Umur Terpendek Tetapi Jadi Umat Terbaik

Jassin H. Tuloli *Penulis adalah mantan guru.

Hargo.co.id-Umat Rasulullah saw. umurnya terpendek di antara umat-umat lain. Umat lain umumnya umurnya panjang, ada yang mencapai usia sampai ratusan tahun. Karena umur umatnya Rasulullah terpendek “secara rasional” kesempatan umat beribadah kepada-Nya tentu tidak lama sehingga pahala amal ibadah diperoleh umat pula tidak banyak. Karena itu Rasulullah memotivasi mereka yang umurnya panjang umurnya jangan disia-siakan.

Hendaknya diisi dengan amal yang baik. Dalam salah satu Haditsnya beliau bersabda; “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan hanya sedikit sekali lebih dari itu (Abu Hurairah). Lalu beliau ingatkan; “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”

Karena amat sayangnya Rasulullah kepada umatnya beliau berusaha bagaimana meskipun umurnya pendek tetapi amal ibadahnya dapat imbalan pahala banyak.
Dengan demikian menjadi umat terbaik. Cita-cita luhur Rasulullah ini dapat diketahui dari Hadits diriwayatkan Abdullah bin Umar bagaimana Rasulullah merespon terhadap imbalan pahala Allah berikan kepada umatnya dalam beramal sebagai berikut; “Barangsiapa melakukan kebaikan walaupun hanya seberat biji sawi, maka ia akan melihat balasannya.” (Az-Zalzalah; 7).

Mencermati imbalan pahala kebaikan Allah berikan hanya demikian Rasulullah tidak puas. Karena itu beliau memohon kepada Allah; Wahai Tuhanku, kebaikan ini hanya sedikit bagi umatku, lipatkan lagi kebaikan bagi umatku.” Allah mengabulkan permohonan Rasulullah dengan firman-Nya; “Mereka itu adalah orang-orang yang diberi pahala dua kali lipat disebabkan kesabaran mereka, menolak kejahatan dengan kebaikan, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka.” (Al-Qasas; 54).

Karena hanya dapat imbalan pahala hanya dua kali lipat dalam berbuat kebaikan Rasulullah memohon lagi kepada Allah; “Wahai Tuhanku, hal ini pun tidak mencukupi hak pahala umatku karena umur mereka pendek-pendek.”Allah mengabulkan lagi permohonan Rasulullah dengan melipatgandakan pahala umatnya menjadi sepuluh kali lipat dengan firman-Nya; “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya.

Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan.” (Al-An’am; l60). Rasulullah berpikir berbuat kebaikan hanya mendapat imbalan sepuluh kali lipat masih kurang. Beliau bermohon lagi; “Wahai Allah, ini pun belum mencukupi hak untuk umatku.”Allah kabulkan lagi permohonan beliau dengan firman-Nya; “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (Al-Baqarah; 261). Karena sangat sayang kepada umatnya Rasulullah masih bermohon lagi; Wahai Allah, tambahkanlah lagi bagi pahala umatku.”
Allah mengabulkan lagi permohonan beliau dengan firman-Nya; “Barangsiapa meminjami (menginfakkan hartanya di jalan Allah) dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan gantinya kepadanya dengan banyak.” (Al-Baqarah; 245).

Namun Rasulullah belum puas lagi sehingga masih terus bermohon, agar umatnya memang benar-benar menjadi umat terbaik diantara umat lain dengan permohonan; Ya Allah; tambahkan lagi pahalanya bagi umatku.” Allah perkenankan lagi permohonan Rasulullah saw. dengan firman-Nya; “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahanya tanpa batas.” (Az-Zumar; l0).

Karena dapat imbalan tanpa batas bila bersabar Rasulullah tidak bermohon lagi. Mulianya bersabar ini Allah kemukakan dalam firman-Nya yang lain; Sesungguhnya Allah cinta kepada mereka yang sabar.” Allah menegaskan; “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang ketika ditimpa musibah mereka berkata;“ Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali.” Mereka orang-orang yang mendapat karunia, kehormatan dan rahmat dari Allah dan merekalah orang-orang yang memperoleh petunjuk (hidayah).” (Al-Baqarah; l55 – l57).

Mengenai betapa besarnya imbalan pahala bersabar dalam Hadits Qudsi dikatakan; Apabila telah Kubebankan kemalangan (musibah) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, “Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari qiyamat atau membuka buku catatan amalannya.” (Ad-Dailami dan Turmudzi dari Anas r.a). Menegaskan sifat dan sikap sabar dari umat dalam menerima ujian Allah termasuk dalam beribadah mendapat imbalan pahala terbesar dari Allah. Karena itu di dunia saja mereka yang sabar sukses dalam perjuangan hidupnya.

Contoh, karena kesabarannya Rasulullah saw. sukses mengislamkan dan mengangkat derajat kaum jahiliyah di jazirah Arab sehingga bangsa Arab menjadi bangsa termaju dan tertinggi peradabannya di dunia. Belum lagi di akhirat nanti, seperti yang dikemukakan dalam Hadits Qudsi di atas; yaitu “Allah merasa enggan menegakkan timbangan dari yang sabar pada hari kiamat atau tidak membuka buku catatan amalannya.”

Mungkin maksudnya masuk surga tanpa melalui lagi pemeriksaan pelaksanaan amalannya atau gratis. Hanya Allah saja Yang Maha Tahu akan maksudnya yang sebenarnya.
Dari uraian di atas, benar-benar sangat beruntung mereka yang menjadi umatnya Rasulullah saw. Meskipun usianya terpendek tetapi karena melakukan amal kebajikan apa saja atau menerima cobaan dihadapinya dengan lapang dada (sabar) sehingga mendapat imbalan pahala tak terhingga.

Tentu saja jaminannya dalam beramal ibadah, berbuat kebajikan atau mendapat musibah diterima dengan ikhlas karena Allah. Sebab itu tidaklah keliru bila Rasulullah saw. dari “SERATUS TOKOH Paling Berpengaruh Dalam Sejarah,” Michael H. Hart menempatkan Muhammad Rasulullah saw. pada ranking pertama terbaik.
Karena beliau lebih mengutamakan keselamatan umatnya dari pada dirinya sendiri. Subbahanallah wal Hamdulillah. Beliau benar-benar hamba Allah panutan umat, uswatun khasanah, memiliki akhlak yang mulia, jadi rakhmatal lil ‘alamin.

Semoga uraian ini ada manfaatnya, semua kekeliruan mohon dimaafkan dan hanya kepada Allah jua ampunannya diharapkan. Amien. Wassalam.

*Penulis adalah mantan guru.