali ini, sebagian petani sudah masuk panen, sementara petani laninnya masih dalam fase pemeliharaan.

Hal ini Seperti terlihat di Kecamatan Kabila. Dimana sebagian lahan pertanian mengalami kekeringan termasuk lahan sawah para petani, sehingga banyak petani terpaksa belum bisa melaksanakan panen.

Di sisi lain, gejolak pasar terus menunjukan peningkatan harga beras. Kekhawatiran akan tingkat produksi beras yang tidak optimal, akan membuat harga beras akan terus mengalami kenaikan.

Namun hal ini buru-buru dibantah Kepala Bidang Tanaman dan Holtikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Bonbol, Erwin Ilahude. Ia mengklaim hasil produksi Gabah Kering Giling (GKG) para petani di seluruh wilayah Kabupaten Bonbol untuk musim panen kali ini dapat menutupi kebutuhan beras di Bonbol.

“Memang kali ini tidak serentak. Karena setelah pergantian musim dari kemarau ke hujan kemarin, sebagian lahan masih belum mendapat aliran air maksimal sehingga petani di tempat tersebut menunda waktu penanaman. Sementara yang lainnya sudah langsung mulai menanam saat masuk musim penghujan,” tuturnya saat diwawancarai kemarin, (18/3).

Disampaikan Erwin, ada sejumlah kecamatan seperti Tilongkabila, Bulango Cs dan Kecamatan Pinogu yang sudah panen dan memperoleh produksi maksimal.
“Padi Sawah di kecamatan lainnya memang belum panen. Tapi tak lama lagi akan segera menyusul. Kalau nanti sawah-sawah di kecamatan lainnya panen, dipastikan Bonbol surplus beras,” jelasnya.

Sementara harga beras di pasaran, masih menembus angka Rp 450 ribu per koli (50 kg). Bahkan ada yang hingga Rp 510 ribu per koli.
Meski panen padi tidak serentak, diharapkan harga beras di pasaran Gorontalo kembali normal. Agar rakyat kecil, tidak menjerit. “Saya hanya berharap agar harga beras bisa turun dengan adanya musim panen kali ini. Harga yang sekrang bisa membuat saya menjerit. Terlebih dengan penghasilan pas – pasan,” ungkpa Yoneng (29) yang merupaka warga Desa Buhu, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo.(tr-50/hargo)