Sempat Pesimis Jadi Pramugari

Punya wajah cantik dan tinggi badan yang proporsional tentu bisa membuka peluang bagi siapa saja yang ingin berkarir, misalnya di dunia penerbangan. Sayangnya, memiliki tinggi badan yang proporsional tak serta merta membuat si cantik Nadya Saraswati Rojikan percaya diri untuk menjadi seorang pramugari.

Perempuan yang memiliki tinggi badan 175 cm ini justru sempat minder sebelum terbang meninggalkan Gorontalo untuk mengikuti pendidikan menjadi seorang Flight Attendant di Malang, Jawa Timur.

Tapi beruntungnya, kecemasan perempuan yang akrab disapa Saras ini malah menjadi berkah yang harus disyukuri. Anak pertama dari pasangan Agus Santoso Rojikan dan Lian Kasim ini berhasil mewujudkan impian masa kecilnya menjadi seorang pramugari setelah mengikuti pendidikannya di Sekar Gegani, Malang, Jawa Timur.

Awalnya sebelum ikut tes, Saras sempat pesimis. Namun saat itu, dimana yang awalnya Saras masih merasa minder dengan tinggi badannya. Dia berhasil menghilangkan perasaan minder tersebut dan menjadikan tinggi badan yang dimilikinya sebagai modal untuk mengikuti tes pramugari tersebut. Sebelumnya, tes-tes untuk menjadi pramugari tersebut telah ada, namun hanya diselenggarakan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Perjalanan Saras dalam mewujudkan cita-citanya tak berjalan mulus, bahkan dirinya sempat menunda untuk mengikuti prosedural yang telah ditentukan pihak maskapai penerbangan karena terbentur usianya yang belum cukup umur.

“Waktu itu aku sempat sedih, karena umurku belum delapan belas tahun untuk menjadi seorang Pramugari di Batik Air. Sehingga aku pun harus kembali menunggu. Tapi, selama menunggu aku gunakan untuk traveling,” tutur perempuan kelahiran 29 Januari 1998 ini.

Menjadi seorang pramugari sesuai dengan cita-citanya di usia yang masih terbilang remaja memang merupakan suatu anugerah tersendiri bagi Saras. Namun disamping itu, Saras pun harus rela untuk kehilangan masa remajanya untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi. Saras harus menghabiskan waktunya untuk bekerja sebagai pramugari. Namun hal itu tetap di syukurinya, sebab dia tidak lagi meminta uang kepada orang tua dan justru sebaliknya.

Banyak suka dan duka yang didapati Saras selama menjadi pramugari dalam waktu hampir tiga tahun terakhir ini. Saras juga menceritakan bahwa rute penerbangan dengan penumpang yang cukup merepotkan ialah penumpang tujuan Medan, Makassar dan Manado. Sebab, jika dilihat dari latar belakang daerah dan budayanya, tiga daerah tersebut merupakan daerah yang masyarakatnya terbiasa berbicara dengan nada suara yang cukup tinggi. Olehnya, saat melayani penumpang dari ketiga daerah tersebut, Saras mengakui dirinya harus memiliki kesabaran yang ekstra.

“Menjadi seorang Pramugari membuatku belajar banyak hal, salah satunya harus benar-benar extra sabar dan tetap berusaha tersenyum setiap saat.” ungkap dara yang pernah menjadi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Provinsi Gorontalo tersebut.

Secara pribadi, alumnus SMA Negeri 1 Gorontalo ini merasa bersyukur dan bangga akan profesi yang dimilikinya meskipun banyak orang yang berkata bahwa bekerja sebagai pramugari taruhannya adalah nyawa. Namun di tangan mereka memegang keselamatan orang banyak yang harus mereka jaga.(ZT-08)