Terungkap, 3 Catatan Medis Potensi Penyebab Choirul Huda Meninggal

Choirul Huda sempat tak sadarkan diri akibat berbenturan dengan rekannya sendiri, bek Ramon Rodrigues. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Hargo.co.id –  Berita duka datang dari klub Persela Lamongan. Kiper kawakan Choirul Huda meninggal dunia. Huda tak sadarkan diri akibat berbenturan dengan rekannya sendiri, bek Ramon Rodrigues. Keduanya berusaha menghalau bola dari jangkauan pemain Semen Padang. Tak lama, Huda dilarikan ke rumah sakit dan meninggal dunia. Mengapa bisa demikian?

Pakar Nyeri dan Tulang Belakang dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS menduga ada beberapa hal yang menyebabkan benturan bisa membuat seseorang meninggal dunia. Hal itu diprediksi dari benturan kepala, leher, dan dada.

“Semua benturan bisa ditangani atau tidak atau meninggal dunia, tergantung dari keras atau tidaknya benturan itu,” tegasnya kepada JawaPos.com, Minggu (15/10).

1. Benturan di Leher

Jika benturan terjadi di leher, bisa dikaitkan dengan cedera di bagian saraf leher atau di sekitar leher. Biasanya jika ada cedera yang terjadi di area tulang leher bisa menyebabkan saraf tertekan.

“Saraf leher itu saraf yang mempersarafi organ-organ lain di bawahnya. Termasuk sistem kaki, tangan, pernapasan dan jantung,” ungkapnya.

Jika itu terjadi maka bisa menyebabkan kematian. Hal itu sama seperti kondisi fraktur servikal.

2. Benturan di Dada

Patah tulang di dada bisa mengenai tulang iga atau tulang klavikula (tulang selangka). Patahan itu apabila terjadi benturan dan menusuk paru, maka mengakibatkan cedera pada paru. Hal itu berdampak pada perdarahan.

“Lalu bertambah sampai fungsi perkembangan paru terganggu di kiri. Sesak bernapas dan bisa meninggal. Beberapa menit sampai beberapa jam,” tegasnya.

3. Benturan di Kepala

Benturan mengakibatkan cedera patah tulang kepala atau tengkorak sehingga menyebabkan perdarahan di otak. Benturan membuat tulang tengkorak retak. Hal itu menyebabkan gangguan fungsi napas dan jantung.

“Bisa meninggal di lapangan. Tergantung benturannya, jika perdarahannya cepat keburu terjadi gangguan sistem saraf pusat. Jika cedera berat sulit, enggak terkejar waktu penanganannya. Perjalanan ke RS saja sudah berapa jam, belum lagi diagnosis CT Scan dan lainnya,” tutup Mahdian.

(ika/JPC/hg)