Simak! Ini Penyebabnya Gas Elpiji 3 Kg Langka, Ternyata…

TIM SIDAK penyalahgunaan elpiji 3 kg saat menemukan sejumlah elpiji yang digunakan oleh salah satu laundry untuk mengoperasikan mesin laundry, Kamis (23/11). INSERT : Salah satu rumah makan di Kota Gorontalo ditemukan menggunakan elpiji 3 kg untuk memasak.

Hargo.co.id Gorontalo  – Pantas saja. Gorontalo sering mengalami kelangkaan elpiji 3 kg. Para pemilik usaha berskala cukup besar ternyata ikut menggunakan elpiji subsidi ini. Parahnya, penggunaan oleh pelaku usaha ini bukan dalam jumlah satu tabung saja, namun mencapai 30-an tabung per usaha.

Ini sebagaimana yang terungkap dalam Sidak penyalahgunaan elpiji subsidi 3 kg yang dilaksanakan, Kamis (23/11). Tim yang terdiri dari Pertamina, Hiswana Migas, TNI-Polri, Satpol PP dan Pemerintah Provinsi Gorontalo itu, berhasil mengungkap penggunaan elpiji 3 kg di kalangan usaha menengah ke atas.

Sebagaimana pantauan Gorontalo Post, tim awalnya melakukan Sidak di sejumlah pangkalan di Kota Gorontalo yang dicurigai terlibat permainan dengan pengecer. Saat itu, tim memberikan peringatan keras kepad apemilik pangkalan untuk mentaati aturan mengisi logbook yang diwajibkan untuk diisi oleh setiap pembeli elpiji 3 kg. Kemudian sidak dilanjutkan di beberapa usaha besar yang dicurigai menggunakan elpiji 3 kg. Misalnya usaha laundry yang kedapatan menggunakan gas 3 kg untuk keperluan usaha.

Dimana gas digunakan untuk menjalankan mesin laundry dan mesin uap. Kemudian tim juga menemukan sejumlah rumah makan di Kota Gorontalo menggunakan elpiji subsidi dalam jumlah sangat banyak. Ada yang menggunaakan 8 tabung hingga 30-an tabung per usaha.

Beberapa pengelola rumah makan mengaku memperoleh elpiji 3 kg itu dari beberapa pemasok. Mereka membeli dengan harga Rp 20 ribu per tabung. Setelah melakukan Sidak di Kota Gorontalo, tim kemudian melanjutkan Sidak di wilayah Telaga, Kabupaten Gorontalo dan di Kabupaten Bone Bolango.

Sales Executive Elpiji Sulut-Gorontalo, Parrama R. Amyjaya mengatakan, Sidak ini dilaksanakan tak lain untuk mengetahui sejauh mana permainan antara pangkalan dengan pengusaha besar.

“Pada prinsipnya dengan Sidak ini kita ingin tahu sampai sejauh mana pangkalan menyuplai elpiji 3 kg kepada mereka yang tidak layak menggunakannya. Nanti hasil Sidak akan terus kita tindaklanjuti, kita akan cari tahu rumah makan dapat dari pangkalan mana saja,” katanya.

Setelah itu, lanjut Parrama, apabila pihaknya menemukan ada pangkalan yang menyuplai ke rumah makan maka pihaknya tak segan segan akan memberikan sanksi sesuai prosedur. “Bahkan bisa samoai pada penutupan pangkalan, seperti tadi (kemarin, red) satu pangkalan yang bergandeng dengan usaha laundry kita tutup. Karena laundry-nya ternyata pakai elpiji 3 kg untuk menjalankan mesin,” ungkapnya.

Apakah ini menjadi salah satu penyebab kelangkaan?, menurut Parrama, bisa saja, penggunaan elpiji 3 kg di kalangan menengah ke atas, terutama usaha usaha besar menjadi salah satu pemicu sulitnya warga memperoleh gas bersubsisi. “Kalau setiap rumah makan pakai 10 tabung per hari, maka sebulan ada 300 tabung yang mereka pakai.

Nah, itu kan harusnya digunakan oleh 300 rumah tangga berpendapatan rendah,” jelasnya seraya mengingatkan kepada seluruh pangkalan elpiji 3 kg di Gorontalo untuk senantiasa mentaati segala aturan dalam penyaluran elpiji subsidi ini.

Kabid Perdagangan Dinas Perindag Provinsi Gorontalo Ismail Bau juga menegaskan, sesuai aturan yang ada, pelaku usaha yang memiliki pendapatan besar tak bisa menggunakan elpiji 3 kg. “Ini hanya khusus warga miskin dan usaha mikro,” tegasnya.

Dalam Sidak ini, lanjut Ismail Bau, tim mengganti elpiji 3 kg miliki pelaku usaha dengan elpiji 5,5 kg. “3 tabung 3 kg diganti dengan 1 tabung 5,5 kg,” ungkapnya.(dan/hg)