Power Koalisi Pilwako Relatif Imbang,Calon Harus Gerakkan Mesin Partai, Demokrat Bisa Jadi Penentu

Sumber KPU Kota Gorontal;o

Hargo.co.id GORONTALO – Cukup beralasan bila figur calon yang akan ikut Pilwako Gorontalo 2018, cenderung memilih partai sebagai kendaraan politik. Sebab partai pengoleksi kursi di DPRD Kota Gorontalo, memiliki massa pendukung yang cukup signifikan untuk mendongkrak kemenangan calon di suksesi kepala daerah serentak tahun depan.

Merujuk hasil pemilu 2014 lalu, total perolehan suara sah 8 partai di DPRD Kota Gorontalo masing-masing Golkar, PAN, Demokrat, PPP, PDIP, Hanura, Gerindra dan PBB mencapai 94.088 suara, dari sekitar 127.528 pemilih di Kota Gorontalo berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pilgub 2017.

Karena memiliki modal elektoral yang siginfikan untuk memompa kemenangan di Pilwako, maka cukup wajar bila analisis soal kekuatan koalisi partai pengusung calon, menjadi salah satu sisi yang menarik untuk dibahas menjelang Pilwako.

Seperti diketahui, arah koalisi partai politik di DPRD Kota Gorontalo saat ini sudah mengerucut pada tiga poros pengusung calon. Yaitu koalisi Golkar-PBB yang dipastikan akan mengusung figur petahana Marten Taha sebagai calon walikota. Lalu koalisi tiga partai masing-masing PAN, Hanura dan Gerindra yang berpeluang besar mengusung calon walikota-wakil walikota, Adhan Dambea-Charles Budi Doku (AD-CBD), serta koalisi PDIP-PPP yang sudah hampir pasti mengusung pasangan Rum Pagau-Rusliyanto Monoarfa (RM-RP).

Modal kursi di parlemen dari masing-masing koalisi itu relatif imbang. Koalisi Golkar-PBB punya modal 6 kursi, lalu koalisi PAN, Hanura, Gerindra punya 9 kursi, serta koalisi PDIP-PPP memiliki 6 kursi. Perolehan kursi partai ini tentu sudah bisa memberikan gambaran modal dukungan masa dari masing-masing koalisi partai. Bahwa, tak ada koalisi yang memiliki kekuatan yang dominan. Dan hal itu relevan dengan pemetaan perolehan suara partai berdasarkan hasil pemilu 2014 (lihat grafis.red).

Dari pemetaan itu, terlihat masa pendukung partai yang tergabung dalam tiga koalisi pengusung calon, memperlihatkan kekuatan yang relatif sama kuat. Tak ada koalisi dengan masa pendukung yang jumlahnya jauh meninggalkan koalisi lain di empat daerah pemilihan (dapil) di Kota Gorontalo.

Oleh Karena itu, untuk memperbesar peluang menang, calon harus jeli mengoptimalkan mesin partai dalam menggalang dukungan masyarakat. Minimal, basis masa partai bisa terjaga dan utuh mendukung kemenangan di Pilwako. Bila mesin partai tak dioptimalkan, maka bukan tidak mungkin, calon bersama mesin koalisi lawan politik, akan mencuri suara di daerah-daerah yang menjadi basis masa.

Dukungan Demokrat

Dalam pemetaan kekuatan koalisi Pilwako, suara Demokrat belum dimasukkan. Karena sampai kini, Demokrat belum menjatuhkan dukungan terhadap calon di Pilwako. Tapi dengan mendapatkan suara sekitar 11.265 suara di Pileg 2014 silam, eksistensi Demokrat di Pilwako tentu tak boleh dipandang remeh. Karena bukan tidak mungkin, dukungan Demokrat malah bisa jadi penentu kemenangan calon.

Sebab kemanapun Demokrat akan menjatuhkan dukungan, maka secara otomatis koalisi parpol pengusung calon tersebut, kekuatannya akan makin bertambah.

Wakil Ketua DPC Demokrat Kota Gorontalo, Syamsul Bahri Daudsebelumnya juga sudah mengisyaratkannya. Menurutnya, walau belum menjatuhkan dukungan, sikap Demokrat di Pilwako tetap dinantikan oleh calon maupun koalisi parpol. Keberadaan Demokrat akan menambah modal politik setiap kontestan calon. “Gambaran ringkasnya, kalau Demokrat bergabung dengan koalisi Golkar-PBB maka koalisi ini akan punya modal 10 kursi.

Kalau Demokrat dengan koalisi AD-CBD berarti koalisi punya modal 13 kursi. Kalau Demokrat gabung ke PDIP maka koalisi ini punya modal 10 kursi. Jadi dimanapun Demokrat bergabung maka itu koalisi dengan kursi terbanyak,” jelasnya. “Kekuatan kursi ini tentu akan sekaligus menggambarkan kekuatan masa pendukung di tingkat akar rumput,” sambungnya. (rmb)