Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW, Modikili Semalam Suntuk dan Parade Walima

parade walima. foto: google.com

GORONTALO, Hargo.co.id – Jumat (1/12) bertepatan 12 Rabiul Awal 1438 H, seluruh umat muslim akan memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tak terkecuali umat muslim di Gorontalo, yang memiliki tradisi unik dalam memeringati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di Gorontalo, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dimulai sejak malam 12 Rabiul Awal. Yakni dengan menggelar dzikir atau bahasa Gorontalo Dikili. Kegiatan berzikir dalam masyarakat Gorontalo dikenal dengan sebutan modikili.

Dikili/modikili merupakan sesuatu yang penting dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW oleh masyarakat Gorontalo. Modikili menjadi salah satu esensi dari pelaksanaan maulidan di Gorontalo.

Grafis Walima.

Bagi bagi khalayak umum masyarakat Gorontalo dikili dipandang sebagai kewajiban. Karena itu tak mengherankan bila malam menjelang hari H Maulid Nabi Muhammad SAW, masjid-masjid di Gorontalo selalu ramai melaksanakan dikili.

Dikili adalah pujaan yang menceritakan kisah Nabi Muhammad. Sejak masih dalam kandungan Siti Aminah hingga perjalanan hidup dan perjuangan Nabi Muhammad menyebarkan Agama Islam. Kegiatan dikili berlangsung semalam suntuk. Mulai setelah Isya hingga pagi hari pukul 09.00 wita. Saat subuh, kegiatan dikili dihentikan sejenak dan kemudian dilanjutkan setelah salat subuh.

Dari literatur menyebutkan bila pelaksanaan dikili dimulai masa kepemimpinan Raja Eyato (1663-1669). Bermula ketika Raja Eyato studi banding ceramah agama ke Ternate. Dari ternate Raja Eyato membawa kesan pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Ternate yang memakai buku Syarful Anaami (Al Barjanji).

Maka Raja Eyato bersama para ulama bekas muridnya melaksanakan pula di Gorontalo. Bedanya di Gorontalo kitab Syaful Anaami dibaca keseluruhan. Sehingga memakan waktu sehari semalam. Sedangkan di Gorontalo ada empat bab yang tak dibacakan. Sehingga memakan waktu semalam tengah hari.

Ketua Dewan Adat Provinsi Gorontalo Karim Pateda menjelaskan, dikili adalah tradisi yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Di Gorontalo ada tiga hari besar Islam yang dimeriahkan dengan adat istiada Gorontalo.

Yakni Idul Fitri, Idul Adha serta Maulid Nabi Muhammad SAW. “Dalam perayaan Maulid Nabi inilah tradisi dikili dan walima dilangsungkan, ” ujar Karim Pateda.

Dikili, kata Karim Pateda, menuangkan kisah-kisah perjuangan Nabi Muhammad. Selain itu memuat ungkapan Salawat dan dzikir sebagai ajakan kepada masyarakat muslim Gorontalo agar selalu mengingat Allah dan meneladani rasulnya Muhammad.
“Tujuannya sangat baik. Dan ini dibaca seperti syair agar terdengar lantunan yang indah dalam semalam suntuk,” terangnya.

Anggota Dewan Adat Gorontalo Yamin Husain menjelaskan, dikili diambil dari kata dzikir yang artinya mengingat. Namun dikili berbeda dari zikir pada umumnya. Dikili merupakan kesenian tradisional Gorontalo yang dipengaruhi nilai-nilai religius/Islam.

“Pembacaan dikili berisi lantunan dzikir, riwayat-riwayat berisi nasihat, peringatan serta kisah-kisah Nabi Muhammad SAW,” ungkap Yamin Husain.
Menurut Yamin Husain, dikili dibagi dalam 18 judul dan dibacakan secara berkelompok. Kelompok dibagi oleh pemimpin dzikir yang disebut “Ahlul”.

Setiap kelompok minimal beranggotakan 5 pedzikir. Masing-masing kelompok selanjutnya mengemban tugas melantunkan 18 judul dzikir/dikili sesuai lantunan khas.

