Produksi di Gorontalo Mulai Menurun, Pengusaha Pasok Kedelai dari Jawa

BEBERAPA karyawan salah satu pabrik tahu saat membuat tahu berbahan baku kedelai.

Hargo.co.id GORONTALO – Rencana pemerintah daerah mengembangkan bibit kedelai di Gorontalo mendapatkan sambutan meriah dari pelaku usaha, terutama industri tahu-tempe. Mereka berharap agar kedepan tidak lagi menggunakan kedelai dari luar dan beralih ke kedelai lokal.

Seperti diungkapkan Fatmah (44), pemilik pabrik tahu yang ada di Kabupaten Gorontalo. Menurutnya, kebutuhan kedelai sebagai bahan baku tahu-tempe sangat tinggi. Namun sayang, mereka harus mencari kedelai dari luar daerah ketimbang memilih kedelai lokal. Pasalnya, kata Fatma, mulai lebih sukar dicari. Adapun harganya, hanya berbeda tipis jika dibandingkan kedelai dari luar.

“Sebenarnya kita mau pakai kedelai lokal, tapi di Gorontalo sendiri sudah mulai jarang. Sekarang, katanya petani kedelai rata-rata sudah mulai beralih ke tanaman lain. Itulah kenapa produksi kedelai lokal kurang dan terus berkurang. Makanya, kita membeli kedelai dari Surabaya. Katanya juga itu kedelai impor. Harganya Rp 7.200 per Kg, beda-beda tipis, lebih murah Rp 500,- dari kedelai impor,” terang Fatmah.

Selain itu, kualitas kedelai lokal juga dinilai kurang bagus. Untuk pembuatan tahu-tempe, kata Fatmah, kedelai lokal hanya bisa bertahan sehari saja. Berbeda dengan kedelai impor, bisa bertahan sampai 3 hari.

Dalam sehari, kebutuhan pabrik tahu milik Fatmah membutuhkan sedikitnya 100 Kg hingga 200 Kg kedelai per hari. Dan pabrik tahu yang ada di wilayah Limboto saja, sudah ada beberapa pabrik yang membutuhkan kedelai dalam jumlah yang sama. “Makanya, biar sedikit lebih mahal, kita tetap pilih kedelai dari Surabaya,” tambahnya lagi.

Terkait rencana pemerintah untuk mengembangkan bibit kedelai di Gorontalo, Fatmah beserta pelaku pabrik tahu-tempe lain sangat mendukungnya. Rencananya, pengembangan bibit kedelai di daerah ini bisa memangkas waktu kedaluarsa benih tersebut. Biasanya, masa kedaluarsa bibit kedelai mencapai maksimal 3 bulan. “Mudah-mudahan, petani di Gorontalo mau tanam kedelai lagi supaya kebutuhan kita bisa terpenuhi,” pungkas Fatmah.(axl/hg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *