Pilkada 2018! Figur Birokrat – Akademisi Miliki Peluang

Ilustrasi.

GORONTALO Hargo.co.id – Tak hanya menjadi panggung para politisi. Kalangan birokrasi dan akademisi juga banyak memanfaatkan momen pesta  demokrasi untuk menggapai jabatan kepala daerah maupun kepala daerah. Dalam sejarah Pilkada di Gorontalo, birokrat atau dari kalangan aparatur sipil negara, tak pernah absen dalam hajatan Pilkada.

Buktinya, daerah di Gorontalo kecuali Boalemo dan Bone Bolango kini pemimpinya berasal dari birokrasi atau pun akademisi. Itu mengindikasikan kalangan birokrat hoki di pilkada. Terbaru adalah kemenangan calon berlatar belakang birokrat saat pemilihan Gubernur Gorontalo dan Wakil Gubernur (Pilgub) Gorontalo 2017. Wakil gubernur Idris Rahim merupakan birokrat yang pernah menjabat Sekda provinsi Gorontalo.

Begitu pun dengan Kabupaten Gorontalo, Prof Nelson Pomalingo berlatar belakang PNS.Di Kota Gorontalo, Wakil Walikota Budi Doku juga pernah bersaragam PNS. Bupati Gorontalo Utara merupakan seorang birokrat ulung. Wakil Bupati Pohuwato Amin Haras juga adalah seorang birokrat.

Dalam Pilkada serentak 2018 mendatang, nama-nama dari kalangan PNS kembali bermunculan. Di Kota Gorontalo, nama asisten II Setda Kota Gorontalo Zainudin Rahim jadi perhitungan, saat ramadan dan idul fitri baru-baru ini, baliho dan spanduk Zainudin Rahim bertebaran disejumlah sudut jalan, oleh sebagian kalangan menilai sosok santun ini memang pantas memimpin Kota Gorontalo.

Begitu pun dengan Syamsu Qamar Badu. Rektor UNG ini telah membulatkan tekadnya menuju Pilkada. Pria yang akrab disapa SQB itu, bahkan telah mendaftar calon walikota Gorontalo lewat penjaringan Partai Demokrat. Nama Syafrudin Mosii tak bisa dipandang sebelah mata, pria yang pernah mencalonkan diri pada hajatan Pilgub Gorontalo mengaku serius menatap Pilwako 2018.

Bahkan, pensiunan auditor utama BPK RI itu juga telah mendaftar sebagai calon Walikota pada PDI Perjuangan dan Partai Demokrat. “Saya harap partai lainya juga akan mendukung saya,”kata Syafrudin Mosii. Sementara itu, di Kabupaten Gorontalo Utara tak seru.

Selain Thariq Modaggu yang disebut-sebut akan maju Pilkada Gorut, dua pejabat Pemprov Gorontalo bahkan kini bersaing meraih simpati masyarakat di kabupaten yang pernah dipimpin Rusli Habibie itu. Dua pejabat itu, adalah kepala Kesbangpol Provinsi Gorontalo Adrian Lahay dan Kepala Dikbudpora Provinsi Gorontalo Weni Liputo.

Baliho dan stiker kedua birokrat senior Pemprov itu telah banyak beredar di Gorontalo Utara. Adrian Lahay memandang sudah saatnya ia pulang kampung dan mengabdi di Gorontalo Utara, sebagai putra daerah ia merasa terpanggil untuk membangun Gorut. Begitu pun dengan Weni Liputo.

Mantan Pj Walikota Gorontalo ini memang tak diragukan lagi dari sisi kepemimpinan dan pengalaman dalam pemerintahan. “Tidak masalah jika harus mundur dari PNS, modal saya adalah pengalaman dalam pemerintahan,”kata Weni Liputo. Kehadiran para birokrasi dalam Pilkada memang memberi warna tersendiri.

Para politisi kerap menggandeng birokrat untuk berpasangan, dan itu terlihat dari beberapa kepala dan wakil kepala daerah di Gorontalo. Perpaduan politisi dan birokrasi diniali mampu membawa perubahan dan penataan pemerintahan yang lebih baik. Hanya saja, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie punya pandangan lain terhadap para birokrat yang hendak ‘menyeberang’ ke ranah politisi.

“Pilkada itu ranahnya politisi, birokrat harus punya modal kuat. Minimal punya lima jantung, kata Rusli Habibie. Alasannya sangat masuk akal. Bertarung di Pilkada, tak cukup hanya modal populer, atau alasan berpengalaman dalam pemerintahan.

Tapi, yang paling penting adalah memiliki partai politik, finansial, dan terterima di masyarakat. “Apalagi jika surveynya hanya satu digit. Kecuali nekat. Dan itu namanya bunuh diri, saya sarankan jangan,”ujar Rusli Habibie.

Sebagai yang berpengalaman dalam Pilkada, Rusli Habibie mengingatkan, agar para birokrat bisa berpikir lebih jauh sebelum memutuskan terjun ke dunia politik. Apalagi, aturan saat ini yang mengharuskan setiap ASN untuk mundur jika maju dalam Pilkada. “Saya silahkan, tidak melarang.

Saya sebagai sahabat yang baik, memberikan tips, persiapan harus komperhensif, jangan hanya karena keinginan atau adanya dorongan tapi tidak ada persiapan. Persiapan luas, tim work, partai politik, finansial dan survey. Kalau surver satu digit, lebih baik berpikir jauh,”ujar Rusli Habibie. (tro/hargo)