Qatar Alami Krisis, Perdagangan Indonesia?

0
JOKSATU.id – Krisis politik yang terjadi di Timur Tengah terkait pemutusan hubungan diplomatik negara-negara Arab dengan Qatar dianggap belum berpengaruh kegiatan perdagangan dunia, termasuk di Indonesia. Menurut Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) M. Sairi Hasbullah, volume perdagangan antara Indonesia dan Qatar selama ini relatif kecil. “Belum melihat pengaruh yang bakal signifikan. Kalau kondisinya baru sebatas pemboikotan terhadap Qatar oleh beberapa negara teluk. Kalau bicara impor Qatar dari Asia Tenggara apakah akan terganggu, ya jawabannya tidak, karena menurut kami dengan stok yang ada di Qatar perekonomiannya cukup kuat,” jelasnya dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jalan Sutomo, Jakarta (Kamis, 15/6). Menurut Sairi, aksi boikot akan menyebabkan kejutan sesaat, namun sebetulnya perekonomian Qatar cukup kuat. Kemungkinannya, aksi boikot bisa dari barang substitusi dengan negara lain karena penduduk Qatar hanya 2,5 juta jiwa. “Ekonomi Qatar juga masih bisa hidup dari industri pariwisata. Apakah industri ini akan terganggu, belum tentu. Jadi, ekspor impor Qatar tidak terlalu terpengaruh karena mereka tidak perlu impor banyak untuk 2,5 juta penduduk,” Selain itu, untuk investasi, Qatar memiliki foreign direct investment yakni Amerika Serikat, Jepang, dan Korea yang paling dominan. Sehingga tidak akan terlalu terpengaruh terhadap Indonesia. “Pengaruhnya akan ada, namun untuk Indonesia tidak akan begitu terpengaruh. Kecuali ada hal lebih seperti perang, Iran bersatu dengan Turki dan lainnya, itu akan berikan dampak ke kita,” demikian Sairi. (wah/rmol/pojoksatu)

Hargo.co.id – Krisis politik yang terjadi di Timur Tengah terkait pemutusan hubungan diplomatik negara-negara Arab dengan Qatar dianggap belum berpengaruh kegiatan perdagangan dunia, termasuk di Indonesia.

Menurut Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) M. Sairi Hasbullah, volume perdagangan antara Indonesia dan Qatar selama ini relatif kecil.

“Belum melihat pengaruh yang bakal signifikan. Kalau kondisinya baru sebatas pemboikotan terhadap Qatar oleh beberapa negara teluk. Kalau bicara impor Qatar dari Asia Tenggara apakah akan terganggu, ya jawabannya tidak, karena menurut kami dengan stok yang ada di Qatar perekonomiannya cukup kuat,” jelasnya dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jalan Sutomo, Jakarta (Kamis, 15/6).

Menurut Sairi, aksi boikot akan menyebabkan kejutan sesaat, namun sebetulnya perekonomian Qatar cukup kuat. Kemungkinannya, aksi boikot bisa dari barang substitusi dengan negara lain karena penduduk Qatar hanya 2,5 juta jiwa.

“Ekonomi Qatar juga masih bisa hidup dari industri pariwisata. Apakah industri ini akan terganggu, belum tentu. Jadi, ekspor impor Qatar tidak terlalu terpengaruh karena mereka tidak perlu impor banyak untuk 2,5 juta penduduk,”

Selain itu, untuk investasi, Qatar memiliki foreign direct investment yakni Amerika Serikat, Jepang, dan Korea yang paling dominan. Sehingga tidak akan terlalu terpengaruh terhadap Indonesia.

“Pengaruhnya akan ada, namun untuk Indonesia tidak akan begitu terpengaruh. Kecuali ada hal lebih seperti perang, Iran bersatu dengan Turki dan lainnya, itu akan berikan dampak ke kita,” demikian Sairi. (hg/wah/rmol/pojoksatu)