Tak Nikmati Listrik, 24 Desa di Gorontalo ini Belum Merdeka

0
Ilustrasi

GORONTALO Hargo.co.id – Segenap rakyat Indonesia akan memperingati hari kemerdekaan ke-72 sebulan lagi. Namun di usia yang telah melewati separo abad itu, masih banyak masyarakat di tanah air belum menikmati arti sebenarnya kemerdekaan. Tak terkecuali di Gorontalo. Tercatat sedikitnya ada 24 desa yang belum merdeka dari gelap gulita alias belum teraliri aliran listrik.

Dari 24 desa tersebut, sebagian besarnya berada di Kabupaten Bone Bolango. Ada lebih kurang 14 desa. Di antaranya Desa Ilomata, Mongiilo, Owata, Suka Makmur, Ombulo Hijau, Pinogu dan Tulabolo Timur. Sementara sisanya tersebar di Kabupaten Gorontalo dan Gorontalo Utara.

Belum adanya aliran listrik membuat kondisi 24 desa tersebut memprihatikan. Seperti Desa Dulamayo Utara, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Daerah yang letaknya sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Gorontalo itu belum menikmati listrik sejak 1980-an. Alhasil, desa berpenduduk 388 kepala keluarga itu harus rela hidup dalam kegelapan di saat malam.

Sebagian besar warga hanya menggunakan lampu penerangan tradisional (lampu minyak). Ada beberapa warga yang menggunakan genset untuk penerangan. Namun mengingat besarnya biaya operasional untuk bahan bakar, warga pun hanya menggunakan genset setiap malamnya sekitar 4-5 jam. Yakni mulai dari pukul 18.00 wita hingga pukul 22.00-23.00 wita.

Di sisi lain, pada 2015 lalu, Desa Dulamayo sempat mendapat perhatian pemerintah melalui bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 70 watt. Namun dari 338 KK, hanya 15 KK yang mendapat bantuan.

“Untuk satu liter bensin, Hanya bisa digunakan dari jam 6-10 malam, Itupun hanya untuk beberapa lampu saja kalau tidak bensinnya cepat habis,” ujar Salah seorang Kepala Dusun yang ada di Desa Dulamayo Utara Asri Molo, saat ditemui Gorontalo Post (grup hargo.co.id), Ahad (16/7).

Hingga kini belum ada kejelasan pasti sampai kapan mimpi kehadiran listrik bagi warga Dulamayo Utara itu akan menjadi kenyataan. “Tiap kali pejabat yang datang ke sini, hanya sekadar janji saja pak. Tidak ada realisasinya,” tegas salah seorang warga Dulamayo Utara Arfan Hunowu dengan nada kesal.

Padahal menurut Arfan, kehadiran aliran listrik akan sangat membantu warga desanya dalam beraktifitas. Hal yang sama turut dirasakan oleh warga yang mendiami lima desa di Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango.

Hingga kini, daerah yang dikelilingi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBW) itu juta belum pernah dialiri listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Beruntung di Kecamatan Pinogu baru-baru ini masyarakat bisa sedikit bernafas lega setelah desa mereka dialiri listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang terletak di Pusat Kecamatan Pinogu.

Pembangkit listrik bertenaga surya itu menjadi satu-satunya pemasok listrik untuk ratusan rumah yang ada di Kecamatan Pinogu. Uniknya, Warga Pinogu punya kebiasaan unik yang menunjukkan budaya kekeluargaan yang memang masih terjaga di daerah itu.

Dimana, Saat salah seorang warga menggelar kegiatan ataupun acara yang membutuhkan listrik dengan daya lebih, maka warga lainnya akan dengan ikhlas membiarkan rumahnya tidak dialiri listrik. Hal ini karena hampir seluruh daya listrik itu harus dialirkan ke rumah yang tengah menyelenggarakan acara itu.

Namun, hingga kini masyarakat Pinogu sendiri masih menunggu dan berharap persoalan listrik ini akan segera bisa terselesaikan. Selain persoalan jalan yang hingga kini masih terus menjadi persoalan bagi warga Pinogu.

Kepala Bidang Kelistrikan Dinas PNM ESDM Nakertrans Provinsi Gorontalo Freksi Gani mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk memenuhi target elektrifikasi di Gorontalo. Menurutnya, saat ini target elektrifikasi sudah lebih dari 80 persen.

“Kita terus berupaya memenuhi kebutuhan listrik di Gorontalo. Namun masih ada 24 desa yang belum teraliri listrik,” ungkapnya ketika diwawancarai Gorontalo Post (grup hargo.co.id).

Lebih lanjut disampaikan Freksi, kebutuhan listrik dari tahun ke tahun memang terus mengalami peningkatan. Menurutnya, hal tersebut sudah merupakan fenomena umum, apalagi di daerah yang tengah membangun seperti Gorontalo. Contoh kecil saja untuk kebutuhan listrik rumah tangga. “Setiap ada rumah tangga baru, pasti membangun rumah. Tentunya butuh listrik. Jadi pastinya kebutuhan listrik pun bertambah,” jelas Freksi. (tr-45/and/hargo)