Tes Kesehatan, Jika Positf Narkoba, Gugur dengan Sendirinya

Para pasangan calon kandidat Pilkada Gorut akrab disela-sela pemeriksaan kesehatan hari kedua, kemarin.

GORONTALO, Hargo.co.id Awal pelaksanaan tahapan pemeriksaan kesehatan terhadap tiga pasangan calon (Paslon) untuk Pilwako Gorontalo, dimulai Kamis (11/1), dengan pemeriksaan narkoba. Untuk Pilkada Gorut, pemeriksaan narkoba baru berlangsung pada Jumat (12/1).

“Sampel urin dan darah masing-masing paslon, akan dibawa ke pusat untuk dilakukan uji laboratorium selama dua hari.

Jika dalam proses itu ditemukan paslon positif narkoba, maka akan gugur dengan sendirinya. Dan pihak pusat akan menindak lanjuti temuan itu,” ujar Ketua Tim Kesehatan dr. Irianto , kemarin.

Sebaliknya, jika hasilnya sampel urin dan darah tiga para pasangan calon tak mengandung narkoba, maka proses pemeriksaan kesehatan berlanjut ke tahap berikut.

“Jika hasilnya sudah ada Jumat hari ini (Kemarin.red), maka segera kami plenokan,” tutur Irianto Dunda.

Sementara itu, terpisah Ketua KPU Kota Gorontalo, La Aba mengatakan, untuk maju sebagai peserta Pilwako tahun ini, pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu yang haru diikutoi pasangan calon.

Hal ini berdasarkan aturan serta Surat Keputusan (SK) KPU RI nomor 231. La Aba menegaskan. Tahapan tersebut bersifat final, dengan artian jika sudah ada hasilnya, maka langsung diplenokan.

“Semua paslon harus mengikuti proses tahapan tersebut dengan sebaik mungkin, tanpa melanggar prosedur dan aturan yang ada dalam pelaksanaan tahapan ini,”ujarnya.

Untuk Pilkada Gorut, pemeriksaan kesehatan berlangsung di RS MM Dunda Limboto, hari kedua kemarin pemeriksaan dilakukan oleh BNN untuk memastikan para kandidat bersih dari barang haram itu. Para pasangan calon dilakukan pengambilan sampel baik urine maupun darah. Menariknya, suasana pemeriksaan tak menegangkan.

Para pasangan calon bahkan terlihat saling akrab, kendati mereka sama-sama bertarung.

Ditemui secara terpisah, Sekretaris Tim Pemeriksa dr. Mohammad Ardiansyah mengungkap untuk tahapan pemeriksaan sampel dari para juga melibatkan dokter ahli dari BNN yang melakukan pemeriksaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA).

Kepala BNNP Gorontalo Brigjen Pol Oneng Subroto mengatakan, pengambilan sampel kepada para calon sesuai peraturan KPU tentang persyaratan-persyaratan kesehatan yang harus dipenuhi, salah satunya adalah bebas narkoba.

Untuk pengambilan sampel urine sendiri BNN menggunakan 6 parameter untuk mengetahui kadar Marijuana, Morfin, Amphetamine, mathamphetamin, ekstas (MDMA) dan Kokain.

Masih Jalan Ditempat

Ditengah maraknya kepala daerah yang terjerat kasus narkoba, tes narkoba bagi para calon kepala daerah yang akan ikut pilkada 2018, belum mengalami kemajuan. Tes urine dan darah yang dijalani oleh para calon masih sama seperti pilkada sebelumnya.

Padahal penyempurnaan tes narkoba sudah sering disuarakan. Untuk penyelenggaraan pilkada 2017 lalu, Ikatan Dokter Indonesia sudah menyerukan uji rambut terhadap calon untuk mendapatkan hasil akurat dalam mendeteksi seseorang mengkonsumsi narkoba atau tidak.

“Zat bertahan di rambut lebih lama. Kalau tes darah sama urine paling lima hari hilang,” kata Mohammad Faqih dari Ikatan Dokter Indonesia saat memberikan masukan untuk penyempurnaan tes narkoba saat pilkada 2017 lalu, seperti dilansir tempo.com

Menurut dia, hal itu dapat membantu mengidentifikasi pengguna yang bersifat situasional (sesekali). Berbeda dengan pecandu yang sudah akut, pengguna situasional sulit ditebak bila sekadar tes urine. “Pemeriksaan urine atau darah ini ada kelemahan. Kalau tidak mengkonsumsi narkoba 1-2 minggu, saat diperiksa hasilnya negatif. Meskipun dia sebenarnya pemakai,” ucapnya.

Uji rambut ini diharapkan mencegah adanya kepala daerah terpilih tersandung kasus narkoba. Dan itu terjadi kepada Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Noviadi ditangkap BNN karena diduga sebagai pengguna narkoba. Ia ditangkap sebulan setelah menduduki jabatannya. (tr-45/tr-56/net)