“Lantunan dikili terdiri dua. Pertama Jabu, lantunan sejenis seriosa sebanyak 154 bagian. Kedua, Lapali serta ditutup dengan bagian terakhir sedikit berirama ngebeat atau mars. Biasa letaknya pada kalimat ‘alimun siri waafa amustasi’. Jabu dan Lapali bedanya hanya terletak pada syairnya saja. Sementara iramanya sama,” jelas Yamin.

Pakar Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Prof.Dr.Karmin Baruadi mengatakan, dikili dilakukan karena perintah ajaran agama Islam untuk mengintrospeksi diri secara total.

Sebagai bentuk instrospeksi melalui berdzikir atau modikili. Dikili juga bertujuan agar umat manusia mampu menjadi seorang pemimpin yang jujur dan mengambil keteladanan dari Nabi Muhammad SAW.

“Lantunan-lantunan dikili membuat ketenangan, dan itu semuanya adalah sifat dan perilaku dari nabi Muhammad SAW, yang harus kita dijadikan panutan,” kata Prof.Karmin.

Dosen Fakultas Sastra dan Budaya ini juga menambahkan, dalam pelaksanaan dikili juga disiapkan sajian kue khas yang disebut walima. Sajian itu merupakan wujud pengangungan dan pengorbanan umat muslim di Gorontalo kepada sosok Nabi Muhammad SAW.

“Di samping itu merupakan tanda cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca maupun mendengarkan dikili maka akan dapat diketahui dan dinikmati sebagai hasil seni budaya masyarakat Gorontalo yang diciptakan pada masa lalu,” ujar pria yang menulis artikel tentang Tradisi Sastra Dikili dalam Pelaksanaan Upacara Adat Maulidan di Gorontalo.

Walima
Sementara itu lantaran digelar di masjid semalam suntuk, panitia pelaksana bersama masyarakat sudah menyiapkan hidangan berupa kopi dan kue-kue tradisional.

Hidangan itu dipersiapkan secara khusus bagi pedzikir.
“Untuk menjaga stamina pedzikir seringkali dihidangkan kopi dan bubur,” ujar Yamin Husain.

Kebiasan itu lantas berkembang. Lambat laun makin banyak warga yang menyiapkan sajian khas berupa kue tradisional untuk dibawa ke masjid. Sajian itu lantas dikemas dalam sebuah wadah yang dibuat dari bambu berbentuk kubah masjid.

Wadah itu dikemudian dikenal dengan sebutan “walima”. Selain kue, warga juga menempatkan makanan berupa nasi dan lauk pauk.

“Disebut Walima di Maulid Nabi karena sebuah riwayat, Nabi semasa diasuh ibunya, masyarakat bergembira dan senang. Dalam bahasa Gorontalo disebut Hemotanggalao atau semangat membawa makanan. Sehingga cerita itu diwujudkan dalam tradisi Walima,” jelas Yamin.

Walima dibagi untuk pejabat (Tolangga) dan walima untuk pedzikir serta walima yang dibagikan kepada masyarakat (Tolangga Puluto). Walima diisi dengan kue-kue tradisional.

Kue itu pada zaman dahulu dipilih karena bahannya mudah didapat dan mudah dibuat. Kue-kue tradisional tersebut ditempatkan dalam plastik panjang (plastik kemasan es) lalu diikat di empat bilah bambu yang menjulang ke atas berbentuk seperti kerangka kubah.

Pada bagian tengah Walima diisi bersusun. Pada bagaian dasar ditempatkan nasi putih, lalu disusul Nasi kuning di bagian tengah. Serta bagian ketiga tepat di atasnya diisi Bilindhi atau Nasi kabuli.

“Makna sedikit Nasi Kabuli di bagian atas itu artinya saling berbagi. Biar sedikit asal dirasakan banyak orang. Dalam bahasa Gorontalo disebut ‘Openu bo ngoindi ngindi’, sehingga Walima itu sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat,” tandas Yamin.

Di sisi lain, dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW saat ini, walima yang dibuat masyarakat makin banyak dengan beragam kreasi. Walima-walima itu diarak menuju ke masjid layaknya parade walima. Parade walima ini pun menjadi daya tarik tersendiri. Selain tampilan walima yang indah, aksi warga berebut isi walima menjadi kesemarakan tersendiri dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.(csr/and/wan/hg)