Tak Menjanjikan, Petani Jual Sawah

Area sawah yang tak lagi produktif.

GORONTALO, Hargo.co.id – Para petani di Kota Gorontalo menilai bertani kini tak lagi menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Pasalnya, hasil panen yang diperoleh tak akan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Apalagi, ketika gagal panen, para petani justru banyak yang terbelit hutang piutang, sehingga terpaksa mereka harus menjual lahan sawahnya. Salah satu buktinya, kini di Kota Gorontalo, dalam beberapa tahun terakhir, banyak lahan sawah padi yang telah beralih fungsi menjadi lahan perumahan ataupun lahan bangunan usaha.

Para petani lebih memilih untuk membuka usaha baru ketimbang harus menjalani pekerjaan bertani yang dirasa cukup berat tersebut.

Salah seorang petani di Kota Gorontalo Inton Djafar mengatakan, seiring berkembangnya zaman, bertani kini dinilai menjadi pekerjaan yang kasar. “Artinya, kerjanya berat, tetapi pengehasilan sedikit,” katanya.

Ia menuturkan, akibat semakin tingginya biaya hidup dan kurang pemasukan dalam bertani, banyak para petani yang kini menjual sawahnya. “Nanti uang hasil penjualan sawah sebagian digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan sekolah anak, lainnya digunakan untuk usaha kecil-kecilan,” tuturnya.

Di Kota Gorontalo sendiri, lanjutnya, dengan semakin menjamurnya bangunan, para petani banyak yang tak lagi ingin bertani, mengingat saat ini, harga tanah telah mengalami kenaikan. “Harga tanah di kota kan mahal, jadi petani menganggap ini waktu tepat untuk menjual lahan sawah, per meter saja di wilayah kota ada yang mulai Rp 200 ribu per meter sampai Rp 500 per meter dan bahkan lebih dari itu,” ungkapnya.

Tak hanya Inton, petani lainnya di Kelurahan Libuo, Kecamatan Dungingi, Roni juga mengatakan, Kota Gorontalo setiap tahun terus berkembang, sehingga beragam macam usaha pun terus tumbuh.

“Nah, kalau kita terus bertani dan tidak mau berpindah membuka usaha, kita akan terus ketinggalan, apalagi harga beras biasanya turun drastis, sementara lahan persawahan diserang hama yang akan mengakibatkan gagal panen, ini yang menjadi pertimbangan petani menjual lahannya,” katanya.(dan/hg)