Proyek PNPM Dikeluhkan, Tempat Penampungan Air Tak Berfungsi, Air Kotor dan Berbau

Agus Musa, warga Dusun III, Desa Poduwoma menunjukan kondisi hasil proyek pengadaan air bersih PNPM di dusunnya yang tak bisa dimanfaatkan karena aliran airnya kotor dan berbau. (Foto : Febriandy/GP).

Hargo.co.id BONBOL – Proyek pengadaan air bersih Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Desa Poduwoma, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango (Bonbol, dikeluhkan warga, pasalnnya sejak dibangun tahun 2014 silam, tak bisa dimanfaatkan warga.

Parahnya lagi aliran air yang dihasilkan sangat kotor dan berbau. Jangankan untuk keperluan minum dan memasak. Bila digunakan untuk mandi, tubuh akan terasa gatal.

Proyek berbandrol Rp 95,5 juta itu awalnya dibangun untuk mengalirkan air gunung ke pemukiman masyarakat di Dusun III, Desa Poduwoma. Namun sayang, proyek yang harusnya menjadi sumber air warga itu tak dapat dimanfaatkan.
Usut punya usut kendala yang menyebabkan proyek tersebut tak bermanfaat ternyata sangat miris.

Awal masalah, bak penampung utama yang akan mengalirkan air ke pemukiman warga dibangun di dataran yang lebih rendah dari pemukiman warga. Sehingga air tak bisa mengalir.
Hal ini pun mengundang rekasi warga. Mereka menuntut pelaksana karena air tak mengalir ke pemukiman.

Atas desakan warga, bak penampung air kemudian diganti di dekat pemukiman. Namun tidak lagi terbuat dari beton. Melainkan hanya berupa Tandon (tangki air). Namun setelah mengalir, muncul masalah baru. Air yang keluar sangat kotor serta berbau.

Seperti diakui Agus Musa (40) warga setempat. Menurutnya, air yang mengalir ke rumahnya tidak bisa dipakai untuk minum. Air tersebut hanya dipergunakan untuk cuci pakaian. Itu pun juka dalam keadaan terpaksa dan airnya sudah didiamkan beberapa jam di bak penampungan.

“Jika dipakai mandi, kulit saya pasti gatal. Sementara kalau di pakai minum, airnya mengeluarkan bau busuk. Padahal tercantum di papan proyek pengadaan air bersih,” bebernya.

Disampaikan Agus, kondisi bak penampung hanya berada di tanah dengan luas galian 1 x 50 cm. Penampung itu juga hanya ditutup menggunakan seng yang sudah berkarat.

Sebetulnya saya tidak begitu mempersoalkan dananya. Yang saya kesalkan airnya tak bisa kita gunakan,” ketusnya.
Hal senada disampaikan Hajarah Musa (60). Ia tak mau menggunakan sumber air dari proyek tersebut. “Setiap hari saya pakai air sumur. Meski sekarang tinggal sedikit.

Yang penting, masih bisa di pakai minum. Dari pada pakai air dari peroyek itu, bau dan kotor,” jelasnya.
Ketika dikonfirmasi, anggota PNPM Desa Poduwoma Serlin mengatakan, proyek tersebut sudah di serahkan ke Desa Poduwoma.
“Terkait kasus tersebut, memang sudah banyak di keluhkan warga dusun III. Namun saya bukanlah dari pekerja tersebut. Coba tanya saja ke penanggungjawab,” katanya. (tr-50/Hargo).