Tragis, Jurnalis Inggris Tewas Setelah Diseret Buaya saat Berlibur

TKP: Di perairan ini hidup Paul McClean berakhir. (FAWAS LAFEER/DEADLINE NEWS)

Hargo.co.id – Dipaparkan saksi mata, McClean, 24, yang berasal dari Thames Ditton di Surrey, diseret ke sebuah sungai dekat Teluk Arugam, Sri Lanka, pada Kamis (14/9). Fawas Lafeer, yang memiliki Sekolah Surf Safa di dekat lokasi kejadian mengatakan kalau McClean sedang mencuci tangannya di sungai ketika dia diserang.

Kejadiannya sangat cepat. Lafeer mengatakan siswa-siswanya baru saja menyelesaikan sebuah pelajaran saat nelayan berteriak. ”Para nelayan melihatnya diserang oleh buaya dan mereka menjerit kepada peselancar untuk datang dan membantu,” katanya.

KENANGAN: Paul McClean (kanan) bersama kakaknya Neil saat wisuda pada Agustus 2015.

KENANGAN: Paul McClean (kanan) bersama kakaknya Neil saat wisuda pada Agustus 2015. (Telegraph.co.uk)

”Saat kami pergi ke tempat di mana si buaya menyerang, kami tidak dapat menyelamatkannya karena buaya telah menariknya ke dalam air sehingga mereka tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi.” Si buaya tidak menampakkan dirinya. McClean diseret begitu saja. ”Sebelum dia tenggelam, dia sempat muncul kepermukaan dan melambaikan tangannya, kemudian dia masuk air,” kata Lafeer.

”Ini adalah pertama kalinya seseorang meninggal di sungai ini. Kami memiliki tiga serangan buaya sebelumnya terhadap para nelayan. Tapi mereka tidak meninggal, mereka terluka,” tambah Lafeer.

Polisi mengatakan hakim akan melakukan penyelidikan tentang insiden tersebut sebelum mayat tersebut dikirim untuk menjalani pemeriksaan mayat. Ditambahkan polisi, mayat lulusan Universitas Oxford itu ditemukan di sebuah laguna oleh tim pencari Angkatan Laut Sri Lanka. Bagian kakinya penuh luka gigitan pada Jumat (15/9).

Editor Financial Times (FT) Lionel Barber mengucapkan belasungkawanya via akun Twitter-nya ”Paul McClean adalah seorang jurnalis muda yang luar biasa dengan masa depan yang hebat di FT. Kami akan sangat merindukannya. Doa kami ada pada keluarga, teman, dan orang yang dicintai. Kami berhubungan dengan mereka dan melakukan semua yang bisa kita bantu selama masa sulit ini.”(*)

(tia/The guardian/BBC/JPC)