Sarina Wartabone, Pejuang Perempuan dengan Nama Pemberian Soekarno

Rizka Faiqah Wakid, Cucu tertua Sarina Wartabone memeluk erat jenazah neneknya, Sarinah Wartabone, anak pertama Nani Wartabone, yang juga pernah ikut berjuang bersama Nani Wartabone untuk kemerdekaan bangsa indonesia. Sarinah meninggal dunia, kamis (23/11) di usia 82 tahun. (F. Dokumen Keluarga)

GORONTALO, Hargo.co.id – Kabut duka kembali menyelimuti Gorontalo seiring kepergian salah satu putri terbaiknya Sarina Wartabone. Anak pertama dari pahlawan nasional dari Gorontalo Nani Wartabone itu, Kamis (23/11) menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 13.16 wita di rumah sakit Aloe Saboe Gorontalo.

Dari hasil diagnosa dokter Sarina Wartabone yang meninggal di usinya yang sudah 88 tahun itu, mengalami gagal ginjal. Dia sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama hampir sepekan.

Jumat (24/11) kemarin, jenazah almarhum dikebumikan di pekuburan keluarga di Kecamatan Telaga, kabupaten Gorontalo. Saat pemakaman almarhumah, sejumlah pejabat ikut hadir diantaranya Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan Wakil Bupati Bonbol Kilat Wartabone.

SUASANA pemakaman Almarhumah Sarina Wartabone di Telaga, Kabupaten Gorontalo (24/11). INSERT: Almarhumah semasa hidup.

Ivonne Muhammad anak pertama Sarinah Wartabone menuturkan, sang ibu telah merasakan sakit sejak 2015 silam. Walau begitu, sang ibu tetap beraktifitas seperti biasa.

Hingga kemudian, kamis (16/11), kesehatan Sarinah semakin memburuk. “Kamis (16/11) pekan lalu, ibu mengeluh sesak nafas, dan langsung dilarikan ke rumah sakit Aloei Saboe Kota Gorontalo, untuk mendapatkan perawatan.

Namun, kondisi ibu itu terus memburuk. Sempat mengalami koma. Diagnosa dokter ibu mengalami kegagalan fungsi ginjal,” jelasnya.

Ivone mengaku sangat kehilangan dengan kepergian sang ibu untuk selama-lamanya itu. Karena Sarinah Wartabone dimata Ivone adalah sosok ibu sabar dan tidak mau menyakiti orang lain semasa hidup.

“Ibu itu orangnya pendiam, Almarhumah tidak banyak mengeluh, bahkan dalam kondisi sakitpun ia jarang mengeluhkan sakitnya. Sosok ibu adalah pribadi yang sabar,” jelasnya.

Pejuang Kemerdekaan

Selama ini mungkin tak banyak yang tahu Sarina Wartabone sesungguhnya ikut memberi andil terhadap perjuangan kemerdakaan Gorontalo dan Bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Bersama sang ayah yaitu Nani Wartabone, Sarinah setia mendampingi sang ayah untuk bergerilya masuk keluar hutan melawan penjajah. Meski saat itu, usia Sarina masih remaja.

Sarina ikhlas dan tanpa pamrih untuk mendukung perjuangan sang Ayah walau harus mengorbankan masa remajanya. Karena waktunya banyak dihabiskan masuk keluar hutan Bone Bolango, yang menjadi salah satu lokasi favorit persembunyian ayahnya Nani Wartabone bersama pasukan gerilya Gorontalo ketika masa perjuangan kemerdekaan.

Sarinah Wartabone atau yang lebih akrab disapa Ta Ina lahir di Gorontalo, lahir pada 16 Agustus 1929 silam. Pada awalnya, Sarinah diberi nama Saroina Wartabone oleh ayahnya. Namun kemudian nama itu diganti menjadi Sarinah Wartabone oleh, sang proklamator Indonesia, Ir Soekarno, yang dulu memang dikenal sangat berteman baik dengan Nani Wartabone. Sejak saat itulah, nama Sarinah melekat padanya hingga saat ini.

Menjadi anak pertama, Sarinah menjadi salah satu saksi hidup kisah perjuangan Nani Wartabone untuk memerdekakan Indonesia khususnya tanah Gorontalo. Sarinah sejak remaja sudah ikut bergerilya bersama pasukan Gerilya pimpinan Nani Wartabone, yang saat itu seringkali membuat repot para pasukan penjajah.

Sarinah ikut keluar masuk hutan, dan mendampingi langsung sang ibu Aisa Tangahu. Baik dalam berperang, mengobati pasukan yang terluka, hingga menyiapkan makanan bagi para pejuang yang tengah bertempur.

Bahkan, saat mengandung anak pertamanya Ivonne Muhammad yang merupakan buah pernikahan bersama sang suami Kunde Muhammad, Sarinah masih ikut bersama pasukan gerilya Nani Wartabone yang saat itu tengah berperang mengusir Permesta dari tanah Gorontalo. Tak heran kemudian, kisah Sarinah menjadi panutan bagi 11 cucu dan 8 cicit yang ia miliki saat ini.

Setelah situasi Gorontalo aman, kehidupan Sarinahpun ikut berubah. Wanita yang dikenal pendiam namun bijaksana oleh sanak keluarganya itu, melanjutkan hidupnya menjadi ibu rumah tangga dan mendampingi sang suami yang kemudian menjadi Kepala Pelayanan Pajak di Gorontalo saat itu.

Namun, sebagai istri seorang Kepala Pajak, ia masih tetap aktif dalam kegiatan sosial yang dipimpin oleh Intansi suaminya itu. Semangat mengabdi untuk bangsa dan negara masih terus ia lakukan hingga Sarina menginjak usia senja. Semangat pengorbanan tanpa pamrih untuk bangsa itu selalu ia tanamkan untuk anak, cucu dan cicitnya.

Kini Sarina telah memenuhi panggilan sang Khalik. Semoga semangat dan pengorbanan tanpa pamrih yang telah ditunjukkan Sarina Wartabone menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa. Selamat jalan Ta Ina. Jasa-jasamu untuk bangsa Indonesia akan selalu dikenang. (tr-45/hg)