Tsai Ing-wen Presiden Perempuan Pertama Taiwan

Hargo.co.id TAIPEI – Hubungan Tiongkok dan Taiwan segera memasuki babak baru.

Sebab, pemilihan umum (pemilu) memberikan kemenangan kepada pemimpin oposisi Tsai Ing-wen, Sabtu (16/1). Politikus 59 tahun dari Partai Progresif Demokratik (DPP) itu akan menjadi presiden perempuan pertama di Taiwan.

Begitu hasil penghitungan cepat dipublikasikan, Tsai langsung menyampaikan pidato kemenangan. Meski dikenal sebagai tokoh oposisi, dia berjanji tetap mempertahankan hubungan baik dengan Tiongkok.

Selain itu, dia bakal mempertahankan status quo dan tidak bertindak provokatif. Tapi, dia tetap menegaskan bahwa Taiwan memiliki kedaulatan dan kuasa atas wilayah sendiri.

”Kedua pihak punya tanggung jawab masing-masing untuk mencari cara terbaik dalam berinteraksi dengan saling menghormati dan menghargai. Tentu saja tanpa provokasi dan tanpa kejutan,” papar tokoh berkacamata tersebut. Dalam penghitungan cepat kemarin, dia mendapatkan dukungan lebih dari 50 persen dan dipastikan melenggang ke kursi presiden.

Memimpin negara yang sedang menjadi sorotan Tiongkok bukanlah tugas mudah. Apalagi, saat ini ada ratusan rudal Tiongkok yang mengarah ke Taiwan.

Jika Tsai sedikit saja salah langkah, Negeri Panda bisa dengan mudah menghancurkan wilayah tersebut. Tapi, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang selama ini berpihak kepada Taiwan jelas tidak akan tinggal diam.

”Demokrasi, identitas nasional, dan wilayah internasional kami harus tetap dihargai serta dihormati. Provokasi dalam bentuk apa pun yang menyangkut tiga hal itu hanya akan mengguncang stabilitas hubungan lintas Selat Taiwan,” papar Tsai.

Kalimat tersebut jelas ditujukan kepada Tiongkok, yang belakangan melakukan berbagai aksi provokatif. Bukan hanya kepada Taiwan, tapi juga negara tetangga lainnya.

Kemarin para pendukung DPP bersorak girang menyambut kemenangan partainya. ”Kami bukan bagian dari Tiongkok. Seharusnya kami menjadi dua negara yang sejajar. Saya berharap Tsai bisa mengupayakan kemerdekaan Taiwan,” kata David Chen, simpatisan DPP. Sejak 2014, dukungan terhadap DPP memang melonjak. Sebab, popularitas Partai Nasionalis alias Kuomintang (KMT) semakin redup.

Kemarin, selain Tsai, DPP juga menang dalam pemilu legislatif yang dihelat bersamaan. Artinya, posisi presiden terpilih yang juga pengacara tersebut akan semakin kukuh dalam pemerintahan. Apalagi, AS dan sekutunya langsung menyampaikan dukungan terhadap pemerintahan baru. (Reuters/BBC/hep/c11/ami)