Suara Tembakkan Enam Kali dan Dekat Sekali, Mahasiswa RI Saksi Teror Paris

SIAGA: Kawasan Champs Élysées mendapatkan penjagaan ketat usai teror penembakkan. (Reuters)

Hargo.co.id – Teror yang terjadi di Paris, Prancis, pada pukul 21.00 Kamis (20/4) waktu setempat (sekitar pukul 02.00 WIB, Jumat 21/4) diklaim Presiden Prancis François Hollande sebagai serangan teror.

Serangan yang berupa penembakan di jantung Kota Paris, Champs Élysées itu menewaskan seorang polisi. Insiden yang terjadi beberapa hari sebelum pemilu presiden putaran pertama itu juga membuat dua polisi lainnya terluka.

Menteri luar negeri Pierre-Henry Brandet mengatakan, seorang laki-laki memarkirkan mobilnya di area parkir polisi di Champs Élysées, kemudian laki-laki tersebut keluar dari mobil dan menembaki mobil polisi. Hollande berjanji untuk mengamankan Perancis menjelang pemilihan umum tersebut. ’’Malam ini kami akan mengadakan rapat dengan Dewan Keamanan,’’ papar Hollande.

Saat kejadian, seperti biasa, Champs Elysees penuh dengan wisatawan. Salah seorang di antaranya ada Pratiwi Widya. Pratiwi adalah mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Polandia dan sedang liburan ke Paris bersama keluarga.

Tiwi memaparkan, saat itu sekitar pukul 20.40 dia dan dua orang keluarga dan satu mahasiswi Indonesia yang berkuliah di Sorbonne, Paris, sedang berjalan-jalan di daerah Champs Elysees, setelah itu dia mendengar suara tembakan yang dekat sekali. ’’Suara tembakannya enam kali, tapi tembakan ke-empat kami baru lari, karena awalnya kami kira itu kembang api,’’ papar mahasiswi asal Surabaya tersebut.

Kemudian semua orang lari. Tiwi dan rombongannya juga langsung lari masuk restoran mengikuti orang-orang. Kemudian dia diarahkan untuk sembunyi di apartemen di dalam sebuah restoran. Polisi berdatangan, helikopter juga mulai patrol. ’’Setelah 30 menit katanya kondisi udah aman. Tetapi, di luar malah ada yang lari, jadi kami masuk apartemen lagi.”

Setelah beberapa lama kemudian mereka dikawal tentara untuk ke kereta bawah tanah. Selama menunggu di apartemen dalam restoran tersebut, Tiwi mencoba menghubungi mahasiswa Indonesia di Polandia, KBRI Warsaw, dan biro pers Persatuan Pelajar Indonesia Dunia. ’’Tetapi, enggak sempat deh yang namanya foto TKP, yang penting kami selamat,’’ ujar Tiwi. (theguardian/ina/tia)