Satu Korban Tambang Taluditi Ditemukan

Evakuasi korban longsor Tambang Taluditi Yanto Kune saat tiba di posko tim Sar di Desa Mekarti Jaya Kecamatan Taluditi, Kamis (11/1). ( Foto Untuk Gorontalo Post)

POHUWATO, Hargo.co.id – Satu lagi korban longsor di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Kecamatan Taluditi, Pohuwato, akhirnya ditemukan, kemarin, Kamis (11/1). Kali ini jasad Yanto Kune (35) Warga Desa Suka Makmur, Patilanggio, berhasil dievakuasi tim gabungan yang susah payah ke lokasi pencarian.

Berdasarkan informasi yang berhasil dirangkum Gorontalo Post dalam insiden lonsor yang menimpa empat warga di lokasi tambang Taluditi, Ahad (7/1) sekitar pukul 15.00 Wita. Dua orang lebih awal dievakuasi dari lokasi kejadian dalam kondisi meninggal dunia.

Kedua korban atas nama Suharto Usman (49) warga Kelurahan Biyonga Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo dan Hamim Tun (23) warga Desa Tirto Asri Kecamatan Taluditi langsung di giring oleh warga dari kawasan hutan menuju perkampungan Desa Mekarti Jaya Kecamatan Taluditi, tepatnya dilokasi posko yang dibangun oleh Tim Sar.

Perjalanan panjang tersebut membutuhkan waktu selama satu hari penuh dalam perjalanan sehingga korban baru tiba, Senin (8/1) sekitar pukul 05.00 Wita dini hari.

Kemudian berselang sehari tepatnya, Rabu (10/1) sekitar pukul 12.00 Wita korban Yanto Kune (35) Warga Desa Suka Makmur Kecamatan Patilanggio Kabupaten Pohuwato berhasil ditemukan dan langsung dievakuasi menuju Posko dengan berjalan kaki selama sehari penuh. Jenazah Yanto Kune tiba di poso Tim Sar, sekitar pukul 13.00 Wita, kemarin.

Dengan demikian saat ini tim yang tergabung di Tim SAR Provinsi Gorontalo dan Pohuwato, SAR Boalemo, Tagana, BPBD, Dinas Sosial, Polsek Taluditi dan unsur TNI dan masyarakat masih sementara mencari jenazah Dimas Usman (24) Warga Kelurahan Bionga Kecamatan Limboto yang masih terisisa akibat tertimba longsor di lokasi.

Kapolsek Taluditi, Iptu Wayan Subrata mengatakan, dari empat orang korban, setidaknya sudah tiga orang yang berhasil ditemukan warga. “Berdasarkan informasi dari warga kondisi tambang berbentuk huruf F, posisi para penambang tepatnya berada di lingkaran huruf F sehingga terjadi longsor mereka tertimbun material batu, pohon dan tanah.

Dua orang yang sudah ditemukan tertimpa longsor dibagian pinggir, sementara satu orang yang hilang diperkirakan tertimbun material tanah yang cukup dalam. Dengan demikian hingga sampai saat ini proses pencarian masih sangat sulit dilakukan, belum lagi cuaca,” bebernya.

Ditambahkan Kapolsek, di lokasi tambang ilegal itu memang diperkirakan ada sekitar ratusan orang yang melakukan aktivitasnya tanpa diketahui oleh pemerintah maupun aparat hukum. Sebab lokasinya sulit dijangkau. Belum lagi medan jalan yang terjal, melewati beberapa sungai dan lembah, bahkan beberapa rintangan alam lainnya.

“Olehnya, aktivitas yang berada di tambang sulit kita pantau, apalagi tidak ada jaringan seluler dilokasi tersebut. Dengan kejadian seperti itu, agar aktifitas penambang yang sementara beroperasi saat ini agar dapat dihentikan, sebab kalau terjadi sesuatu seperti ini ujung-ujungnya merepotkan banyak pihak.

Sementara hasil yang diperoleh para penambang hanya dinikmati secara sepihak,” katanya. Guna mengoptimalkan proses pencarian, puluhan tim berada di lokasi pertambangan terdiri dari Tim Sar Provinsi Gorontalo, Tim Sar Pohuwato dan Boalemo, BPBD, Dinas Sosial, Polisi dan TNI.

Sebagaimana penjalasan Camat Taluditi, Irwanto Suparman, bahwa untuk bisa tembus ke lokasi dengan berjalan kaki diperkirakan selama 2 hari 1 malam dalam perjalanan, apalagi cuaca yang tidak baik sehingga menghambat tim.

Meski demikian persiapan logistik yang sudah ada diperkirakan selama 8 hari sehingga persediaan bisa dibilang cukup, hanya saja berkonsekwensi pada fisik. “Kita berharap agar korban yang masih hilang segera ditemukan dalam waktu dekat ini,” bebernya.

Disinggung mengenai pengawasan dari pemerintah setempat, Irwanto mengaku tidak dapat bebuat banyak, sebab meskipun aktifitas tambang dihentikan masyarakat tetap akan mencari lokasi lain yang memiliki kandungan mas untuk melakukan aktifitas pertambangan. Apalagi lokasiny terpencar dengan jarak yang cukup jauh, tidak menoton pada satu titik.

“Namanya orang mencari nafkah kita tidak dapat menghalanginya, hanya saja ada aturan yang harus ditaati menyangkut keselamatan para penambang. Kalaupun dihentikan pasti mereka (Para penambang,red) pindah dilokasi lain. Sehingga kedepan bagaimana meningkatkan kewaspadaan, apalagi sulit dipantau oleh pemerintah,” pungkasnya. (Tr-30/hg)