Tahun Ini Ekonomi Gorontalo Stabil, Inflasi Masih Perlu Dikendalikan

Ilustrasi

GORONTALO, Hargo.co.id  – Pertumbuhan ekonomi Gorontalo 2017 secara umum diyakini akan relatif lebih stabil jika dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan koran ini dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Gorontalo 2016 tercatat tumbuh 6,52 persen. Sedangkan pada 2015, ekonomi Gorontalo tumbuh 6,22 persen.

Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga yang konsen menjaga stabilitas ekonomi melalui Kajian Ekonomi Regional menyebutnya demikian. Faktor pendorong stabilnya pertumbuhan ekonomi 2017 berasal dari terjaganya permintaan domestik seiring meningkatnya pendapatan masyarakat akibat akselerasi pertumbuhan lapangan usaha pertanian.

Akan tetapi disisi lain, kinerja investasi diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan seiring berkurangnya investasi dengan selesainya proyek strategis seperti PLTG Paguat dan bandara Djalaludin, dimana belum adanya proyek investasi pengganti dengan nilai investasi yang lebih besar.

Pada Triwulan IV 2017 ini, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Gorontalo mengalami peningkatan. Sebelumnya, pada Triwulan III, perekonomian tumbuh melambat 5,29 persen (year on year/yoy) dari Triwulan II yang tumbuh 6,64 persen (yoy).

Akselerasi perekonomian Gorontalo pada triwulan IV 2017 terutama didorong oleh meningkatnya kinerja konsumsi seiring peningkatan peningkatan pendapatan masyarakat akibat meningkatnya lapangan usaha pertanian dengan adanya panen raya, adanya event tahunan pariwisata seperti Festival Boalemo hingga Karnaval Karawo.

Selain itu, peningkatan juga didorong oleh komponen investasi sebagai upaya menyelesaikan berbagai proyek strategis dan realisasi penyaluran dana desa serta peningkatan kinerja ekspor seiring meningkatnya pasokan jagung.

Dari sisi inflasi, secara umum mengalami peningkatan. Tahun 2016, inflasi Gorontalo tercatat 1,3 persen. Sedangkan inflasi Gorontalo hingga November 2017 tercatat sudah mencapai 3,53 persen.

Pendorong utama terjadinya peningkatan tekanan inflasi tersebut bersumber pada kelompok barang yang diatur pemerintah (administerd prices) seiring adanya kebijakan pemerintah yang berpengaruh pada kenaikan tarif dan biaya seperti pencabutan subsidi listrik untuk sebagaian pelanggan daya 900 VA, peningkatan cukai rokok, penyesuaian batas bawah tarif angkutan udara dan peningkatan biaya perpanjangan STNK.

“Tekanan inflasi Gorontalo triwulan IV memperlihatkan penurunan di awal periode, namun diperkirakan akan mengalami peningkatan yang didorong oleh peningkatan permintaan seiring adanya perayaan hari besar keagamaan dan libur sekolah serta adanya potensi terganggunya pasokan akibat gangguan produksi seiring meningkatnya curah hujan di akhir tahun.

Akan tetapi, melihat perkembangan harga terakhir serta risiko dan berbagai upaya pengendalian inflasi yang telah dan akan dilakukan, tingkat inflasi Gorontalo pada akhir triwulan IV 2017 atau akhir tahun 2017 diperkirakan sesuai dengan target nasional sebesar 4 persen plus minus,” tulis BI melalui KEKR.(axl/hg)