Pilwako 2018, Demokrat Masih Dinanti Bakal Calon

KETUA DPD Demokrat Gorontalo terpilih Gusnar Ismail bersama pengurus partai, merayakan HUT Demokrat ke 16, Sabtu (9/9) di Kantor DPD Demokrat.

KETUA DPD Demokrat Gorontalo terpilih Gusnar Ismail bersama pengurus partai, merayakan HUT Demokrat ke 16, Sabtu (9/9) di Kantor DPD Demokrat.

GORONTALO, hargo.co.id – Arah dukungan Demokrat di Pilwako Gorontalo 2018, diyakini masih tetap dinantikan oleh kandidat calon maupun parpol. Meski tiga poros koalisi partai yang sudah terbangun saat ini, telah memenuhi syarat untuk bisa mengusung pasangan calon.

Optimisme itu disampaikan wakil ketua DPC Demokrat Kota Gorontalo Syamsul Bahri Daud, menanggapi kekhawatiran soal posisi Demokrat yang bisa ‘gigit jari’ di Pilwako karena lambat bersikap di Pilwako.

“Dengan belum ada putusan, justru sikap Demokrat sedang ditunggu-tunggu oleh calon maupun partai. Karena keputusan Demokrat bisa menjadi penentu kemenangan di Pilwako,” ungkap Syamsul.

Kontelasi politik Pilwako 2018 memang sudah mengerucut pada tiga poros koalisi. Yaitu koalisi Golkar-PBB dengan kandidat calon papan satu Marten Taha.

Lalu koalisi PAN, Gerindra dan Hanura yang bakal mengusung pasangan Adhan Dambea-Budi Doku. Serta koalisi PDIP-PPP yang akan mengusung pasangan Rum Pagau-Rusliyanto Monoarfa.

Syamsul menjelaskan, tiga poros koalisi ini memang telah memenuhi syarat dukungan untuk mengusung pasangan calon yaitu minimal memiliki lima kursi di DPRD Kota Gorontalo. Tapi, empat kursi yang dimiliki Demokrat akan sangat menentukan poros koalisi mana yang akan memiliki mesin politik besar.

Artinya, kemana Demokrat berlabuh akan membuat koalisi itu menjadi koalisi besar. Gambarannya, bila Demokrat bergabung dengan koalisi Golkar-PBB maka akan menjadikan koalisi ini mempunyai 10 kursi. Dengan komposisi, Demokrat (4 kursi), Golkar (4 kursi) dan PBB (2 kursi). Bila Demokrat bergabung dengan koalisi PAN, Hanura dan Gerindra, mesin politik koalisi ini akan semakin kencang.

Karena akan memiliki 13 kursi dengan rincian, Demokrat (4 kursi), PAN (4 kursi), Hanura (3 kursi) serta Gerindra (2 kursi). Begitupun jika Demokrat bergabung dengan koalisi PDIP-PPP maka koalisi ini memiliki 10 kursi yang komposisinya adalah Demokrat (4 kursi), PDIP (3 kursi) serta PPP (3 kursi).

“Inilah yang membuat dukungan Demokrat masih seksi di Pilwako walau belum menentukan sikap sampai saat ini,” jelasnya.

Apalagi menurut Syamsul, keberadaan Ketua DPD Demokrat Gorontalo Gusnar Ismail yang merupakan mantan birokrat Pemerintah Kota Gorontalo yaitu pernah menjadi Kadis Pertanian Kota Gorontalo (1991), Asisten administrasi pembangunan Kota Gorontalo (1996), Kepala Bappeda Kota Gorontalo (1998) dan puncaknya menjadi Sekda Kota Gorontalo (2000), bisa menjadi magnet politik untuk memikat dukungan PNS di Pilwako.

“Makanya kami yakin Demokrat bisa menjadi penentu kemenangan,” jelasnya.

Tak hanya menjadi penentu kemenangan. Dukungan Demokrat juga akan memberikan manfaat bagi calon usai Pilwako. Sebab koalisi yang diperkuat Demokrat akan menjadi koalisi besar di DPRD Kota Gorontalo.

“Kalau calon yang diusung menang, maka koalisi besar ini akan mengawal dan mengamankan terealisasinya program dan janji politik calon terpilih, melalui dukungan politik DPRD,” pungkasnya. (rmb/hargo)

 

About Admin Arifuddin

Senang menulis dengan nuansa kesederhanaan

View all posts by Admin Arifuddin →