Polemik Kue Tart pada Maulid Nabi Empat Pemilik Akun Facebook Datang Minta Maaf

Hargo.co.id Gorontalo – Empat pemilik akun media sosial facebook mengunjungi Sektretariat Kerukunan Keluarga Jaton (Jawa-Tondano) Indonesia (KKJI), kemarin, Ahad (3/12), untuk menyampaikan permohonan maaf menyusul komentar di media sosial terkait foto kue tart pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yosonegoro, Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.

Empat pemilik akun Facebook masing-masing, Brata Bakari, Paramitha, Salim, dan Fahrun Olii, bertemu langsung dengan unsur KKJI beserta tokoh-tokoh adat setempat. Ketua KKJI Korwil Provinsi Gorontalo, Chamdi Ali Tumenggung Mayang, menyatakan, pihaknya bersama tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat sudah menerima permintaan maaf para pengguna akun tersebut. “Mewakili warga Jaton (Jawa Tondano), kami telah memaafkan kekeliruan mereka.

Tapi dengan syarat, mereka juga harus minta maaf di sosmed dan media,” kata Chamdi. Dia hanya berharap kedepan agar masyarakat dapat berhati-hati dan bijak dalam menggunakan sosial media agar kerukunan dan kedamaian bagi masyarakat Gorontalo bisa terus terjaga.

Brata Bakari, salah satu pemilik akun Facebook mengatakan dirinya sangat menyesal. “Awalnya saya hanya penasaran melihat foto tersebut. Karena saya murni tidak tahu kalau hal itu tradisi Jaton,” kata Brata Bakari yang jauh-jauh datang dari Kabupaten Pohuwato untuk meminta maaf.

Brata menambahkan, dia hanya membagikan dan tidak ada sama sekali menghujat dan melecehkan tradisi etnis Jaton tersebut. Bahkan, Brata malah menangis ketika mengetahui bahwa dalam foto tersebut merupakan tradisi Jaton. “Hari ini (kemarin,red), saya datang untuk meminta maaf dengan tulus. Saya tak sedikitpun berniat menghujat Etnis Jaton,” tutupnya.

Sebelumnya, beredar di media sosial foto kue tart dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan mengundang cibiran dari warganet, bahkan terkesan melecehkan tradisi tersebut. Ketua KKIJ, Chamdi Ali Tumenggung Mayang, akhirnya mengeluarkan surat yang berisi penjelasan tentang perayaan yang sudah menjadi tradisi sejak turun temurun.

Dalam surat tersebut, juga meminta para pengguna akun yang diduga menghujat etnis Jaton untuk meminta maaf dan mengklarifikasi postingan serta komentar-komentar mereka. Karena kalau tidak, KKIJ akan membawa hal ini ke ranah hukum dengan terkait pelanggaran UU ITE dan ujaran kebencian.(tr-58)