Rabu, 15 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



10 Kepala Sekolah SD Akan Dikembalikan Jadi Guru 

Oleh Berita Hargo , dalam Edukasi Indonesia 99 Kata , pada Rabu, 20 November 2019 | 10:05 WITA
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Langkah Pemerintah Kota Gorontalo tetap akan melanjutkan untuk melakukan regrouping atau penggabungan 10 sekolah karena kekurangan murid dan dianggap tidak memenuhi standar pendidikan nasional masih menuai polemik.

Kebijakan tersebut sudah diajukan ke Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendikbud) dan tinggal menunggu persetujuan. Sebanyak 10 sekolah yang diberitakan akan digabung ke sekolah lain. (Lihat grafis)

Sejalan dengan kebijakan itu, polemik berkembang antara lain ada anggapan sebagian kalangan bahwa progres siswa yang terus menurun di 10 sekolah tersebut mengindikasikan daya saing dan kualitas pendidikan di sekolah negeri di Kota Gorontalo kalah dengan sekolah swasta, terlebih yang bercorak agama.

BACA  Curi HP yang Tertinggal di ATM, Seorang IRT Diringkus Polisi

Namun anggapan tersebut dibantah tegas Sekretaris Daerah Kota Gorontalo Ismail Madjid. Menurutnya, jauh panggang dari api, bila mengaitkan persoalan regroping dengan kualitas pendidikan negeri di Kota Gorontalo secara umum.

“Di Kota Gorontalo ada lebih dari 100 SD, yang diregrouping hanya 10. Dan itu juga bukan dihapus tapi digabung ke sekolah lain yang memenuhi standar. Jadi tidak tepat bila ini digeneralisir,” ujar Ismail ketika diwawancarai awak media, Senin (18/11/2019).

Di sekolah negeri, pendidikan agama dan karakter juga menjadi prioritas, tetapi memang di sekolah bercorak agama hal tersebut menjadi ciri khas sekolah.

BACA  Hantam Pohon di Tepi Jalan, Mobil Minibus Alami Kecelakaan Tunggal

“Sebetulnya ini hanya masalah pilihan saja. Sekolah agama bagus, negeri juga bagus. Kalau sekolah negeri di Kota Gorontalo banyak yang tidak kalah kualitas dan prestasinya. Dan itu diakui juga, di sekolah lain banyak sekolah-sekolahnya,” katanya.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Gorontalo menyatakan, dalam setahun, progres siswa SD secara umum di Kota Gorontalo mengalami penurunan sampai sekitar 1.000 siswa.

Namun, fenomena tersebut menurut Ismail tidak ada kaitannya dengan persoalan sekolah. Justru hal tersebut adalah sebuah bukti keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang selama ini diseriusi Pemkot Gorontalo.

BACA  Gubernur Tak Punya Akun FB, Karo Humas: Jika Ada, Itu Akun Palsu

Terpisah, Kabid Pendidikan Dasar, Dikbud Kota Gorontalo Lukman Kasim mengatakan, solusi regoruping sudah menjadi kebijakan tepat. Langkah tersebut menurutnya telah melalui analisis lengkap yang dimulai sejak dua tahun lalu.

“Regrouping ini sudah melalui kajian. Jadi kita sudah usulkan, tinggal menunggu persetujuan,” ujarnya.

Untuk posisi kepala sekolah di 10 sekolah tersebut lanjut Lukman, akan dikembalikan menjadi guru. Namun, Pemkot Gorontalo akan kembali mempromosikan mereka menjadi kepala sekolah mengingat kedepan ini akan banyak kepala sekolah yang akan pensiun.

“Jadi ini sudah kita kaji dengan baik. Yang pasti ini demi kebaikan sekolah, guru dan siswa,” ujar Lukman. (and/hg)


Komentar