Polisi Teladan, IPTU Candra Ikhlas Evakuasi Warga Sakit dengan Dipikul

Kapolsek Bunta Iptu Candra mulai start dari rumah Isak Linggi, di Desa Doda, Kecamatan Simpang Raya, saat hendak dievakuasi ke Puskesmas Bunta, Senin (16/10). [Foto: Polsek Bunta/Luwuk Post]

Perjuangan Kapolsek Bunta Polres Banggai, Iptu Candra, saat mengevakuasi seorang warga suku terasing yang sakit, patut diacungi jempol. Tak salah jika Kapolsek ini mendapat pujian banyak pihak.

Laporan, Asnawi Zikri/Luwuk Post

HATI siapa yang tak iba mendengar kabar ada seorang warga suku terasing yang sakit hampir 7 bulan di Desa Doda, Kecamatan Simpang Raya, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, tapi tak kunjung sembuh. Padahal, sakit yang diderita warga bernama Isak Linggi, 43 tahun ini, hanya karena luka biasa. Tapi karena tidak mendapatkan perawatan medis, sehingga makin parah. Bahkan tulang kakinya pun kelihatan.

Meski kabar itu sudah merebak, tidak semua orang bisa tergerak. Tapi tidak bagi pejabat kepolisian yang satu ini. Dia adalah Kapolsek Bunta Polres Banggai, Iptu Candra SH.

Setelah mendengar informasi itu, Kapolsek ini langsung bergegas menghubungi kepala desa setempat, pemerintah kecamatan, dinas kesehatan dan pihak RSUD Luwuk. Koordinasinya pun ditanggapi. Lalu, Kapolsek bersama Bhabinkamtibmas menyiapkan peralatan untuk kepentingan evakuasi.

Akhirnya Senin (16/10) sekira pukul 06.00 Wita, mantan Kasat Narkoba Polres Banggai ini didampingi Bhabinkamtibmas serta aparat desa setempat, langsung bergegas menuju tempat tinggal warga yang sakit tersebut.

Jaraknya lumayan jauh, mereka harus melalui beberapa sungai berarus deras, dan mendaki gunung berkali-kali. Dan tentunya menguras energi.

“Jaraknya kurang lebih 5 kilometer. Kami berangkat dari jam 6, tibanya sekitar jam 9 pagi,” kata Iptu Candra kemarin malam.

Kapolsek Bunta Iptu Candra, bermodalkan sebatang kayu untuk menahan beban saat menyeberang sungai.

Setibanya di Desa Doda, mereka langsung ke rumah Isak Linggi. Saat itu, Isak Linggi sedang duduk sembari menahan rasa sakit akibat luka bakar di kaki sebelah kanan. Kapolsek kaget saat melihat kondisi Isak Linggi.

Betapa tidak, akibat luka bakar itu tulang kakinya sampai kelihatan. Lukanya menganga. Bahkan sudah membusuk. Ini terjadi karena luka yang dialami sejak Maret 2017 lalu tidak pernah mendapatkan perawatan medis.

“Luka yang diderita Isak Linggi makin parah. Tubuhnya sudah semakin kurus,” ungkapnya seraya mengenang pertama kali melihat kondisi korban di rumahnya yang berbentuk panggung dan terbuat dari kayu.

Korban tidak mendapatkan perawatan medis, karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Sehingga Isak Linggi hanya dirawat seadanya di rumah.

Dengan hasil koordinasi, pemerintah terkait siap membantu, maka Kapolsek bersama seorang anggotanya langsung mengevakuasi Isak Linggi ke Puskesmas Bunta untuk mendapatkan perawatan medis.

Saat dievakuasi dari Desa Doda ke Bunta, Isak Linggi duduk di atas kursi yang terbuat dari bambu, lalu diikat. Kapolsek pun memikul Isak Linggi layaknya tas ransel.

Mereka pun harus kembali ke Bunta dengan jarak 5 kilometer, serta beban di punggung Kapolsek. Perwira dua balak yang terkenal humoris ini, hanya bermodalkan sepotong kayu yang dipegang untuk menahan beban saat menanjak dan menuruni gunung, melewati hutan dan semak belukar, serta menyebarang sungai.

“Ya luar biasa. Pokoknya yang paling penting, kita saling membantu,” kata Kapolsek.

Berjam jam melewati hutan yang masih perawan itu, akhirnya sekira pukul 12.00 Wita, mereka pun tiba di Puskesmas Bunta. Dan Isak Linggi mendapatkan perawatan medis yang dipimpin dr Vermon Pakaya dan staf medis Puskesmas Bunta.

“Alhamdulillah, kami masih bisa diberikan kesempatan untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan,” ucapnya penuh syukur.(*/hargo)