Tujuh Siswi SD Diduga Dianiaya Guru

Salah seorang siswi SD yang menjadi korban penganiayaan oleh oknum guru ER mengalami luka lecet dengan warna kemerahan. (Foto: Riyan/Gorontalo Post)

Hargo.co.id Gorontalo – Kekerasan terhadap siswa oleh oknum guru kembali terjadi. Kali ini kejadiannya di lingkungan SDN 1 Muhammadiyah Limboto. Tujuh siswi di sekolah tersebut diduga dianiaya oleh oknum guru berinisial ER. Akibat kejadian itu, oknum guru tersebut harus berurusan dengan pihak Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Gorontalo setelah dilaporkan orang tua mereka.

Informasi yang dirangkum menyebutkan, tindak kekerasan pada tujuh siswi itu terjadi Selasa(21/11). sekitar pukul 11.00 wita. Bermula ketika delapan siswi kelas VI SD tersebut meminta ijin agar bisa membeli makanan di luar sekolah pada saat jam istrahat sedang berlangsung.

Namun, saat ke delapan siswi tersebut kembali ke sekolah. Mereka malah dikunci dari luar kelas, sehingga para siswi itu tidak bisa masuk. Saat dipersilahkan masuk, tujuh dari delapan siswi yang ijin keluar tersebut dimarahi, menerika juga menerima sanksi dihukum dengan cara dipukuli menggunakan kayu ke bagian betis sebanyak tiga kalim serta punggung para siswi satu kali.

Para Orang tua pun kaget, saat melihat kondisi badan anak mereka sudah ada bekas pukulan. Bahkan beberapa diantaranya sampai harus diobati menggunakan obat salep. Orang tua murid yang tak terima perlakuan oknum guru tersebut, langsung mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo, untuk mengadukan perbuatan salah satu oknum guru.

Yunus Paramata (43) salah satu orang tua siswa mengaku, dirinya sangat menyayangkan jika perlakuan oknum guru sebagai tenaga pendidik harus berlebihan seperti itu. Pasalnya, tanpa memikirkan dampak terhadap para siswi, oknum guru tersebut langsung memberikan sanksi hingga menimbulkan bekas di betis para siswa.

“Persoalan ini saya harap tidak akan terjadi lagi selanjutnya, saya harap juga jika oknum guru yang bersangkutan diberikan sanksi sebagaimana mestinya, karena bukan tidak mungkin anak saya bisa saja trauma,”ujarnya.

Saat coba ditemui sejumlah awak media di kediamannya di Kelurahan Bolihuangga Kecamatan Limboto, oknum Guru ER malah berusaha menghindar wartawan. Malah, salah seorang kerabat ER membanting pintu rumah dan melarang wartawan masuk ke dalam rumah.

Sementara ditemui terpisah, Kepala Sekolah SDN 1 Muhammadiyah Limboto, Lilis Bahuwa mengakui, bahwa perbuatan salah satu Guru pengajar disekolah yang dipimpinya itu.

Namun, dirinya memberikan penjelasan bahwa saat itu posisi guru tersebut sedang dalam keadaaan panik dan khawatir jika sesuatu menimpa para siswi tersebut.

“Jadi saking khawatirnya, dirinya terpaksa memberikan sanksi kepada para siswi, namun untuk kejadian kali ini, memang sudah diluar batas, sehingganya saya selaku kepala sekolah meminta maaf kepada para orang tua siswa yang merasa keberatan,”ungkapnya.

Lilis Bahuwa juga menegaskan, jika pihaknya tetap memberikan sanksi kepada Guru yang bersangkutan. “Kami ada atasan yang nantinya akan memberikan sanksi apa terhadap yang bersangkutan, untuk saat ini kami lakukan pendekatan kepada para siswi juga orang tua, dan kami bersedia menanggung biaya pengobatan para siswa,”tutup Lilis. (tr-56/hg)