Sejarah Terulang: Para Imigran Dilelang untuk Jadi Budak

PENCARI MASA DEPAN: Seorang migran ilegal yang diselamatkan oleh penjaga pantai Libya menutupi kepalanya dari matahari saat tiba di tempat penahanan dan penampungan migrasi di ibukota Tripoli, pinggiran timur Tajoura Agustus lalu. (MAHMUD TURKIA / AFP)

Hargo.co.id  – Kita meyakini, jual beli budak yang terjadi masa lampau sudah tidak ada lagi. Sekali pun ada, itu hanya ada dalam film atau cerita. Tetapi tidak, penjualan manusia untuk dijadikan budak ada di masa milenial ini. Sejarah terulang kembali.

Berdasar video yang dimiliki CNN, kantor berita itu melakukan penyelidikan mengenai penjualan manusia di Libya. Dalam video tersebut terlihat seorang lelaki Nigeria yang sedang dilelang. Proses penjualannya tak beda jauh seperti melelang barang-barang.

Lelaki berusia 20 tahunan itu berdiri dengan didampingi sesorang yang bertindak sebagai “agen.” Kemudian, ada suara lelaki lain yang mengatakan beberapa angka. Dimulai dari 900, angkanya naik setiap kelipatan 100, pria malang itu pun laku dengan harga 1.200 dinar Libya (sekitar Rp 10,8 juta).

Imigran jadi budak

TIDAK JELAS: Migran ilegal duduk di depan sebuah dinding yang dicat pada tanggal 19 Mei 2016 di pusat penahanan Abu Salim di ibu kota Libya, Tripoli. (MAHMUD TURKIA / AFP)

Sebelum proses lelang dimulai, si agen menjelaskan kalau pria itu adalah lelaki besar yang kuat dan cocok untuk pekerjaan pertanian.

Berdasar video itu lah investigasi dimulai. Dan apa yang ada di video itu ternyata benar adanya. Berada di luar kota Tripoli, Libya, CNN menyaksikan belasan orang “laku” terjual dalam waktu enam sampai tujuh menit.

”Apakah ada yang membutuhkan penggali? Ini adalah penggali, pria kuat yang hebat, dia akan menggali,” kata seorang “salesman” yang membawa lelaki-lelaki tersebut. Proses lelang pun dimulai. Lelaki penggali itu pun dibawa pulang seorang pembeli dengan harga Rp 8,8 juta.

Dan, hanya beberapa menit, belasan lelaki yang berjejer di depan para pembeli sudah habis. Acara lelang pun buyar dan para “pekerja” itu diserahkan ke “tuan” baru mereka.

Setiap tahun, puluhan ribu orang melintasi perbatasan Libya. Mereka adalah pengungsi yang melarikan diri dari konflik atau migran ekonomi untuk mencari peluang yang lebih baik di Eropa. Harta mereka di kampung halaman telah dijual untuk membiayai perjalanan melalui Libya memasuki Mediterania.

Tapi belakangan, setelah penjagaan diperketat, nasib para imigran itu semakin tidak jelas. Dan, buntutnya, penyeludup mereka menjadi tuan dan para migran dan pengungsi menjadi budak. Bukti yang difilmkan oleh CNN kini telah diserahkan ke pihak berwenang Libya. Mereka berjanji akan melakukan penyelidikan.

Letnan Satu Naser Hazam dari Badan Imigrasi Anti-Ilegal pemerintah di Tripoli mengatakan kepada bahwa meskipun dia belum pernah menyaksikan lelang budak, dia mengakui ada gerombolan terorganisir yang mengoperasikan jaringan penyelundupan di negara tersebut.

”Mereka memenuhi kapal dengan 100 orang. Penyelundup tidak peduli asalkan dia mendapat uang. Mereka tidak peduli apakah migran akan sampai ke Eropa atau mati di laut,” katanya.

Dijelaskan Mohammed Abdiker, direktur operasi dan keadaan darurat untuk Organisasi Internasional untuk Migrasi, situasinya mengerikan. ”Kami mendapatkan laporan mengenai pasar budak ini dan situasinya sangat buruk,” katanya.

Lelang terjadi di sebuah kota yang tampaknya normal di Libya. Kota itu penuh dengan orang-orang yang menjalani kehidupan biasa. Anak-anak bermain di jalan, orang pergi kerja, ngobrol dengan teman, dan memasak makan malam untuk keluarga mereka. Tetapi, di kota itu penjualan manusia sedang terjadi.

Salah satu migran yang ditahan pemerintah Libya, Victory, mengaku dia sudah dijual di sebuah lelang budak. Victory sedianya berharap mendapatkan kehidupan baru setelah meninggalkan negara bagian Edo, Nigeria. Lelaki 21 tahun itu menghabiskan satu setengah tahun dan seluruh uangnya untuk mencapai Eropa.

Tetapi, impian tinggal impian. Dia menjadi budak dari satu tuan ke tuan lain. Dia tidak pernah mendapatkan uang bayaran penuh karena uang bayarannya disebut tuannya digunakan untuk membayar penyelundup yang membawanya ke Libya. (*)

(tia/CNN/JPC)