Tiga Warga Botutonuo Tewas di Tambang Dumoga

DUMOGA, hargo.co.id – Kawasan pertembangan emas pantai putih, Desa Tumokang, Kecamatan Dumoga Utara, Bolaang Mongondow, Sulut, menelan korban jiwa. Tiga penambang asal Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Bone Bolango meregang nyawa di dalam lubang tambang milik pengusaha tambang lokal Arol Roring, pada kedalaman sekira 18 meter dari permukaan tanah pada Selasa (17/10) petang. Tiga warga Botutonuo tersebut masing-masing, Suleman Soi (23), Nawir Mursidi (26), dan Acun Soi (22).

Informasi yang diperoleh Gorontalo Post menyebutkan, peristiwa nahas di kawasan pertambangan emas tanpa izin (peti) itu terjadi, saat aktivitas penambangan sedang berlangsung. Ketika itu, para korban bersama sejumlah penambang lainya sedang mengais batu rep di dinding lubang tambang. Terdapat tujuh orang di dalam tambang, masing-masing Suleman Soi, Nawir Mursidi, Acun Soi, Ispon (22) warga Botutonuo, Ical Ngolito (21) warga Botutonuo, Dedi Samual (50) warga Imandi, Dumoga Timur dan Gat Roringkon (38) warga Pinonobatuan Barat, Dumoga Timur.

Saat berada dikedalaman sekira 18 meter, asap pekat mulai tercium. Asap tersebut berasal dari pembakaran rep (material batu berkandung emas) pada lubang tambang milik orang lain, tak jauh dari lubang tambang yang sedang digarap para korban. Tak lama, gumpalan asap tebal mulai masuk ke dalam lubang tambang. Hal itu mengakibatkan oksigen yang semakin tipis dan mengakibatkan mereka kesulitan untuk bernafas. Para penambang ini panik. Mereka lantas berdesak-desakan ke permukaan sambil meminta pertolongan. Sejumlah penambang lainya yang berada di lokasi kejadian, saat mengetahui terjadi insiden di dalam lubang, langsung berusaha melakukan pertolongan.

Mereka menjulurkan tali ke dalam lubang agar para korban bisa menggapainya dan ditarik ke permukaan. Namun, utasan tali tersebut ternyata tak direspon lagi. Alhasil setelah dilakukan pengecekan ketiga Warga Botutonuo ini sudah dalam keadaan tak bernyawa lagi akibat kehabisan okseigen dikedalaman lubang. Belakangan diketahui, ketiga korban ini merupakan sudara sepupu kandung yang mengais rejeki di bumi Bogani itu. Mereka diketahui belum sebulan menggarap lubang tambang tersebut.

Informasi lain yang diperoleh Gorontalo Post menyebutkan, ketika asap mulai masuk ke dalam lubang, salah satu korban Suleman Soi sudah dalam kondisi sangat lemas. Oleh rekan-rekanya, ia kemudian berusaha diselematkan duluan dengan dimasukkan ke dalam karung, lalu ditarik dengan tali ke permukaan. Sayang, ketika hendak sampai ke permukaan, tali putus. Ia terjatuh dan menimpa para korban lainya yang masih berada di dasar lubang. Kondisi itu, diperparah lagi dengan semburan asap yang makin pekat.

Hal tersebut membuat para penambang di dalam tak bisa berbuat banyak. Suleman Soi menghembuskan nafas terakhir, begitu pun dua penambang lainya yakni Nawir Mursidi dan Acun Soi. Sejumlah rekan mereka yang berada di atas permukaan lubang, terus melakukan evakuasi. Kepanikan makin menjadi saat tali yang kembali di ulurkan ke dalam lubang tak lagi mendapat respon dari para korban yang terperangkap. Beberapa saat kemudian, para korban baru bisa segera dievakuasi. Hanya saja tiga orang telah meninggal dunia, dua penambang lainya Ispon dan Ical Ngolito dalam kondisi lemas, begitu pun dengan dua korban yakni Gat Roringkon dan Dedi samual ditemukan dalam keadaan pingsan. Saat itu juga, seluruh korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit di Kotamobagu.

Kepolisian Sektor (Polsek) Dumoga Utara yang menerima informasi tersebut langsung menuju ke lokasi kejadian dan melakolah TKP termasuk memasang garis polisi. “Korban yang meninggal dari pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi, maka kami serahkan seluruhnya kepada pihak keluarga,” kata Kapolsek Dumoga Utara, AKP Kasad Mokodongan. Menurutnya, dugaan sementara asap yang berada didalam lubang tersebut berasal dari lubang pembakaran pep milik Folce Tapinokan, warga Desa Pinonobatuan barat, Kecamatan Dumoga Timur, tak jauh dari lubang tambang nahas itu.

Para korban yang meninggal dunia, dipulangkan ke Gorontalo untuk dimakamkan. Pantauan Gorontalo Post di rumah duka, kemarin, para korban dimakamkan pada pemakaman umum Desa Botutonuo pukul 13.00 wita. Suasana pemakaman berlangsung haru, apalagi isteri dari salah satu korban baru saja melahirkan anak pertama mereka dua pekan lalu. (tr-54/jpg/hargo)