Usaha Pariwisata Butuh Dukungan Permodalan

Sadar akan potensi income di sektor pariwisata yang begitu tinggi, perbankan di Gorontalo siap untuk memberikan dukungan permodalan bagi pelaku usaha pariwisata.

GORONTALO, Hargo.co.id – Peran perbankan dalam hal permodalan sangat penting untuk pengembangan usaha, tak terkecuali sektor pariwisata. “Kalau tidak didukung oleh pelaku usaha pariwisata maka pariwisata tidak akan berkembang sesuai harapan.

Makanya, kita perlu mendukung para pelaku usaha pariwisata, khususnya di Gorontalo, untuk terus kembangkan usahanya sesuai kebutuhan wisatawan,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Wisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, Dadang Rizki Ratman, usai menghadiri Gorontalo karnaval karawo 2017, belum lama ini.

Dikatakan Dadang, pada sektor pariwisata sejatinya ada 13 bidang usaha yang didalamnya paling banyak berkontribusi dalam perekonomian. Dadang menyebut bidang usaha pariwisata tersebut diantaranya adalah biro perjalanan, akomodasi, rumah makan dan restoran. “Kami di kementerian terus melakukan promosi.

Tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, meningkatkan investasi dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha pariwisata. Nah, perbankanlah pada saat ini diharapkan bisa mendukung para pelaku usaha pariwisata untuk meningkatkan produknya, layanannya dan juga pengelolaannya,” terang Dadang.

Dadang memberikan apresiasi yang tinggi kepada perbankan di Gorontalo yang bersedia bertemu, berdialog dan berdiskusi terkait dukungan permodalan pada pelaku usaha pariwisata di Gorontalo kedepan.

“Harapan kami di Gorontalo maju pariwisatanya karena ada dukungan pelaku usaha pariwisata. Itu membutuhkan dukungan sekaligus pembiayaan dari perbankan,” tandasnya.

Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Gorontalo, Suryono, mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Gorontalo 35 persen masih didominasi oleh sektor primer, yakni pertanian. Sektor ini, tambah Suryono, sangat rentan jika terjadi banjir ataupun gagal panen.

Nah, Jajaran Dewan Gubernur BI pun telah memberikan arahan kepada seluruh kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia untuk mencari solusi bahwa sektor apakah yang bisa dijadikan sumber pertumbuhan ekonomi yang baru. “Di kawasan timur Indonesia, hampir semua punya potensi alamnya, tapi belum digarap dengan baik, belum dikelola modern.

Kalau sudah dikelola dengan baik, nanti kita tidak bergantung lagi kepada sektor primer. Ciri negara maju rata-rata tidak punya sumber daya alam, contoh Singapura dan Jepang. Nah, sektor pariwisata yang kini sudah menjadi program di level pusat, makanya ini menjadi penting,” urai Suryono.

Soal dukungan perbankan, Suryono memberikan garansi bahwa saat ini perbankan di Gorontalo siap memberikan dukungannya. “Saya kira, untuk sektor konsumsi saja mereka (perbankan,red) berani, apalagi sektor pariwisata? Pariwisata long term-nya (jangka panjang,red) terjaga. Saya kira teman-teman perbankan sudah siap,” pungkas dia.(axl/hg)