Stop Bullying, Please!!! – Berani Bersikap , Jangan Biarkan Bullying Terjadi di Sekitarmu

hargo.co.id – MASIH ingat kan kasus bullying terhadap siswi SMP dan mahasiswa berkebutuhan khusus yang beberapa waktu lalu beredar di media sosial? Ya, apa pun alasan di baliknya, aksi bullying dan intimidasi nggak boleh dibiarkan begitu aja. Faktanya, 51 persen dari 1.561 Zetizen pernah di-bully teman di sekolahnya.

Maraknya permasalahan yang terjadi membuka mata kita bahwa masalah bullying alias perundungan perlu mendapatkan perhatian khusus. Jika terus dibiarkan, bisa aja aksi bullying makan korban. Mulai kekerasan fisik hingga berakibat pada depresi yang dapat mengakibatkan bunuh diri. Bukan hanya itu, jika perilaku bullying yang tidak ditangani dengan baik pada masa anak-anak justru dapat menyebabkan gangguan perilaku yang lebih serius di masa remaja dan dewasa. Seperti; pelecehan seksual, kenakalan remaja, keterlibatan dalam geng kriminal, kekerasan terhadap pacar/teman kencan, pelecehan atau bullying ditempat kerja, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan/kekerasan terhadap anak, kekerasan terhadap orang tua sendiri.

Peneliti internasional Amy Huneck (2006) memperoleh temuan data bahwa 10–60 persen siswa di Indonesia pernah mendapatkan bullying secara verbal dan fisik. Hal itu terbukti dari adanya beberapa kasus di Jakarta yang belakangan ini videonya tersebar melalui media sosial kan? Belum lagi kasus bullying yang nggak di-blow up.

Konsultan psikologi yang sering menangani permasalahan remaja itu menyatakan, korban bullying pasti bakal merasa trauma dan kehilangan kepercayaan diri. ’’Perasaan teraniaya, takut, dan terintimidasi itu pasti ada. Apalagi kalau bullying itu secara verbal dan fisik. Bahkan, dia akan makin cemas jika bullying terjadi lagi dan merasa tak berdaya mencegahnya,’’ jelasnya.

Olie juga menyayangkan aksi bullying terus dibiarkan. Sebab, yang paling merasakan dampaknya adalah korban. ’’Makin lama korban merasa tak punya kekuatan untuk mencegah dan rentan mengalami depresi, gangguan mental, bahkan bunuh diri,’’ ungkapnya.

Menurut Olie, dibutuhkan pembentukan sistem baru untuk mengatasinya. Nggak hanya harus dibekali kemampuan self-defense seperti bela diri atau keberanian melawan dan menyuarakan yang dialami, korban juga butuh support dari orang terdekat agar nggak merasa sendirian. Perhatian dari instansi terkait dengan keberadaaan CCTV sebagai pengawasan juga perlu untuk mencegah hal tersebut. So, mulai dari diri kita jangan biarkan bullying terjadi di sekitarmu. Berani bersikap dan say no to bullying. (may/c14/zet/ZT-08/hargo)

 

Merlinda Kasim
Mahasiswa Sosiologi, UNG


Korban Bisa Depresi

Bully sering terjadi karena adanya rasa iri antar satu sama lain.  Akibat dari bully yang dirasakan oleh si korban dapat menyebabkan depresi akibat perlakuan yang tidak baik dari orang yang melakukan bully terhadap dirinya. So jangan biasakan hal sepeleh. Walau  hanya bercanda, secara tidak langung kita udah nyakitiin seseorang.  (ZT-07)

 

 

 

Mega Riani
Kesehatan Masyarakat (UNG)

Membunuh Kepercyaan Diri

Bullying itu menurutku sifat buruk yang dibawa oleh orang-orang lemah. Kenapa mereka lemah? Karena mereka beraninya hanya keroyokan. Bullying itu nggak baik, karena bisa membunuh rasa kepercayaan diri orang. Bersyukur aku belum pernah ngerasain rasanya di bully. Dan cara yang paling baik untuk menjaga lingkunganku dari bullying yaitu memperkuat diri kita dengan menanamkan norma agama di lingkungan sekitar. (ZT-06)

 

 

Sri Wahyuningtias Ibrahim
SMA NEGERI 1 TIBAWA

Still Calm

Bullying adalah tindak kekerasan ancaman atau paksaan untuk menyalah gunakan atau mengintimidasi orang lain. Dan aku pernah merasakannya di sekolah. Menurutku bullying tidak sepantasnya dilakukan karena bullying akan menambah tingkat stress seseorang terlebih  mempengaruhi keadaan psikologi si korban loh. Membuat korban semakin tidak percaya diri serta menimbulkan permusuhan. Cara menghadapi bullying adalah jangan mudah marah, karena kalau kita marah si pembully akan merasa senang, so tetaplah tenang! (ZT-06)