Sejuta Keunikan di Ranah Minang

Hargo.co.id, Zetizen-GP- Pepatah Minang : “Jauhah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso – Jauh berjalan jadi banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasa”.

Bicara soal Ranah Minang, ada Zetizen Gorontalo yang sudah pernah berkunjung kesana? Sudah berhasil Jatuh Cinta dengan tempat ini?

Yups, Kota dingin dengan banyak kearifan lokal ini dijamin mampu membuat siapapun yang berkunjung kesana jatuh cinta berkali-kali ketika menyusuri setiap sudut kotanya. Mulai dari Kota Padang, Bukittinggi, hingga Padang Panjang, semuanya begitu prestige dengan segala keunikannya. Belum lagi ketika sampai dan mendarat di Bandara International Minangkabau (BIM), kita langsung disuguhkan panorama indah nan elok karena bandara ini berada persis di tepi pantai.

Ini pula yang dirasakan oleh salah satu crew Zetizen Gorontalo yang pekan kemarin baru saja menikmati keelokan Ranah Minang ini selama sepekan penuh.

Perjalanan dari BIM ke Padang Panjang selama 2 jam penuh seakan tidak terasa karena sepanjang perjalanan tersuguhkan hal-hal aneh dan unik yang sama sekali gak boleh terlewatkan, seperti panorama Bukit Barisan yang elok, hingga air terjun Lembah Anai yang uniknya tepat berada di pinggir jalan raya Padang Panjang sehingga sangat mudah untuk dinikmati. Kerennya lagi, di Ranah Minang banyak rumah-rumah warga yang masih mempertahankan ciri khas rumah adat tradisional mereka yang beratap Gonjong (bagian atap yang melengkung dan lancip seperti tanduk kerbau khas Rumah Gadang di Minang), sehingga sepanjang perjalanan kita seperti menyaksikan ‘tanduk-tanduk kerbau’ yang bersusun-susun.

Di Padang Panjang sendiri terdapat Rumah Gadang Rantau Pasisie yang sangat besar dan saat ini telah dijadikan museum. Crew Zetizen Gorontalo mengetahui banyak hal unik melalui wawancaranya dengan salah satu penjaga museum di Rumah Gadang Rantau Pasisie ini. Dua diantaranya adalah,

Pertama, pasak-pasak penopang rumah gadang sengaja dipatok secara miring, tidak lurus. Hal ini bertujuan agar ketika ada gempa bumi, rumah gadang tidak akan mudah rubuh, karena pasak-pasak yang miring ini mampu mengikuti gerakan gempa.

Kedua, Kamar-kamar di dalam Rumah Gadang sengaja dibuat sangat kecil karena dua alasan. Alasan pertama, karena anak laki-laki maupun perempuan yang sudah berusia 10 tahun diharuskan untuk keluar dari rumah. Laki-laki belajar agama di Surau kampung, perempuan belajar memasak dan menjahit di sisi lain rumah gadang. Alasan kedua, agar kepala keluarga terdorong untuk mencari nafkah sebanyak-banyaknya untuk bisa membeli rumah sendiri bagi keluarganya.

Jadi guys, ketika akan membangun rumah gadang, segala sesuatunya memang sudah diperhitungkan plus minus serta untung ruginya. keren kan?

Pindah ke Bukittinggi, salah satu landmark paling terkenalnya adalah JAM GADANG. Siapa sih yang gak kenal ‘Clock Tower’ yang satu ini? Selain sebagai pusat penanda Kota Bukittinggi, Jam Gadang ini juga telah dijadikan sebagai objek wisata bagi masyarakat setempat maupun para pelancong.

Kerennya, Jam Gadang ini didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda dan digerakkan oleh mesin yang hanya dibuat dua di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris.

So, Zetizen Gorontalo ada yang tertarik berkunjung ke Ranah Minang? (ZT-11/hargo)