Rusaknya Bendungan Pilohayanga 1.500 Hektar Sawah Terancam Puso

Kondisi bendungan Pilohayanga yang hingga kini belum bisa dimanfaatkan karena terjangan banjir bandang beberapa waktu lalu.

hargo.co.id Gorontalo – Jebolnya Bendungan Pilohayanga membuat areal persawahan warga di tiga kecamatan di Kabupaten Gorontalo mengering menyusul banjir bandang beberapa waktu lalu. Petani setempat pun mengaku kesulitan mencari sumber air untuk bertani.

Informasi yang dihimpun Gorontalo Post, ada sekitar 1.500 hektar sawah yang berada di tiga Kecamatan, yakni Telaga, Telaga Jaya dan Telaga Biru ini tak teraliri air dan kini kondisinya sudah mengering.

Petani setempat pun berpikir keras mencari alternatif dengan membuat sumur bor demi mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka. Namun upaya tersebut belum sesuai dengan kebutuhan petani setempat karena sumber air yang didapatkan belum mencukupi.

Seperti penuturan, Jafar, salah satu petani di Kecamatan Telaga Biru. Dia meminta kepada pemerintah untuk melakukan langkah kongkrit untuk menyelesaikan masalah krisis air di tiga kecamatan ini dengan cepat. Karena, hingga saat ini bendungan rusak yang menjadi faktor utama untuk mengairi persawahan warga hanya terkesan lamban dalam perbaikan.

Senada juga disampaikan Daud, petani lainnya. Menurutnya, sawah mereka tetap dialiri dengan sistem pengeboran namun tidak semua petani yang dapat melakukannya karena ongkosnya besar. “Hanya sebagian petani yang melakukan pengeboran untuk mengairi sawah pak, cuma petani yang mampu sewa atau beli alkon,” kata Daud.

Mereka berharap perbaikan bendungan segera dilakukan mengingat mata pencaharian mereka hanyalah bertani, “Kami hanya berharap pemerintah segera memperbaiki bendungan baik itu pemerintah provinsi atau dari pemerintah kabupaten supaya sawah kami bisa kembali mendapatkan air,” harapnya.

Kadis Pertanian Kabupaten Gorontalo, Rahmat Pomalingo, juga tak membantah hal itu. Sejauh ini, pihaknya sudah turun ke lapangan untuk memantau kondisi bendungan dan langsung mengkoordinasikan dengan sejumlah pihak terkait untuk penanggulangannya. “Kami sudah turun ke lapangan, melihat kondisi bendungan tersebut dan ternyata kerusakannya memang sangat parah.

Dengan ini kami melakukan koordinasi dengan Balai wilayah Sungai dan PU Provinsi untuk melakukan rapat mencarikan solusi terhadap perbaikan bendungan tersebut, karena kalau hanya diandalkan angaran dari dinas pertanian, itu tidak cukup,” ujarnya.

Ditambahkannya, dalam waktu dekat ini pihaknya akan melakukan langkah cepat untuk menindaklanjuti permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat agar petani yang ada di wilahay Telaga cs bisa bertani kembali. “Untuk saat ini petani agar bisa bersabar karena untuk memperbaiki badan bendungan ini tidak hanya memakan anggaran yang sedikit,” tandasnya.(tr-56/hg)