Suasana Subuh Berjamaah di Lapas Gorontalo Diwarnai Tangis Haru, Jadikan Lapas sebagai Madrasah Jiwa

Jamaah Ba’da Subuh Lapas Kota Gorontalo yang hikmad mendengarkan tauziah. ( F : istimewa)

KOTA GORONTALO – Hargo.co.id Pukul 04.15 WITA, beberapa petugas pemasyarakatan nampak mulai berjaga di depan pintu utama masuk. Berbalut seragam biru tua, dengan Kopel Rim melingkar di pinggang, lengkap dengan baret serta sepatu lars, membuat para Polisi Khusus Pemasyarakatan (Polsuspas) itu terlihat gagah.

Di halaman depan, beberapa orang tengah menggeliatkan otot dengan menyapu halaman. Melihat tampilan mereka, dimungkinkan jika beberapa yang tengah menyapu itu adalah bagian dari warga Binaan Lapas Kelas II Kota Gorontalo.

Suasana subuh itu memang diakui berbeda, di depan gerbang utama gedung pemasyarakatan, satu peleton Tim Satpol PP Kota Gorontalo juga telah bersiaga di tengah pekatnya udara dingin.

Sementara, dari jalur arah barat, terlihat beberapa mobil mulai memasuki pelataran Lapas. sementara hampir sepuluh unit mobil lainnya telah lebih dahulu terparkir di area yang telah disediakan.Memang pada subuh itu, tim pejuang subuh dan Walikota Gorontalo akan melaksanakan Shalat Subuh dan tauziah rohani di Lapas Kelas II Kota Gorontalo.

Kumandang azan lalu terdengar mengiringi aktivitas pembuka hari pada Jumat (21/4) tersebut. “Asshalaatu khairum minannauum, (Shalat lebih baik dari pada tidur,” demikian lantunan merdu sang muadzin memberikan semangat ibadah.

Sementara senyum dan suasana hikmad nampak meriasi wajah wajah yang berkesempatan menikmati kesejukan di waktu subuh tersebut. Rombongan Walikota Gorontalo tak beberapa selang kemudian tiba dan langsung memasuki ruang pemasyarakatan.

Namanya saja gedung pemasyarakatan, tentu merupakan lokasi pengasingan bagi warga binaan yang tengah menjalani hukuman. Siapapun dan untuk kepentingan apapun, bagi yang ingin bertamu ke dalamnya, mesti melewati rangkaian prosedur.

Begitu memasuki pintu pertama, pengunjung harus bersedia dilucuti berbagai perlengkapan yang tidak dibutuhkan selama di dalam. Kecuali untuk alasan tertentu yang tentunya tidak menganggu sistem pengamanan dan keamanan didalam lokasi.

Usai memasuki pemeriksanaan manual, pengunjung masih harus melewati sebuah metal detector lalu kemudian diperiksa kembali secara manual. Sebuah prosedur keamanan yang cukup ketat diterapkan meski kunjungan kali ini untuk melaksanakan Shalat subuh berjamaah di Masjid yang berada di dalam area Lapas.

Di dalam masjid, nampak telah ramai. Dengungan zikir terdengar lirih, aroma minyak wangi semerbak di seputaran masjid. Lebih dari 600 warga Binaan Lapas Kota Gorontalo yang beragama Islam ditambah sedikitnya 100 rombongan pengunjung melaksanakan subuh berjamaah saat itu.

Sebenarnya bangunan masjid di area utama pemasyarakatan itu terbilang cukup luas. Tapi karena padatnya jamaah, suasana menjadi cukup berdesakan. Tapi justru inilah yang menciptakan perasaan takjub saat melaksanakan subuh berjamaah saat itu.

Suara imam yang merdu, melantunkan bait bait suci Alquran, dan disahuti dengungan ‘Amiin’ oleh jamaah laki laki, dalam dua rakaat shalat, serasa membawa jiwa terbang sejenak meninggalkan sibuknya rencana hari ini.

Nikmat yang menyeruak ke sekujur tubuh menciptakan syukur yang tiada terhingga saat sang imam melafazh salam tanda berakhirnya shalat yang agung itu.Suasana masih terasa begitu hikmad, saat Ustad Syaifudin Mateka menaiki podium.

Suara yang terdengar berat namun bernada hikmah, sarat melontar kalimat kalimat petuah yang begitu menggetarkan. “Banyak orang yang menganggap tempat ini (Lapas,red) sebagai tempat hukuman, banyak orang yang bahkan tidak ingin membayangkan berada di tempat ini sebagai warga binaan, tapi tahukan saudaraku warga binaan, di tempat seperti inilah, ulama ulama besar islam.

justru menyempurnakan keimanan dan ilmu hikmahnya, mari kita kenang Imam Amhad Ibnu Hanbal, mari kita simak jejak mulia Buya Hamka, mereka adalah hamba hamba shaleh yang justru mendapat kesempurnaan hikmah dari balik jeruji besi, seperti di tempat ini.

Jadi, tempat ini adalah sebuah Madrasah Jiwa bagi saudaraku yang menghuninya.“ Petikan kalimat yang terucap dari sang ustadz itu tidak hanya mampu didengar telinga, namun mulai mengetarkan hati dari banyak hati yang tengah menyimaknya.

“Mungkin, di sinilah, kita baru sadar, betapa indahnya berkumpul bersama saudara, bersama istri bersama suami, orang tua dan anak. Padahal semasa kita lepas dulu, tidak jarang kita melalaikan perhatian mereka. Tempat ini adalah sebuah madrasah jiwa,” kata ustadz Syaifudin Mateka.

Tak dapat disangkal kebenaran ungkapan sang ustad, hingga sesuatu terasa mendesak keluar dari rongga dada. Menjalar ke kepala dan ingin keluar dari dua kelopak mata dengan wujud bulir bening yang kemudian membasahi pipi bagi siapapun yang merasakannya.

Puluhan Napi Nampak termenung, terlihat merenung dan menghayati kebenaran kalimat sang ustadz. Subuh siang itu dihiasi air mata nan nikmat para Narapidana. Suasana itu terus mengalir selama waktu tiga perempat jam sang ustadz mengurai taburan hikmah.

Sementara itu, Walikota Gorontalo Marten Taha, saat memberikan sambutan usai tauziah menyampaikan penghargaan yang besar kepada seluruh warga binaan, dan jajaran Lapas Kelas II Kota Gorontalo.

“Ini menjadi subuh berjamaah pertama yang kita laksanakan bersama saudara, dan sahabat kita para warga binaan di tempat ini, saya berharap, saudara saya yang ada di Lapas Kota Gorontalo.

dapat ikut menjadi pejuang subuh, dapat terus menghidupkan gelora shalat subuh berjamaah sebagai bagian dari pengabdian kita kepada Allah, dan bagian dari proses pembentukan jiwa spiritual kita,” tandas Walikota.(*/hg)