Plt Walikota-Bupati Gorut Mulai Digodok

foto Plt Wali kota Gorontalo, Dok: Gorontalo post

Hargo.co.id Gorontalo – Kampanye Pemilihan Walikota (Pilwako) dan Bupati (Pilbup) Gorontalo Utara (Gorut) akan digelar pada 15 Februari 2018. Kendati masih dua bulan lagi, wacana siapa yang bakal diplot sebagai pelaksana tugas (Plt) Walikota maupun Bupati Gorut mulai bergulir. Sejumlah nama pamong senior di jajaran Pemprov Gorontalo digadang-gadang untuk menempati posisi nomor 1 di Kota Gorontalo maupun Gorut.

Sebelumnya sesuai Undang-undang Pilkada, kandidat petahana diwajibkan untuk cuti di luar tanggungan negara sejak ditetapkan sebagai pasangan calon.

Sesuai jadwal dan tahapan Komisi Pemilihan Umum (KPU), pendaftaran pasangan calon akan dibuka pada 8-10 Januari. Selanjutnya penetapan pasangan calon pada 12 Februari 2018. Setelah pengundian nomor urut, masa kampanye dimulai pada 15 Februari-23 Juni 2018.

Dengan ketentuan tersebut, maka bila Marten Taha maupun Budi Doku ditetapkan sebagai kontestan Pilwako, maka keduanya harus menyatakan cuti di luar tanggungan negara. Demikian pula untuk Pilbup Gorut, khususnya Indra Yasin dan Roni Imran. Yang mana keduanya telah memproklamirkan diri untuk tampil pada hajatan Pilkada Gorut.

Seiring hal itu, untuk mengisi kekosongan pemerintahan, maka Gubernur selaku wakil pemerintah di daerah berkewenangan menempatkan Plt Walikota Gorontalo dan Plt Bupati Gorut. Penempatan penjabat itu dimulai dengan penggodokan calon Plt oleh tim Badan Pertimbangan Pangkat dan Jabatan (Baperjakat). Selanjutnya gubernur mengusulkan 3 calon Plt walikota/bupati ke Kemendagri untuk di-SK-kan.

Seiring mekanisme tersebut, sejumlah nama yang disebut-sebut bakal calon penjabat walikota/bupati Gorut mulai bergulir. Untuk penjabat Walikota Gorontalo, misalnya. Saat ini beredar lima nama yang cukup potensial diusulkan sebagai kandidat penjabat Walikota.

Kelimanya adalah Huzairin Roham, Husen Hasni, Syukri Botutihe, Moh.Nadjamuddin serta Weni Liputo. Bergulirnya lima nama didasarkan pada pengalaman birokrasi dan kapabilitas yang dimiliki.

Dari sisi pengalaman kelima pamong itu termasuk jajaran senior serta telah melewati proses jenjang karir birokrasi yang panjang. Seperti Huzairin Roham, lama berkecimpung di Badan Pengawasan Pembangunan dan Keuangan (BPKP), ia dipercayakan menjabat sebagai Kepala Badan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo.

Sukses karir Huzairin Roham terus berlanjut. Saat ini ia dipercayakan menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum dan membackup jabatan Asisten Ekonomi Pembangunan sebagai Plt.

Husen Hasni juga tak asing lagi di kalangan birokrasi. Pria yang menjabat Kadis Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Gorontalo itu pernah menjadi salah satu kandidat Penjabup Boalemo. Hal itu menunjukkan bila Husen Hasni memiliki trackrecord serta kapabilitas yang memenuhi standar.

Tak jauh berbeda, Syukri Botutihe dan Moh.Nadjamuddin. Bahkan kedua nama ini memiliki nilai plus tersendiri sebagai kandidat Plt. Selain pengalaman dalam birokrasi, baik Syukri maupun Moh.Nadjamuddin pernah berkiprah di Pemkot Gorontalo.

Nama Weni Liputo kembali mencuat seiring kesuksesannya menjabat sebagai Penjabat Walikota pada 2013. Peluang Weni untuk kembali mengendalikan Kota Gorontalo masih terbuka layaknya kandidat lain.

Sementara itu untuk Penjagub Gorut ada lima nama pula. Mereka adalah Adrian Lahay, Slamet Bakri, Risjon Sunge, Asri W.Banteng serta Ridwan Yasin. Menariknya, kelima tokoh ini dikenal cukup familiar di tengah masyarakat Gorut.

Sebab, para tokoh tersebut umumnya berasal dari wilayah Gorut serta pernah bertugas di daerah tersebut.
Namun tentu bukan hanya dari apsek kewilayahan yang dilihat. Kapabilitas dan kompetensi yang dimiliki turut menjadi pertimbangan utama. Dan hal itu dimiliki masing-masing kandidat.

Adrian Lahay, misalnya. Di samping sebagai pamong senior, Kepala Kesbangpol Provinsi Gorontalo itu juga memiliki trackrecord yang bisa diandalkan. Hal itu tercermin ketika Adrian Lahay menjadi salah satu kandidat Penjabup Boalemo pada Pilkada Boalemo 2017. Adrian yang pernah diwacanakan sebagai kandidat Pilkada Gorut ini juga sudah pernah menjabat Plt Bupati di Boalemo.

Demikian pula Slamet Bakri. Di samping lama berkarir di Gorontalo Utara, kapasitas mantan camat Kwandang ini juga tak diragukan. Kepemimpinan dan keteladanan yang dimiliki Kepala Biro Pemerintahan Setda Provinsi Gorontalo itu menjadi modal penting.

Kondisi serupa juga dimiliki Risjon Sunge dan Ridwan Yasin. Selain pernah berkarir di birokrasi Gorut, keduanya cukup familiar di kalangan masyarakat Gorut. Apalagi Risjon sangat dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Hal itu tentu menjadi modal penting sekaligus nilai plus ketika menjalankan amanan Penjabat Bupati Gorut nantinya.

Di sisi lain, nama Asri Banteng mencuat bukan hanya sekadar agar ada keterwakilan perempuan. Pengalaman birokrasi yang cukup panjang menjadi pertimbangan, sehingga sosok srikandi ini layak diusulkan sebagai kandidat penjabat bupati.

Dan pengalaman itu ditunjang oleh kompetensi yang dimiliki. Hal itu tercermin pada sejumlah capaian dan prestasi yang ditorehkan Asri dalam karir di dunia birokrasi.

Kendati begitu, siapa yang akan disulkan ke Kemendagri, semua tergantung Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. Informasi yang beredar, jika Rusli kini sedang mempersiapkan Baperjakat untuk menggodok nama-nama yang mencuat.

Jika melihat dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Rusli Habibie lebih mengedepankan pejabat yang serius bekerja, apalagi beban mensukseskan Pilkada juga dimiliki setiap Plt kepala daerah.

“Pak Gubernur sudah disampaikan (terkait Plt kepala daerah). Itu akan melalui Bapperjakat,”ujar salah satu pejabat di Pemprov Gorontalo, kemarin. Menariknya, dalam hajatan Pilkada kali ini, para petahana masih akan kembali menjabat.

Artinya usai masa kampanye, mereka akan kembali menjalankan rutinitas sebagai kepala dan wakil kepala daerah. Misalnya Walikota Marten Taha dan Wakil Walikota Budi Doku, pasca kampanye bulan juni 2018 mendatang, keduanya kembali aktif sebagai Walikota dan Wakil Walikota Gorontalo hingga 2019 mendatang.(san/hg)